Showing posts with label Shuayb Eric Winkel. Show all posts
Showing posts with label Shuayb Eric Winkel. Show all posts

Sunday, December 11, 2022

 When doing translation in the first time I could spend a month on one paragraph of mystery of purity (thaharah). But once I understood that one paragraph, the rest of the chapter began to explain themselves. So I learn very quickly to halt and learn, to stay where I am and try to understand what’s happening in the sentences. So I stay on that, I didn’t jumped over. I didn’t do “dot…dot…dot…” in part where I didn’t fill in. I waited and I waited and I waited until I understand what was being given.


- Shu'ayb Eric Winkel on how he translated Futuhat al-Makkiyya

Friday, December 2, 2022

 The more I study Futuhat, the more Al Quran becomes a living text to me.


- Shu'ayb Eric Winkel

Friday, November 18, 2022

 Ibn Arabi say, when you are in love you are not go to the middle of the ocean and drawn. No. You have to go to the shore and help people.


- Shu'ayb Eric Winkel

 Ibnu Arabi mengatakan tentang ada sesuatu yang telah ditanamkan oleh Allah di dalam diri setiap manusia. Sesuatu yang manusia cari, ada yang dengan jalan bertapa di puncak gunung, ada yang dengan menyepi di tengah hutan belantara, ada yang merasa asing di tengah keramaian, ada yang menenggelamkan diri dalam sekian banyak ibadah di rumahnya.

Ibnu Arabi berkata, “Itu karena Allah telah memanggilmu untuk menyendiri dengan Yang Maha Berdiri Sendiri.” Yaitu ketika seseorang mulai dipanggil untuk menyendiri dan tidak terpalingkan oleh semua godaan dunia. Dan ketika seseorang mulai dibuat berjarak dengan dunia serta mulai berpaling kepada Sumber Cahaya. Itulah saat ketika ia mulai diseru untuk apa dirinya diciptakan.
(Adaptasi dari kuliah umum Shu'ayb Eric Winkel di FSRD ITB, 7 November 2022)

Shakespeare berkata, “Kita semua adalah aktor yang memiliki peran masing-masing.” Tak ada yang namanya peran baik atau buruk. Semuanya memiliki peran khusus. Karena tidak semua bisa jadi raja dalam hidup, tidak bisa semuanya kaya atau semuanya miskin, atau semuanya berwarna biru atau semua berwarna kuning. Kita memang diciptakan berbeda dan itu yang membuat tampilan di layar menjadi indah.

Dan layar dibentangkan bukanlah untuk kepentingan bayangan tapi bagi yang melihat bayangan itu. Adalah cahaya yang melihat kepada layar itu dan menikmati permainannya karena ia menampilkan sebuah permainan yang indah. Di sana setiap aspek dari Ketuhanan tertampilkan, kematian-hidup, kesempitan-kelapangan, kepemurahan-kekikiran. Semua memainkan perannya masing-masing, karenanya itu adalah sebuah pertunjukan yang sempurna karena ia menampilkan apa yang Sang Pencipta ingin tampilkan.

Kita tengah berada di tengah permainan ini dan semestinya kita berbahagia. Tidak pada tempatnya bagi kita untuk berkata, “Aku ingin memainkan peran itu, tidak mau peran yang ini.” Kita harus melihat bahwa peran ini adalah peran yang Sang Pemberi Peran berikan kepada diri dimana ia ridho atasnya. Dengan rahmat-Nya setiap orang bisa menemukan peran itu sebelum kematian menjemputnya. Itu adalah saat dimana ia telah mati sebelum mati.

(Dikutip dari kuliah umum Shu'ayb Eric Winkel di FSRD ITB, 7 November 2022)

 Para pencari Tuhan tidak akan merasa nyaman di dunia ini. Ada suatu kegelisahan yang membuat mereka senantiasa mencari dan berjalan. Ada sesuatu yang ingin mereka temukan.


