Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Thursday, July 6, 2017

Keutamaan Kaum Muhammad Yang Luar Biasa Bahkan Musa as Pun Memintanya

Musa as. berdoa, "Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku sebagian derajat Muhammad Saw. dan umatnya."
Maka Allah Ta'ala berfirman, "Wahai Musa, Sesungguhnya kamu tidak sanggup pada yang demikian. Tetapi Aku akan memperlihatkan kepadamu satu tingkat dari beberapa tingkatnya yang mulia dan benar. Aku melebihkannya dengan tingkatan itu atasmu dan di atas semua makhluk-Ku."

Kemudian dibukakanlah untuk Musa as. dari alam malakut langit. Maka Musa melihat kepada satu tingkat, dimana satu tingkat itu hampir membinasakan dirinya dari cahaya yang memancar darinya. Dan didekatkannya ia kepada Allah Ta'ala. Maka Musa as. bertanya, "Wahai Tuhan, dengan apa kiranya Engkau sampaikan Muhammad pada derajat kemuliaan ini?"

Allah Ta'ala berfirman, "Dengan budi pekerti yang Aku khususkan kepadanya diantara mereka. Yaitu mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri. Hai Musa, tidak ada seorang yang datang kepada-Ku, dimana ia telah berbuat seperti itu pada satu waktu dari umurnya, kecuali Aku malu untuk menghitung amalnya. Maka Aku tempatkan ia di surga-Ku, dimana saja ia kehendaki."

(Dikisahkan oleh Sahal bin Abdullah At Tusturi, tertuang dalam Kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam Al Ghazali)

Monday, April 10, 2017

Apabila ada seseorang mencacimu dan mengata-ngataimu dengan suatu perkara yang tidak kamu lakukan, maka janganlah kamu membalas mengata-ngatainya dengan suatu perkara yang memang dia melakukannya. Biarkanlah dia karena akibatnya dia sendiri yang akan menanggungnya, sedangkan pahalanya adalah bagimu; dan jangan sekali-kali kamu mencaci seseorang.
(Riwayat ath Thayalisiy)

Friday, May 10, 2013

Marah yang Terpuji dan yang Tercela


Abdul Qadir Jailani
Percikan Cahaya Ilahi

Marah itu, jika karena Allah, adalah terpuji. Namun, jika karena selain-Nya, marah adalah sikap yang tercela. Seorang muslim marah karena menolong agama-Nya, bukan karena menolong dirinya. Dia marah jika hukum Allah dihina, sebagaimana seekor macan marah jika hasil buruannya dirampas. Sedah tentu Allah SWT murka karena murka-Nya dan Dia ridha karena keridhaan-Nya.

Janganlah menampakkan kemarahan karena Allah SWT, padahal engkau marah karena dirimu sendiri. Jika begitu, engkau telah menjadi orang munafik. Sebab, segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan sempurna, kekal dan bertambah. Sementara sesuatu yang tidak karena-Nya akan berubah dan musnah. Oleh karena itu, jika engkau melakukan suatu perbuatan, hilangkanlah diri (ego) dan hawa nafsumu, juga setan yang menggodamu. Janganlah melakukan semua itu kecuali karena Allah SWT dan karena melaksanakan perintah-Nya. Janganlah melaksanakan sesuatu kecuali karena perintah yang tetap dari Allah SWT; baik melalui perantaraan syariat, melalui ilham dari Allah ke dalam hatimu atau menyesuaikan diri dengan syariat.

Hendaklah engkau bersikap zuhud tentang keadaan dirimu, segenap makhluk, dan perkara dunia, niscaya Dia akan memberi ketenangan. Cintailah sikap ramah kepada Allah SWT dan ketenangan dari kedekatan dengan-Nya. Tidak ada keramahan kecuali keramahan kepada-Nya. Tidak ada ketenangan kecuali bersama-Nya setelah bersih dari kekotoran diri dan hawa nafsu. Tetaplah bersama kaum muslim sehingga engkau menjadi kuat karena kekuatan mereka dan melihat dengan penglihatan mereka. Raja di antara semua raja akan merasa bangga kepadamu. Bersihkanlah hatimu dari selain Dia. Dengan itu, engkau akan dapat melihat semua perkara selain Dia. Pada garis besarnya, engkau akan melihat-Nya, kemudian dengan itu, engkau akan melihat perlakuan-Nya terhadap makhluk-Nya. Sama halnya engkau tidak boleh masuk menghadap raja di dunia dengan membawa najis lahiriah, kau juga tidak bisa masuk menghadap Raja semua raja, yaitu Allah SWT, dengan membawa najis batiniah. Engkau akan menjadi tenang penuh dengan endapan. Apa yang Dia lakukan terhadap dirimu? Ubahlah apa yang ada dalam dirimu dan bersihkanlah. Setelah itu, baru engkau dapat masuk menghadap Allah.

