Showing posts with label Al Ghazali. Show all posts
Showing posts with label Al Ghazali. Show all posts

Thursday, November 11, 2021

 Seseorang bertamu kepada Rasulullah saw dan ia tidak mendapatkan dari keluarganya Rasulullah sesuatu apapun. Maka masuklah seorang lelaki dari orang Anshar ke tempat Rasulullah saw dan mengajak tamu itu ke rumahnya. Kemudian ia meletakkan makanan di depannya dan menyuruh istrinya memadamkan lampu. Sang sahabat Anshar itu mengulurkan tangannya ke arah makanan seakan-akan ia ikut mengambil  makan padahal ia tidak makan sehingga tamunyalah yang memakan makanan itu.


Di pagi hari Rasulullah saw bersabda kepada laki-laki golongan Anshar itu,

"Sungguh Allah takjub kepada perbuatanmu tadi malam kepada tamumu."

Kemudian turunlah ayat,

"Dan mereka mengutamakan (temannya) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (QS Al Hasyr:9)


- Dikutip dari terjemahan Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali

Tuesday, March 30, 2021

 Kalau seseorang kelihatan keras kepala, sombong dan bangga diri. Maka ia disuruh meminta-minta bantuan. Karena sesungguhnya semua sifat itu tidak akan hancur selain dengan sifat hina diri. Dan tiada kehinaan yang lebih besar dari kehinaan meminta-minta. Maka ia dipaksakan melakukan hal yang demikan beberapa lamanya. Sehingga hancurlah sifat kesombongan dan bangga dirinya.

- Al Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin

Saturday, January 20, 2018

"Sekokoh-kokoh tali iman, adalah cinta kepada Allah dan benci karena Allah."
(HR Ahmad)
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Musa as. "Apakah engkau pernah mengerjakan amal perbuatan yang hanya semata-mata untuk-Ku?"
Musa menjawab, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku mengerjakan shalat, puasa, sedekah, zakat hanya semata untuk-Mu."
Allah berfirman, "Sesungguhnya shalat itu untukmuy sebagai tanda bukti, puasa sebagai bentengmu, sedekah sebagai naunganmu dan zakat itu sebagai cahaya untukmu. Maka amal perbuatan manakah yang untuk-Ku?"
Allah kemudian kembali berfirman,"Apakah engkau mencintai seorang kekasih hanya semata-mata untuk-Ku. Dan apakah engkau membenci musuh hanya semata-mata untuk-Ku?"
Maka pahamlah Musa bahwa amal perbuatan yang paling utama adalah cinta pada jalan Allah dan membenci pada jalan Allah.
(Dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali)

Thursday, September 7, 2017

Dawud as dalam munajatnya berkata,
"Wahai Tuhanku, siapakah orang yang tinggal dalam rumahMu dan siapakah orang yang Kau terima shalatnya?"

Lalu Allah mewahyukan kepadanya,
"Wahai Dawud, yang tinggal di rumahKu dan yang Aku terima shalatnya hanyalah orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu.
Ia lalui siangnya dengan ingat kepadaKu dan ia menahan jiwanya dari syahwat karena Aku.
Ia memberi makan kepada orang yang lapar, ia melindungi orang asing yang sedang dalam perjalanan, dan menyayangi orang yang tertimpa bencana.
Itulah orang yang cahayanya cemerlang di langit seperti matahari.
Jika ia berdoa kepadaKu maka Aku perkenankan. Jika ia memohon kepadaKu maka Aku memberinya.
Aku jadikan di dalam kebodohan sebuah kesantunan baginya, dalam kelalaian sebuah keingatan, dan dalam kegelapan sebuah cahaya.
Perumpamaannya di kalangan manusia adalah seperti Firdaus pada setinggi-tinggi surga yang sungai-sungainya tidak kering dan buah-buahannya tidak berubah."

