Showing posts with label Zamzam AJT. Show all posts
Showing posts with label Zamzam AJT. Show all posts

Thursday, October 11, 2018

Ini definisi 'kafir' dalam Al Quran, agar kita mewaspadai pernyataan ini.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمٰلَهُمْ

Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka berat hati (karhan) kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.

(QS Muhammad:8-9)

Mereka berat hati dengan apa yang Allah turunkan, belum sampai benci, tapi enggan dengan yang Allah turunkan. Jadi keengganan itu sudah ada kekafiran. Kafir itu ketertutupan. Orang kemudian akan menolak hukum ketika dia tidak tahu kebenarannya apa. Karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya, itu 'karhan', berat hati.

- Kang Zam, 2005

Monday, June 18, 2018

Ada orang yang melihat masa lalu dan takdirnya sebagai sebuah keburukan dari Allah sehingga ia senantiasa mengeluhkannya, namun ketika seseorang sudah menyala akal dalamnya (fu’ad), maka ia mulai melihat kebaikan dalam semua takdirnya dan mulai membaca sebuah pengaturan Ilahiyah di dalamnya. Bahwa bencana, kehilangan, kematian, perceraian, perpisahan, kesakitan, semuanya adalah Allah yang mengatur bukan yang lainnya, setan pun tidak bisa berkontribusi dalam takdir. Maka ketika kita memohon ‘ihdinashiraathal mustaqiim’ yang kita minta bukan mengubah takdir-Nya akan tetapi memohon diberi akal batin sehingga bisa membaca format takdir yang sedang Allah tulis dan kita bisa menapakinya sebagai anugerah Allah Ta’ala.

(Adaptasi dan kutipan dari pengajian hikmah Al Quran yang disampaikan Kang Zam, Oktober 2017)

Monday, May 14, 2018

Makrifat kepada Allah itu berjenjang. Mulai dari makrifat tentang af'al (perbuatan-Nya), makrifat sifat-Nya hingga makrifat Dzat-Nya. Untuk sampai ke titik makrifat af'al saja tidak banyak manusia yang bisa mencapainya. Ketika seseorang meyakini bahwa di balik musibah, bencana, kelaparan, gempa, kecelakaan dan tragedi adalah Dia yang berbuat dan tidak tenggelam dalam permainan saling menyalahkan seseorang atau keadaan, saat itulah seseornag sudah mulai bermakrifat bahwa Dia ada di balik segala perbuatan dan fenomena kehidupan.

Sunday, May 13, 2018

Membaca Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir. Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT telah berfirman, ”Barangsiapa yang disibukkan dengan Al Qur’an dan berdzikir kepada-Ku, hingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka aku akan memberikan apa yang terbaik yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan firman Allah atas perkataan makhluk-Nya adalah seperti keutamaan Allah atas semua makhluknya.” (HR. Tirmidzi).

Adalah lebih baik selepas shalat tahajud sahabat-sahabat membaca dan mengkaji Al Quran, itu akan lebih produktif menyalakan hati dibanding dzikir ribuan kali akan tetapi tidak paham maknanya.

(Adaptasi tausiyah Kang Zam dalam Kajian Hikmah Al Quran, 26 November 2017)

Wednesday, May 9, 2018

Takdir yang kita arungi adalah dari tangan Tuhan, kita belajar membaca secara teliti.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala ufuk bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS Fushshilat : 53).”

Jadi baca yang ada di ufuk bumi diri kita masing-masing, baru ke jiwa kita. Orang beriman adalah orang yang mampu membaca tanda-tanda-Nya walaupun dalam kesamaran, walaupun tidak terang benderang.
Mata lahiriah kita ini untuk membaca tanda-tanda yang samar, itulah kemuliaan manusia.

Bumi ini bukan (sekadar) untuk ditinggalkan, ini adalah kitabullah, hamparan (mahdan)-Nya. Tidak juga di dunia ini hanya untuk cari uang dan tidak membaca kehendak Allah yang ada di balik fenomena yang terjadi.

(Dari catatan pengajian hikmah Al Quran, 25 Maret 2018/ 8 Rajab 1439H)

Saturday, March 31, 2018

Kalau kita memberikan kepada Allah semua diri kita, maka Dia akan membalas dengan sebuah kesejukan mata kepada kita.

Jika kita mempersembahkan semua eksistensi dalam diri kita, semua sifat, kelemahan kepada Allah taala, semuanya buat Dia, maka itu yang akan menimbulkan kesejukan mata dalam sholat bagi ummat Muhammad. Kalau memberinya separuh-separuh tidak akan bisa menemukan kesejukan mata itu.

(Kutipan dan Adaptasi dari kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Kang Zamzam Aj Tanuwijaya, 4 Maret 2006)

Wednesday, February 7, 2018

Al Qur'an itu fungsinya untuk mentransformasi diri kita, setiap ayat di dalamnya jika dipelajari betul dengan bimbingan-Nya maka akan dapat mengubah seseorang.

Apa yang dimaksud dengan transformasi? Yaitu menghidupkan diri, jiwanya dibangunkan dari tidur dan lumpuhnyua, lalu diberi kursi, diberi mahkota dan diberi tahta dan kuasa. Itu sebenarnya ide pokoknya.

(Kutipan dari kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Kang Zamzam AJ Tanuwijaya, 18 Agustus 2006)

Saturday, January 13, 2018

Di setiap persoalan yang Allah berikan adalah untuk mencetak akal bawah agar mampu menerima khazanah langit.