Dalam hatimu terdapat dosa, engkau takut terhadap makhluk dan berharap padanya. Engkau juga mencintai dunia dan semua yang ada di dalamnya. Semua ini termasuk najis hati. Tidak ada pembicaraan hingga engkau mati dan dibawa ke satu pintu kejujuranmu. Pada saat itu, engkau tidak mengkhawatirkan makhluk. Sesuatu yang selamanya ada dalam dirimu, ada pada mereka dan engkau dapat melihat mereka. Oleh karena itu, jangan menyodorkan tanganmu kepada mereka hingga mereka menerimanya. Tidak ada pembicaraan jika engkau masih merasa bingung untuk dekat kepada-Nya, sehingga dirimu disibukkan oleh mereka; oleh pemberian, cegahan, pujian, dan celaan mereka.

Jika seseorang bertobat dengan benar, berarti benar pula imannya dan akan bertambah. Menurut Ahlus Sunnah, iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Iman bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat. Ini terjadi di kalangan orang-orang awam. Sementara bagi orang-orang tertentu, iman itu bertambah karena makhluk telah keluar dari hati mereka, dan iman berkurang karena makhluk masuk ke dalam hati mereka. Iman bertambah karena tetapnya mereka kepada Allah SWT dan berkurang karena berdiam pada selain Allah. Kepada Tuhan mereka bertawakal, kepada-Nya percaya, kepada-Nya bersandar, kepada-Nya merasa takut, kepada-Nya kembali, dan kepada-Nya bertauhid. Dan kepada-Nya berpegang teguh sehingga mereka tidak menyekutukan-Nya. Karena semua itu mereka dicoba. Tauhid mereka ada dalam hati dan perhatian kepada makhluk ada dalam lahirnya. Jika ada yang mengatakan kebodohan kepada mereka, sesungguhnya mereka tidak bodoh. Allah SWT berfirman tentang mereka:

Apabila orang-orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (QS 25: 63)

Hendaklah engkau diam dan bersabar terhadap kebodohan orang-orang jahil serta nafsu mereka yang berkobar. Sementara jika mereka durhaka kepada Allah, janganlah berdiam diri, karena hal demikian adalah haram. Dalam hal itu, berbicara adalah ibadah dan tidak berbicara adalah dosa – jika engkau telah menetapkan amar ma’ruf nahi mungkar kemudian melalaikannya. Karena amar ma’ruf nahi mungkar adalah pintu kebaikan yang terbuka di hadapanmu, maka bergegaslah masuk ke dalamnya. Nabi Isa a.s. pernah memakan rumput padang pasir, minum dari air sungai, dan berlindung dalam gua-gua. Beliau sering tidur berbantalkan batu atau tangannya. Orang mukmin melakukan hal demikian dengan tujuan agar bisa menemui Tuhannya melalui cara ini. Apabila ada bagian harta untuknya di dunia, harta itulah yang akan mendatanganinya. Dia hanya memakainya dalam lahiriahnya saja dan melakukannya untuk dirinya, sedangkan hatinya tetap bersama Allah SWT, tidak berubah. Sebab sikap zuhud, jika sudah menetap di hati, tidak akan berubah oleh datangnya dunia dan memperoleh bagiannya. Orang mukmin, jika sudah mencintai dunia, penghuninya, syahwatnya dan kesenangannya, maka dia tidak akan sabar menghadapi kesibukan sedetik pun di malam dan siang hari; dia tidak akan beribadah dan mengingat Allah SWT, dan dia tidak akan menaati-Nya. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya aib dirinya, lalu dia bertobat dan menyesali diri atas kecerobohannya di masa lalu. Allah kemudian memperlihatkan kepadanya aib dunia melalui keterangan dalam Alquran dan Sunnah, melalui para guru, sehingga muncullah sikap zuhud dalam dirinya terhadap dunia. Pada saat dia melihat suatu aib, Allah memperlihatkan aib lainnya, sehingga dia tahu bahwa semuanya tidaklah abadi (fana).

Baginya, umur dunia itu sebentar; nikmatnya akan hilang; kebaikannya akan berubah; pekertinya jelek; tangannya akan menyembelih; dan ucapannya menjadi racun. Tidak ada yang dikembalikan kepada dunia, juga tidak menjadi pokok dan tidak menjanjikan. Berdiri di dunia bagaikan membangun di atas air, dia tidak menjadikannya tetap di dalam hati dan tidak menjadikannya sebagai rumah. Kemudian derajatnya meningkat, keyakinannya semakin kuat, dan dia mengenal Allah Azza wa Jalla. Dia juga tidak menjadikan akhirat tetap dalam hatinya. Hanya kedekatan dengan Tuhannya yang dia tetapkan daam hati di dunia dan di akhirat.

