Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Friday, March 23, 2018

"Wahai manusia, pikirkanlah tentang Tuhanmu, dan saling berwasiatlah kamu dengan akal, maka kamu akan mengetahui sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan apa yang kamu dilarang daripadanya. Dan ketahuilah bahwasanya akal itu menolong kamu di sisi Tuhanmu.
Dan ketahuilah bahwa orang yang berakal adalah orang yang taat kepada Allah meskipun kamu hina dalam pandangan, rendah derajat, rendah kedudukan dan buruk tampang.
Dan sesungguhnya orang yang bodoh adalah orang yang durhaka kepada Allah Ta'ala meskipun tampan dalam pandangan, besar derajat, mulia kedudukan, elok tampang dan fasih dalam berbicara.
Kera dan babi itu lebih berakal di sisi Allah Ta'ala daripada orang yang tertipu dengan penghormatan penghuni dunia kepadamu, karena sesungguhnya mereka termasuk golongan orang-orang yang merugi."

(HR Abu Hurairah)

Sunday, January 21, 2018

"Belajarlah ilmu karena sesungguhnya belajarnya karena Allah itu adalah taqwa,
menuntutnya adalah ibadah,
mempelajarinya adalah tasbih,
membahasnya adalah jihad,
mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya adalah sedekah,
memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri (kepada Allah).

Ilmu adalah penghibur di kala sendiri,
teman di kala sepi,
penunjuk kepada agama,
pembuat sabar di kala suka dan duka,
penasihat di kala ada teman-teman,
kerabat di antara orang yang asing
dan sebagai menara yang menuntun ke surga."

- Mu'adz bin Jabal

Wednesday, February 1, 2017

Setiap manusia menciptakan persona dirinya melalui waham, yang hanya terjadi di dalam wilayah imajinasinya.
Adapun orang-orang yang berilmu menciptakan hal tersebut melalui 'himmah' (kehendak Yang Agung) yang kemudian terpancar keluar.
- Ibnu 'Arabi dalam Fusus al Hikam
Pengetahuan yang hakiki baru diraih manakala Dia dikenali.
Sayangnya kebanyakan orang terjerat meraih ilmu hanya untuk memenuhi status sosial semata, bagaimanapun tarikan untuk menjalani kehidupan yang nyaman tampaknya jauh lebih kuat dibandingkan bersusah payah untuk mencari ilmu yang haq.
(Terjemahan dan adaptasi dari Imaginal Worlds: Ibn al- 'Arabi adn the Problem of Religious Diversity karya William C. Chittick)

Friday, December 2, 2016

Secara global semulia-mulia ilmu dan tujuannya adalah mengenal Allah 'Azza wa Jalla.
Dan ia tidak akan sampai kepada pengenalan yang benar kepada Allah 'Azza wa Jalla kecuali setelah usaha keras yang melelahkan dan keberanian yang sempurna untuk berbeda dengan orang-orang yang umum dan khusus dalam melawan ketaklidan mereka karena semata-mata syahwat mereka.

- Imam Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin

Thursday, August 25, 2016

Kekayaan Dunia Adalah Untuk Mencari Ilmu

Sesungguhnya harta dan apa yang ada di dunia adalah pelayan badah.
Sedangkan badan adalah kendaraan jiwa.
Adapun yang dilayani adalah ilmu, karena dengan ilmulah diraih kemuliaan jiwa.

- Ihya Ulumuddin, Al Ghazali

Sunday, October 18, 2015

:
"Ilmu itu ada dua: ilmu di qalb, maka itulah ilmu yang bermanfaat; dan ilmu yang di atas lisan, maka baginya Allah akan meminta hujjah dari Bani Adam".
-- H.R. Ibnu Abi Syuaibah, As-Sama'ani, Abul-Qasim Al-Busyruni, Asy-Syaukani, Ibnu Abdul Barr Al-Qurtubi.

Saturday, August 10, 2013

Bila kecerdasanmu sudah keluar dari hutan khayalan yang lebat, engkau akan acuh terhadap segala sesuatu yang sudah didengar dan segala sesuatu yang akan didengar.

- Sloka 2.52

Tuesday, August 6, 2013

Penjelasan sloka 2.8.

Tidaklah menjadi soal apakah seseorang menjadi vipra (sarjana yang berpengetahuan tentang kebijaksanaan Veda) atau dilahirkan dalam keluarga yang lebih rendah atau berada pada tingkat melepaskan ikatan terhadap hal-hal duniawi dalam hidup - kalau ia menguasai pengetahuan tentang Krsna, ia menjadi guru kerohanian yang sempurna dan dapat dipercaya. (Caitanya-caritamrta. Madhya. 8.128). Tanpa menguasai ilmu pengetahuan kesadaran Krsna, tidak seorang pun dapat menjadi guru kerohanian yang dapat dipercaya.