(Mursyid Zamzam AJ Tanuwijaya dalam Kajian Hikmah Al Quran, 10 Desember 2017)

Monday, May 29, 2017

Manusia bahkan nabi sekali pun tidak bisa ke surga tanpa rahmat Allah.
Maka kita tidak bisa mengandalkan amal-amal kita untuk menuju-Nya,
adapun kita hanya berjuang untuk memikat hati-Nya sehingga Dia berkenan melimpahkan rahmat-Nya.

- Zamzam AJT

Friday, March 31, 2017

Tugas Terbesar Manusia

Apa tugas terbesar kita sebagai manusia di penggal kehidupan yang singkat di dunia ini?

Bekerja keras untuk memahami Al Quran sedemikian rupa sehingga kita bisa memetakan diri kita ke dalam Al Quran.
Sebab hal yang paling shahih dalam membangun agama (ad diin) adalah ketika semua langkah hidup kita adalah refleksi dari Al Quran, ketika itu terjadi maka kita akan dikatakan telah mengimani Al Quran sepenuhnya. Mengimani kenabian Rasulullah Muhammad SAW pun tidak akan bisa tanpa melampaui pengimanan yang benar terhadap Al Quran, oleh karenanya iman kepada rasul-rasul menduduki peringkat keempat dalam skema rukun iman, setelah beriman kepada Allah, para malaikat dan kitab-kitabNya.

Kalaupun kita sudah mulai belajar Al Quran tapi dalam keseharian sepertinya Al Quran dengan kehidupan kita seperti dua sungai yang berjauhan dan tidak berhubungan maka sebenarnya kita tengah hidup dalam sebuah kerugian yang besar! Ketika kita di satu sisi memandang kehidupan dan tenggelam di dalamnya kemudian menempatkan Al Quran hanya dalam sekat-sekat kehidupan lain yang bersifat ritual semata maka betul-betul ada yang salah di situ. Kita harus SERIUS memohon kepada Allah, inayah-Nya, hidayah-Nya, taufik-Nya agar diberi rezeki oleh Allah Ta'ala berupa kedekatan hati dengan Al Qu'an.

Jika kita semua sudah mencapai titik itu, ketika antara diri dan Al Quran seperti cermin, atau secara efektif kita sudah menjadikan Al Quran sebagai imam besar kita, baru rasanya bermakna hidup ini, dan itulah tugas terbesar kita sebagai manusia

(Adaptasi dari Kajian Hikmah Al Quran yang disampaikan oleh Mursyid Zamzam AJT, 30 Desember 2015)

Sunday, October 18, 2015

Benih pohon tidak akan tumbuh dengan baik jika ditanam di tanah dan lingkungan yang tidak cocok. Demikian pula jiwa, jika pekerjaan buminya tidak cocok maka pertumbuhannya merana. Selamat beribadah Jum'at 16/10/2015.

Thursday, August 8, 2013

Orang-orang beriman itu akan ditimpa oleh bencana, kesempitan dan keguncangan, jadi sebuah kewajiban, hukum yang akan menimpa siapapun yang ditarik kepada Allah Taála.


Tuesday, August 6, 2013


"setiap orang kan sudah punya takdirnya dari kita lahir sudah Allah desain kehidupannya, dan takdir itu sebuah gerinda besar agar semua yang palsu dibuang"

- Zamzam AJT (2006)
Bencana besar seorang manusia adalah memiliki hati yang tidak mengharapkan Allah Taála
(Zamzam AJT, 2006)
Sebuah bala yang menimpa orang beriman itu tidak lebih berat dirasakan dibandingkan keterpisahan dengan Allah taala
(Zamzam AJT, 2006)
"Kalau kita melihat orang-orang yang sampai, seminimalnya yang bertemu diri, ada mursyid, pak omo ada wali-wali yang lain, kita bisa baca sejarah mereka, ngga ada yang ringan kehidupannya, para nabi, para rasul ada ngga yang ngga ada masalah? Ngga ada. 

Kenapa pentingnya kita membaca kisah mereka. Dalam Al Quran makanya dikatakan, sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu al iman apa itu al kitab. Di  depan kita nongkrong Al Quran, tapi apa fungsinya buat diri pribadi? Mesti bisa ada sebuah ikatan yang dalam dengan Al Quran ini, kalau buat saya tanpa Al Quran wuah saya celaka betul! Al Quran itu akan membeberkan, membentangkan sebuah aturan yang akan menimpa para pejalan dengan detil, sementara sebesar apa kita menguasai Al Quran? Mungkin baru titiknya yang kita kuasai, cinta pun mungkin tidak, membaca pun mungkin tidak kepada Al Quran, itu artinya kita siap-siap kesulitan. 

Al Quran itu memberikan sebuah tuntunan, sebuah peta yang besar, bahkan yang rinci tentang apa yang akan menimpa semua pejalan di semua level, baik di level mukmin yang biasa sampai dengan level nabi yang tertinggi, semua dihukumi oleh Al Quran, nabi-nabi itu beriman kepada Al Quran, membaca Al Quran makanya mereka selamat. 

(Zamzam AJT, 7 Januari 2006)
“Allah selalu menarik para nabi-Nya, para wali-Nya dalam kondisi yang terlemahnya. Jadi kalau kita masih merasa digjaya, tidak ada masalah, merasa gagah, pada prinsipnya kita belum siap berjalan, sampai kita terkapar mohon pertolongan kepada Allah Ta’ala” (Zamzam AJT dalam kajian hikmah Nabi Luth as)
“Orang yang diperkenalkan dengan kelemahan dirinya tanda Allah akan menuntunnya. Kalau kita masih istighfar yang kosong dan hampa artinya kita masih dalam status belum mengenal kelemahan diri, kalau kita belum mengenal kelemahan diri kita belum fakir, kalau belum fakir maka tidak akan berjalan.” (Zamzam AJT dalam Kajian HAQ QS Al Baqarah, 2004)