Kegelisahan itu ada karena Tuhan telah memanggilnya. Agar mereka tidak terlalaikan oleh dunia ini. Dan pada akhirnya, mereka akan menemukan apa yang selama ini mereka cari.

(Adaptasi dari kuliah umum Shu'ayb Eric Winkel di FSRD ITB, 7 November 2022)

 When (we sin), we are lost in life, we got separated from the Divine and we got very sad. We ask for healing. We say "astaghfirullah", "Oh Allah, heal my separation". When we make mistakes, The Light says "turn to Me". So if you want to know where you came from, you have to look towards the light. If you want to know why you are here, you have to look towards the light. Don't turn other way. Look towards the light.

Each of us need to realize this. Not to turn left-right-front-or to the back. But to look to another dimension. When we look toward the light then all of the pains, hurts and wounds get soothed and healed. Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.
(Quote from Dr. Eric Winkel presentation at the seminar at Faculty of Art and Design Bandung Institute of Technology, 8 November 2022)

 Nelson Mandela pernah ditanya ketika ia telah dibebaskan dari penjara, “Apakah engkau telah memaafkan mereka yang telah menjebloskanmu ke dalam penjara?”


Ia menjawab, “Kalau aku tidak memaafkan mereka semua maka aku sebenarnya masih berada di dalam penjara.” Adalah kepemaafan yang membuatnya bisa terus berjalan. Ia tidak dapat mengubah kenyataan bahwa ia pernah meringkuk di dalam penjara, tapi ia dapat mengubah makna dari sebuah episode dipenjarakan.

- Dikutip dari kuliah umum Shu'ayb Eric Winkel dalam seminar di Fakultas Seni dan Desain ITB, 7 November 2022

Wednesday, January 19, 2022

 "Ghafr" dalam bahasa Arab adalah sesuatu yang disimpan oleh lebah di antara celah yang ada di konstruksi sarang lebah. Dengannya maka kemudian celah itu menjadi tidak ada, karena terisi oleh sesuatu.


Maka ketika kita meminta ampun kepada Allah dan berkata "astaghfirullah", itu artinya kita meminta agar Allah menutupi celah kita. Sebuah keterpisahan dari-Nya yang karenanya kita berbuat dosa dan kesalahan. Karena ketika kita terpisah dari Allah maka pada saat itu kita tengah berpaling ke dunia dan berbuat maksiat, dosa dan kesalahan serta kelalaian. Karenanya kita memohon ampun kepada Allah - beristighfar kepada-Nya.

(Belajar dari bincang online dengan Eric Winkel, 30 Desember 2021)

Wednesday, December 8, 2021

 Ketika saya menerjemahkan, saya tidak akan menyimpulkan satu kata pun dalam Futuhat kecuali saya telah memahami sepenuhnya. Dan saya bukan tipe yang bisa menerjemahkan terus lalu jika sesuatu itu tidak dipahami kemudian diberi tanda titik-titik sambil saya tidak tahu apa artinya – sebagaimana kadang kita temukan dalam sebuah terjemahan. Jika saya belum paham sebuah kata maka saya akan berhenti disitu.


Saya ingat pernah berhenti pada sebuah kalimat di bab misteri pensucian, dan rasanya saya berhenti selama tiga bulan lamanya, tidak menemukan kalimat yang pas untuk menerjemahkannya. Hal seperti itu adalah sebuah kejujuran yang sangat besar nilainya untuk saya. Hal itu dilakukan karena saya ingin membuat Allah ridho dengan semua amalan dan kegiatan saya ini. Dan kalaupun ketika pada akhirnya saya memahami segala sesuatunya, itu adalah karena karunia-Nya semata.

- Shuayb Eric Winkel

Monday, December 6, 2021

 A sufi woman showed us this pattern on the ceiling. She asked, “Do you know why this patterns are repeating?” And it always repeating. She said, “It is repeating for a good reason” I always thought about dhikr, why do we say laa ilaaha ilallah 165 times or 99 times or 200 times. Why? Why don’t we say it once and get it? And she said, “The reason there’s repetition is to make the intellect bored, so it goes to sleep. And while the intellect is asleep, the heart can wake up and enjoy the truth.”


