Showing posts with label Musa as. Show all posts
Showing posts with label Musa as. Show all posts

Friday, May 4, 2018

Setelah Musa as berjalan dan mengalami sekian pembelajaran dari Khidir as, berkatalah Musa as, "Aku ingin engkau berwasiat kepadaku dengan sebuah wasiat yang dengannya Allah menjadikanku bermanfaat."

Maka Khidir pun berkata, "Wahai pencari ilmu, pendengar itu lebih cepat jenuh daripada pemberi materi. Karenanya janganlah engkau menjadikan anggota majelismu jenuh jika engkau berbicara dengan mereka. Ketahuilah bahwa hatimu itu merupakan bejana, maka pikirkanlah apa yang hendak engkau isikan ke dalamnya. Perhatikanlah duniamu dan letakkan ia di belakangmu, karena sesungguhnya dunia itu bukan tempat yang abadi bagimu, dan kewajibanmu tidak lain hanya menyampaikan kepada umat manusia dan menjadikan dunia ini sebagai sarana pembekalan diri untuk menghadapi kehidupan akhirat kelak. Dan teguhkanlah dirimu untuk bersabar dalam menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

Hai Musa, bersungguh-sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu jika engkau benar-benar mengharapkannya, dan janganlah engkau banyak bicara dalam menuntut ilmu, karena yang demikian itu akan mencoreng kredibilitas para ulama dan menampakkan keburukan orang-orang bodoh. Tetapi engkau harus benar-benar berhemat, karena yang demikian itu lebih baik dan lebih aman untuk menjauhi orang-orang bodoh. Jika engkau dicaci oleh seorang yang bodoh, maka tetaplah diam seraya bersabar dan hindarilah ia, karena jika tidak kebodohannya itu akan menular kepadamu dan bahkan lebih parah.

Hai putera Imran, tidaklah engkau diberi ilmu melainkan hanya sedikit sekali.

Hai putera Imran, janganlah engkau membuka pintu jika engkau tidak tahu cara menutupnya, dan jangan pula menutup pintu jika engkau tidak tahu cara membukanya.

Hai Musa, barangsiapa yang tidak terlepas dari jeratan dunia dan keinginannya terperangkap dalam urusan kehidupan dunia bahkan menuduh ketetapan Allah yang ada padanya, maka bagaimana mungkin ia akan dapat menjadi seorang yang zuhud? Akankah orang yang dikuasai nafsunya akan dapat melepaskan diri dari kekangan hawa nafsunya? Dan akankah belajar itu bermanfaat baginya jika kebodohan telah menyelimutinya?

Hai Musa, belajarlah ilmu untuk kemudian engkau amalkan, dan jangan engkau mempelajarinya jika hanya untuk engkau perbincangkan, sehingga ilmu itu menjadi pelita bagimu dan cahaya bagi orang lain.

Hai Musa bin Imran, jadikanlah zuhud dan taqwa sebagai pakaianmu, ilmu dan zikir sebagai ucapanmu. Perbanyaklah amal kebaikan, karena sesungguhnya engkau pasti akan terkena berbagai keburukan, jadikanlah hatimu takut kepada Tuhan, karena yang demikian itu menjadikan Tuhanmu ridha. Dan berbuatlah kebaikan, karena engkau pasti akan berbuat keburukan. Sesungguhnya aku telah memberikan pelajaran kepadamu jika engkau mampu menghafalnya."

Lebih lannjut, Rasulullah Saw bercerita, kemudian Khidir pun berpaling dan pergi kemudian Musa as dalam keadaan sendiri, sedih dan menangis.