Juga dinyatakan dalam kesusasteraan Veda:
"Seorang brahmana, ahli dalam segala bidang pengetahuan Veda, tidak menjadi syarat untuk menjadi guru kerohanian kalau ia tidak menjadi Vaisnava atau ahli di bidang ilmu pengetahuan kesadaran Krsna. Tetapi orang yang dilahirkan dalam keluarga dari golongan rendah dapat menjadi seorang guru kerohanian kalau ia menjadi Vaisnava atau sadar akan Krsna."

Masalah-masalah kehidupan material - kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian - tidak dapat dilawan dengan cara mengumpulkan kekayaan dan perkembangan ekonomi. Mereka hanya dapat mencapai kebahagiaan sejati kalau mereka berkonsultasi dengan Krsna atau melalui utusan Krsna yang dapat dipercaya, yaitu orang yang sadar akan Krsna.

Wednesday, July 25, 2012

Asma Allah Al 'Alim

Al Ghazali. Al Asma’ Al Husna – Rahasia Nama-nama Indah Allah. Penerbit Mizan, Cetakan VII, April 2000. Al ‘Alim. (Yang Maha Mengetahui). Kesempurnaannya berupa mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan – yang nyata dan yang gaib, yang kecil dan yang besar, yang pertama dan yang terakhir, permulaan dan hasilnya – dan berkenaan dengan banyaknya obyek-obyek yang diketahui, ini akan tidak terbatas. Maka pengetahuan itu sendiri akan menjadi yang paling sempurna, berkenaan dengan kejelasannya dan penyingkapannya, sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi penglihatan atau penyingkapan jelas yang dapat ditangkap. Akhirnya, pengetahuan bukanlah berasal dari hal-hal yang diketahui, namun hal-hal yang diketahui berasal dari pengetahuan. Nasihat : Hampir bukan rahasia kalau manusia memiliki sifat ‘yang mengetahui’, namun pengetahuan manusia berbeda dengan pengetahuan Allah Ta’ala dalam tiga hal yang khas. Pertama, mengenai banyaknya hal-hal yang diketahui; meskipun hal-hal yang diketahui manusia banyak namun terbatas pada hatinya, dan mana mungkin hal-hal yang diketahui manusia itu dapat disamakan dengan yang tidak terbatas? Kedua, penyingkapan manusia, walaupun jelas, tidak mencapai tujuan, yang di luar tujuan ini tidak mungkin lagi ada tujuan lain. Namun penglihatannya akan hal-hal adalah seperti melihat hal-hal di balik tabir yang tipis. Hendaknya Anda jangan menyangkal derajat-derajat penyingkapan, karena penglihatan batiniah adalah seperti penglihatan lahiriah, maka ada perbedaan antara apa yang jelas pada waktu sore dan apa yang menjadi jelas pada waktu pagi. Ketiga, bahwa pengetahuan Allah SWT akan segala sesuatu bukanlah berasal dari segala sesuatu itu, namun segala sesuatu itu berasal dari pengetahuan Allah Ta’ala, sedangkan pengetahuan manusia akan hal-hal tergantung pada adanya hal-hal dan hasil dari hal-hal. Nah, jika Anda kesulitan memahami perbedaan ini, maka bandingkan pengetahuan orang yang belajar catur dengan pengetahuan orang yang menemukan catur. Karena pengetahuan orang yang menemukan catur itu sendiri adalah sebab bagi adanya catur, sedangkan fakta bahwa catur ada adalah sebab bagi adanya pengetahuan orang yang mempelajari catur. Pengetahuan orang yang menciptakan catur mendahului catur, sedangkan pengetahuan orang yang mempelajari catur terjadi setelah adanya catur. Begitu pula, pengetahuan Allah SWT akan segala sesuatu mendahului adanya segala sesuatu itu, dan menyebabkan adanya segala sesuatu itu, sedangkan pengetahuan kita tidaklah seperti itu. Perbedaan manusia terjadi berkat pengetahuan, karena pengetahuan merupakan salah satu sifat Allah SWT. Namun, pengetahun itu lebih mulia, yang objek-objeknya lebih mulia, dan objek pengetahuan yang paling mulia adalah Allah Ta’ala. Begitu pula, mengetahui Allah Ta’ala adalah pengetahuan yang paling bermanfaat, sedangkan pengetahuan tentang segala sesuatu lainnya mulia karena ia adalah pengetahuan tentang tindakan-tindakan Allah SWT, atau pengetahuan tentang cara yang membuat manusia lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan memudahkan dalam mendekat kepada-Nya. Semua pengetahuan yang selain pengetahuan itu tidak dapat mengklaim bahwa dirinya mulia dan banyak berjasa.[]