Mengabarkan kepadaku Abdullah ibnu Umar bin Rabi’ah, bahwasannya Haritsah bin Nu’man
berkata: Aku berjalan melewati Rasulullah SAW dan bersamanya Jibril sedang duduk pada
sebuah bangku, maka aku mengucapkan salam kepadanya. Maka setelah aku kembali,
berkata Rasulullah, “Apakah tadi engkau melihat siapa yang bersamaku?” Aku menjawab, “Ya”. Rasulullah berkata, “Bahwa sesungguhnya dia adalah Jibril, dan tadi dia menjawab
salam kepadamu.”
—H.R. Imam Ahmad dan Imam Thabrani
Showing posts with label Ru'yaa. Show all posts
Showing posts with label Ru'yaa. Show all posts
Sunday, October 18, 2015
Telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin Sa'id, Telah menceritakan kepada kami 'Affan
bin Muslim telah menceritakan kepada kami Shakhr bin Juwairiyah telah menceritakan
kepada kami Nafi' bahwasanya Ibnu Umar mengatakan: Dahulu sahabat-sahabat Rasulullah
SAW jika mereka melihat ru’yaa (fana), mereka suka sekali mengisahkan penglihatan ru’yah
itu kepada Rasulullah SAW sehingga Rasulullah SAW menakwilkannya. Ketika itu umurku
masih belia, sedang aku sering tinggal di masjid karena aku belum menikah. Maka aku berkata kepada diriku sendiri; “Kalaulah dalam dirimu ada kebaikan, niscaya engkau melihat
sebagaimana yang dialami orang-orang.”
Suatu malam ketika aku berbaring, aku memanjatkan doa; “Ya Allah, jika Engkau
mengetahui pada diriku terdapat kebaikan, maka perlihatkanlah kepadaku sebuah ru’yaa.”
Maka pada saat aku mengalaminya, tiba-tiba ada dua malaikat mendatangiku yang di
tangan masing-masing memegang palu besi. Keduanya membawaku ke jahannam, sedang
aku diapit keduanya tiada henti memanjatkan doa; 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
jahannam'. Kemudian aku diperlihatkan seorang malaikat yang menemuiku dengan palu
besi seraya berujar; 'Tidak usah khawatir, sebaik-baik manusia adalah engkau, jika engkau
memperbanyak shalat.' Mereka kemudian membawaku hingga menghentikanku di tepi
jahannam. Ternyata jahannam tergulung seperti gulungan sumur, ia mempunyai emperan
sebagaimana emperan sumur, yang diantara kedua emperannya terdapat malaikat yang di
tangannya membawa palu besi. Dan kulihat disana ada beberapa orang bergelantungan di
rantai-rantai, kepala mereka terjungkir dibawah mereka, aku tahu disana ada beberapa
pemuka Quraisy. Kemudian mereka membawaku pergi dari sisi kanan.
Maka aku ceritakan penglihatan itu kepada Hafshah (istri Rasulullah, yang merupakan
saudari Ibnu Umar), kemudian Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah SAW, maka
Rasulullah SAW bersabda: "Abdullah adalah seorang hamba yang shalih, asalkan shalat
malam." Maka semenjak itu Abdullah Ibnu Umar memperbanyak shalat.
—H.R. Bukhari
—H.R. Bukhari
Menceritakan kepada kami Samurah bin Jundab r.a. bahwa Rasulullah SAW seringkali
mengatakan kepada para sahabatnya: "Apakah ada diantara kalian yang melihat ru’yaa?"
Maka biasanya ada diantara mereka yang menceritakan kisahnya. Suatu saat ketika subuh,
seorang sahabat berkata: "Semalaman aku didatangi… (dst)”.
—H.R. Bukhari
—H.R. Bukhari
Rasulullah SAW bersabda: “Ru’yaa terikat pada kaki burung (melayang) selama tidak
dikabarkan (maknanya); apabila dibuka maknanya maka akan menetap (maknanya tidak
bisa lagi berubah)”.
Berkata Abi Razin, saya menduga Beliau SAW juga berkata: “Jangan menceritakan ru’yaa
kecuali kepada orang kepercayaan atau yang memiliki penglihatan (dzu ra’yin)”.
—H.R. Abu Dawud
—H.R. Abu Dawud
Dari Ubadah bin Shamit r.a. bahwasanya dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW
mengenai ayat: “Bagi mereka busyran di dalam kehidupan di dunia (Q.S. Yunus [10]: 64)?".
Rasulullah SAW menjawab: "Bahwa itu adalah ar-ru'yaa ash-shalihah, dimana seorang
mukmin melihatnya atau Allah memperlihatkan kepadanya."
Berkata Harbi dalam riwayatnya, dari Yahya, bahwa Rasulullah SAW telah mengabarkan
bahwa sesungguhnya ru’yaa shalihah adalah busyran dari Allah; barangsiapa berdusta dalam
penglihatan maka ia telah berdusta atas keshalihannya. Bahwa ru’yaa shalihah adalah
busyran dari Allah untuk hambanya yang mukmin; maka berpura-pura seakan Allah
mengabarkan suatu hal kepadanya padahal bukan demikian, maka itu adalah dusta
terhadap Allah Azza wa Jalla. Maka dusta atas Allah niscaya mendatangkan hukuman keras.
—H.R. Al-Kalabadzi
—H.R. Al-Kalabadzi
Subscribe to:
Posts (Atom)