*****

Seorang sufi perempuan menunjukkan sebuah pola di langit-langit sebuah bangunan. Dia bertanya, "Tahukah kamu kenapa pola ini dibuat berulang?" Dan memang polanya selalu berulang. Dia bilang, "Pola ini berulang untuk sebuah alasan yang baik." Dan memang aku selalu bertanya-tanya kenapa dzikir itu harus berulang, misal dzikir laa ilaaha ilallah 165 kali, 99 kali atau 200 kali, kenapa tidak sekali saja dan langsung mendapat pencerahan?

Lalu perempuan itu berkata, "Alasan kenapa harus diulang-ulang adalah untuk membuat akal pikiran merasa bosan, hingga ia tertidur. Saat ia tertidur maka hati akan terbangun dan menikmati kebenaran"


- Eric Winkel interview of November 2021

Monday, October 4, 2021

 In order to us to understand Quran, we have to ask Quran what it means and that means finding out what Prophet saw did.


- Eric Winkel

Sunday, August 8, 2021

 When you cannot see bad things and all you see is good things.

That's what we called by true love.
- Eric Winkel

 Umar bin Khaththab r.a. akan selalu berucap "alhamdulillah" sekalipun jika sesuatu hal yang buruk menimpa dirinya. Kenapa demikian? Umar berkata bahwa di dalam semua hal yang menimpa dirinya ia akan selalu melihat tiga hal:

Pertama, ia bersyukur bahwa apa yang menimpanya tidak lebih buruk atau lebih parah.
Kedua, ia bersyukur bahwa apapun yang menimpanya tidak membawanya keluar dari diin (agama) Islam.
Ketiga, di balik semua hal yang terjadi pada dirinya ada nilainya di akhirat nanti. Ia seperti membersihkan cermin hati untuk kehidupan selanjutnya.
Mengenai hal ini Ibnu Arabi berkata bahwa dzikir "alhamdulillah" tidak diucapkan ketika hal yang buruk terjadi. Kita berucap alhamdulillah ketika sebuah kebaikan menimpa diri. Akan tetapi bagi orang seperti Umar ia mengucap alhamdulillah di setiap keadaan karena di balik satu kejadian buruk yang menimpanya tersimpan tiga kebaikan baginya. Ibnu arabi menambahkan bahwa setiap kali engkau melihat hal seperti hukuman atau siksaan, ketahuilah bahwa bagi setiap satu keburukan akan ada satu konsekuensi atau hukuman, akan tetapi bagi satu kebaikan tersedia 7, 70 hingga 70.000 kebaikan sebagai bagian dari rahmat Allah Ta'ala.
(Terjemahan dari penuturan Eric Winkel, 29 Juli 2021)

 TESSA: Eric, mari kita bicara tentang kebahagiaan. Banyak orang terpeleset mengartikan kebahagiaan dengan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya atau pangkat setinggi-tingginya tapi tak ada satupun dari hal itu yang akan kita bawa ke alam sana setelah kematian