(Riwayat dari Ibnu Abbas ra dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali)

Friday, August 18, 2017

Ukhuwah itu bukan terletak pada indahnya pertemuan dan manisnya kata di lidah, melainkan ingatan seseorang di dalam doa untuk sahabatnya. - Imam Ghazali -

Monday, May 8, 2017

Hadits Dalam Kitab Ihya Ulumuddin

Tanya:
Kenapa kitab Ihya Ulumuddin tetap bertahan, walaupun diisukan banyak hadist maudhu di dalamnya?

Jawab:
Ihya Ulumuddin ditulis oleh Imam al Ghazali. Imam al ghazali memperoleh ijazah dari Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, lalu Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, dia telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiyah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah.
Dengan begitu, Imam al Ghazali sangat memahami kadiah-kaidah ilmiah dalam ilmu mutsalah hadist, disiplin keilmuan tradisi islam yang membahas perihal kajian sanad dan matan hadist. Ini bisa terlihat dari bagaimana al Ghazali menulis rujukan Quran dan hadistnya di kitab Ihya.
Di setiap bab Ihya yang beliau tulis, Imam Ghazali selalu memulainya dgn ayat-ayat quran sebagai rujukan utamanya. Kemudian beliau iringi dengan rujukan hadist-hadist sahih yg mutawatir. Kemudian hadis sahih yg ahad, kemudian yg hasan jika ada, kmudian dhaif jika ada, kmudian yg ikhtilaf kedhaifannya --terjadi perbedaan antar ulama hadist soal kualitas sanadnya-- jika ada, kemudian yg ikhtilaf maudhu’nya jika ada, kemudian yg semata-mata maudhu.
Namun perlu diperhatikan dalam ilmu mutsalah hadist, jika ada hadist yang dhaif atau maudhu secara sanad, namun matannya bisa dibuktikan selaras dengan quran dan hadist yg lebih shahih sanadnya, maka kualitas hadist tersebut naik menjadi hasan li ghairihi. Itulah mengapa al Ghazali menulis hadist--hadist rujukannya dengan urutan seperti itu di kitab Ihya Ulumuddin.
Kitab Ihya Ulumuddin adalah kitab mahakarya dalam tradisi islam yang mensinergikan dan mendamaikan antara keilmuan fiqh dan keilmuan tasawuf. Sehingga untuk rujukan fiqh, pembaca bisa merujuk pada kutipan quran dan hadist shahih yang dikutip Imam al Ghazali. Sedangkan untuk fadhilah amal --yang umumnya melekat ke tradisi tasawuf--, para ulama mutsalah hadist sepakat bahwa hadist-hadist yang sanadnya kurang shahih bisa di gunakan untuk memahami fadhilah saja, tidak bisa dijadikan rujukan syariah. Rujukan syariah tetap merujuk pada quran dan hadist yang shahih.

(Dari wall FB Rezha Rohadi)

Wednesday, December 7, 2016

Tauhid yaitu seseorang melihat segala sesuatu itu dari Dzat Yang membuat sebab-sebab, dan ia tidak menoleh kepada perantara-perantara namun ia melihat perantara-perantara itu ditundukkan.
Imam Al Ghazali, Ihya 'Ulumuddin

Friday, December 2, 2016

Secara global semulia-mulia ilmu dan tujuannya adalah mengenal Allah 'Azza wa Jalla.
Dan ia tidak akan sampai kepada pengenalan yang benar kepada Allah 'Azza wa Jalla kecuali setelah usaha keras yang melelahkan dan keberanian yang sempurna untuk berbeda dengan orang-orang yang umum dan khusus dalam melawan ketaklidan mereka karena semata-mata syahwat mereka.

- Imam Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin

Thursday, August 25, 2016

Kekayaan Dunia Adalah Untuk Mencari Ilmu

Sesungguhnya harta dan apa yang ada di dunia adalah pelayan badah.
Sedangkan badan adalah kendaraan jiwa.
Adapun yang dilayani adalah ilmu, karena dengan ilmulah diraih kemuliaan jiwa.

- Ihya Ulumuddin, Al Ghazali