(Sumber: Ibnu Katsir, "Kisah Para Nabi")

Monday, November 27, 2017

Petuah Nabi Khidir kepada Nabi Musa

Setelah Nabi Khidir as selesai memberikan pelajaran kepada Nabi Musa as, sesaat sebelum pergi Nabi Musa a.s. berkata kepada Khidir, "Berilah aku nasehat!" Maka, Khidir pun memberi nasehat:
"Wahai Musa, jadilah orang yang banyak senyum dan jangan jadi orang yang banyak marah."
"Wahai Musa, Jadilah orang yang banyak manfaat bagi sesama dan jangan jadi orang yang banyak mudaratnya.
"Jauhilah sikap keras hati dalam bermusyawarah."
"Jangan berjalan tanpa keperluan."
"Jangan tertawa tanpa sesuatu yang benar-benar mengagumkan.
Jangan memperolok-olok orang yang bersalah atas kesalahan mereka, tapi menangislah atas kesalahan-kesalahan kamu sendiri, wahai putra Imran."
Dikutip dari Kitab At-Taubah, Ihya Ulumuddin, karya Imam Ghazali.

Monday, August 14, 2017

Kesabaran Musa as

Musa as adalah salah seorang nabi yang menanggung derita yang dalam akibat perlakuan kaumnya namun ia tetap bersabar demi keridhoan Allah Ta'ala. Kesabaran beliau ini pernah dipuji oleh Rasulullah saw dalam hadits yang dikisahkan oleh Abdullah bin Umar:

"Suatu hari Rasulullah Muhammad (saw) tengah membagikan sesuatu (di antara para sahabat). Lalu seorang laki-laki berkata: "Pembagian ini tidak dilakukan (dengan adil) berdasarkan keadilan Allah."
Aku pun menuju Rasulullah dan memberi tahu tentang perkataan itu. Kemudian Rasulullah menjadi demikian marah hingga aku lihat tanda-tanda kemarahan yang sangat nyata di wajahnya. Kemudian Rasulullah bersabda, "Semoga Allah mengaruniakan rahmat atas Musa,  ia diperlakukan lebih buruk dari ini akan tetapi ia tetap bertahan dalam kesabaran."
(Shahih Bukhari)

Rasulullah saw bersabda, "Nabi Musa adalah seorang yang pemalu dan biasa menutup seluruh tubuhnya karena rasa malunya itu. Tapi salah satu Bani Israil menyakitinya dengan berkata, "Ia menutup badannya seperti itu untuk menutupi cacat di kulitnya, entah oleh penyakit lepra atau hernia di bagian kemaluan, atau penyakit lainnya."
(HR Abu Hurairah)

Thursday, July 6, 2017

Keutamaan Kaum Muhammad Yang Luar Biasa Bahkan Musa as Pun Memintanya

Musa as. berdoa, "Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku sebagian derajat Muhammad Saw. dan umatnya."
Maka Allah Ta'ala berfirman, "Wahai Musa, Sesungguhnya kamu tidak sanggup pada yang demikian. Tetapi Aku akan memperlihatkan kepadamu satu tingkat dari beberapa tingkatnya yang mulia dan benar. Aku melebihkannya dengan tingkatan itu atasmu dan di atas semua makhluk-Ku."

Kemudian dibukakanlah untuk Musa as. dari alam malakut langit. Maka Musa melihat kepada satu tingkat, dimana satu tingkat itu hampir membinasakan dirinya dari cahaya yang memancar darinya. Dan didekatkannya ia kepada Allah Ta'ala. Maka Musa as. bertanya, "Wahai Tuhan, dengan apa kiranya Engkau sampaikan Muhammad pada derajat kemuliaan ini?"

Allah Ta'ala berfirman, "Dengan budi pekerti yang Aku khususkan kepadanya diantara mereka. Yaitu mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri. Hai Musa, tidak ada seorang yang datang kepada-Ku, dimana ia telah berbuat seperti itu pada satu waktu dari umurnya, kecuali Aku malu untuk menghitung amalnya. Maka Aku tempatkan ia di surga-Ku, dimana saja ia kehendaki."

(Dikisahkan oleh Sahal bin Abdullah At Tusturi, tertuang dalam Kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam Al Ghazali)