ERIC: Iya, kebanyakan manusia akan sibuk berlari kesana kemari dalam rangka mencari obyek-obyek kebahagiaan, sesuatu yang mereka kira akan mendatangkan bahagia. Mereka pikir jika bisa meraih ini dan itu akan membuatnya bahagia. Tapi itu semua tak akan pernah terjadi.
Itu sebabnya Allah mengimkan sekian banyak utusan dan petunjuk dalam kehidupan, untuk membimbing kita bahwa sejatinya kebahagiaan yang sejatinya kita cari itu sumbernya adalah Allah Ta'ala. Dan petunjuk itu akan menunjukkan dimana Allah berada, kepada jalan yang makin mendekatkan kepada-Nya.
Manusia memang niscaya akan dihadapkan dengan kesulitan dan kegagalan dalam upayanya mencari kebahagiaan. Hingga akhirnya mereka menyerah dan berkata, "Aku telah mencoba dengan berbagai cara tapi aku tak bisa mendapatkannya!" Di saat itulah petunjuk dari para utusan akan mulai terdengar dan terbaca. Sang utusan akan berkata, "Dengarkan baik-baik, apa yang kau cari selama ini adalah Dia Yang Maha Kuasa. Dan inilah jalan untuk menemukan-Nya."
Kebahagiaan dalam arti hidup nyaman menurut waham kebanyakan orang bukanlah jawabannya. Saya mulai menyadari hal itu ketika saat remaja saya bepergian ke India bagian selatan. Disana banyak orang yang hidupnya susah dan prihatin, setiap hari harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti mendapatkan tempat berteduh dan memiliki makanan di hari itu. Tapi ironinya saya melihat di barat orang kebanyakan memiliki apa yang mereka butuhkan untuk hidup, bahkan lebih dari cukup tapi justru muncul perilaku bunuh diri dan kebiasaan yang berbahaya seperti meminum minuman keras dan menggunakan narkoba. Sepertinya orang malah akan cenderung melakukan hal yang gila manakala hidup terlalu mudah bagi mereka. Ketika manusia memiliki semua apa yang ia inginkan di saat yang sama ada perasaan yang tak pernah terpuaskan oleh itu semua dan mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang penuh sensasi untuk bisa merasakan 'hidup'.
Yang saya pahami sebenarnya adalah bahwa setiap orang ingin mencintai dan dicintai. Dan Ibnu Arabi mengatakan apa yang kita cintai sebenarnya Allah. Itu yang menjelaskan kenapa dahaga kita tak akan pernah bisa terpuaskan oleh apapun. Karena Dia tak terbatas. Seorang sufi, Abu Yazid al-Bisthami berkata, "Seorang yang mencintai Allah itu bagaikan meminum seluruh air samudera dan setelah itu ia masih merasa kehausan. Ia tak akan pernah terpuaskan!"
Maka jika engkau merasakan sebuah rasa sepi, kerinduan, dan dahaga yang tak terpuaskan saat kau mengais-ais kebahagiaan, ketahuilah bahwa hatimu sebenarnya tengah mencari Allah dan pencarian kepada-Nya tak pernah usai...
(Adaptasi dan terjemahan dari bincang bersama Eric Winkel, 29 Juli 2021)

Friday, July 2, 2021

 I studied many-many religion. In fact in university I would typically go Thursday to Sunday with any student religious group whatever there was. So on Thursday I would go with the Hindu student. On Friday I would go where the Muslims students are. On Saturday I would go with the Jewish student for Sabbath. And on Sunday I would go to a mass with the Catholic students. So I would go everywhere. At one point I feel the need to pull everything together, to see a big picture. And so I came on to Islam as universal Islam. And universal Islam is Islam as a religion that embraces all other religion. Because if I said, I want only be Hindu then anything Christian that I love then will be gone. If I want to be a Christian, then I wouldn’t have any of the Jewish’s insight. But if I become as Muslim, I can see all of these as a guidance from the Prophet Muhammad saw. - Eric Winkel

 My mom tell a story, she said the reason she could feel so good about Islam was because even in the taxi, the taxi driver would say “What is your religion” and she said “Oh, I don’t really have a religion” He says, “Well, one day you will be a Muslim. Alhamdulillah”

And she feel so welcome because everyone can see that we’re all are on our path and then ultimately we’ll be Muslim so it’s gonna be okay. She was very inspired by that, she would see Muslim in Indonesia and Malaysia very opening. Because in the west all you hear about Islam is terrible thing and so even back in those days there was a lot of Islamophobia. So she was really amazed to see how regular people who are Muslim was being so kind and hospitable.
- Eric Winkel

Wednesday, December 16, 2020

 You have to be completely devastated until His Jalal is experienced.

- Shuayb Eric Winkel