Dia membangun rumah bagi batin dan hatinya di sana. Saat itu keramaian dunia tidak membahayakan baginya walaupun dibangun seribu rumah karena dibangun untuk yang lain bukan untuknya. Dia melaksanakan perintah Allah, dan menyesuaikan diri dengan qadha dan qadar-Nya. Dia mendirikannya dengan tujuan untuk melayani makhluk dan menyampaikan ketenangan kepada mereka. Dia menghubungkan antara yang terang dengan yang gelap dalam masakan roti dan tidak memakannya sedikitpun. Dia mempunyai makanan khusus yang tidak sama dengan yang lain. Dia berbuka puasa di hadapan makanannya sendiri, dan berpuasa lagi di hadapan makanan orang lain. Orang zuhud itu berpuasa dari makanan dan minuman. Orang makrifat berpuasa dari yang tidak dia kenal. Dia lapar, dan tidak makan selain dari tangan dokternya. Penyakitnya jauh sedangkan obatnya dekat. Puasa orang zuhud di siang hari, sedangkan puasa orang makrifat di siang dan malam hari. Tidak ada buka bagi puasanya sehingga dia menemui Allah Azza wa Jalla. Orang makrifat berpuasa selamanya dan demam selamanya. Hatinya berpuasa selamanya dan bagian dalamnya mengalami demam. Dia tahu bahwa obatnya adalah bertemu Tuhannya dan dekat kepada-Nya.

Wahai sahaya, jika ingin berbahagia, keluarkanlah makhluk dari dalam hatimu. Engkau tidak perlu takut kepada mereka; Kau tidak perlu mengharapkan sesuatu dari mereka; Kau tidak perlu bersikap ramah terhadap mereka; dan kau tidak perlu tinggal bersama mereka. Segeralah menghindar dari semua itu dan belajarlah bersikap “kasar” kepada mereka, anggaplah mereka sebagai bangkai yang telah mati. Jika hal itu telah kau lakukan dengan benar, engkau akan merasa tenang ketika ingat kepada Allah Azza wa Jalla dan sebaliknya, merasa gelisah ketika mengingat yang selain Dia. []

Wednesday, July 25, 2012

Nasihat Ali kw Tentang Kebaikan

Berbuat Baik dan Menjauhi Keburukan • Kebaikan bukanlah dengan bertambah banyaknya harta dan anakmu. Akan tetapi kebaikan adalah dengan bertambah banyaknya ilmumu, bertambah besarnya kesabaranmu, dan engkau menyaingi orang lain dengan ibadahmu kepada Tuhanmu. Maka, jika engkau berbuat baik, engkau memuji Allah ‘Azza wa Jalla dan jika engkau berbuat buruk, engkau beristighfar kepada Allah. • Tidak ada kebaikan di dunia ini kecuali bagi dua golongan manusia, yaitu: Pertama, seseorang yang berbuat dosa, lalu dia cepat-cepat meluruskan perbuatannya dengan bertobat. Kedua, seseorang yang bersegera dalam amal kebajikan. Tidaklah dipandang sedikit perbuatan yang dilakukan dengan ketakwaan, maka bagaimana dapat dikatakan sedikit suatu perbuatan yang diterima (Allah)? • Kesempatan terus berjalan seperti jalannya awan. Oleh karena itu cepat-cepatlah kalian ambil segala kesempatan yang baik (sebelum ia berlalu dari kalian). • Kedermawanan yang sebenarnya adalah berniat melakukan kebaikan setiap orang. • Diantara amal kebajikan yang paling utama adalah: berderma di saat kesusahan, bertindak benar ketika sedang marah, dan memberi maaf ketika mampu untuk menghukum. • Kebaikan yang tidak ada keburukan di dalamnya adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, dan bersabar ketika mendapatkan musibah. • Berbuatlah kebaikan dan janganlah kalian meremehkannya sedikitpun. Sebab, yang kecilnya adalah besar dan sedikitnya adalah banyak. Dan jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengatakan, “Sesungguhnya orang lain lebih utama dalam hal melakukan kebaikan ini daripada saya.” Maka, demi Allah, perkataannya akan menjadi kenyataan. Sesungguhnya bagi kebaikan dan keburukan ada pemiliknya (pelakunya). Maka, bagaimanapun kalian meninggalkan diantara keduanya, ada orang lain yang akan mengerjakannya.

Orang-orang yang Berbuat Kebajikan (Al Birr) Menurut Al Qur'an

Al Baqarah [2]: 177 Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur (masyriq) dan barat (maghrib)itu suatu kebajikan (al birr), akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah 1. Beriman kepada Allah 2. (beriman kepada) hari kemudian 3. (beriman kepada) malaikat-malaikat 4. (beriman kepada) kitab-kitab 5. (beriman kepada) nabi-nabi 6. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya (dzawil qurba) 7. (memberikan harta yang dicintainya kepada) anak-anak yatim 8. (memberikan harta yang dicintainya kepada) orang-orang miskin 9. (memberikan harta yang dicintainya kepada) musafir 10. (memberikan harta yang dicintainya kepada)orang-orang yang meminta-minta 11. Memerdekakan hamba sahaya. 12. Mendirikan shalat 13. Menunaikan zakat 14. Menepati janjinya apabila berjanji 15. Sabar dalam kesempitan 16. (sabar dalam) penderitaan 17. (sabar dalam) peperangan Mereka itulah orang-orang yang benar (shodaqu) dan mereka itulah al muttaquun

Monday, July 23, 2012

Kumpulan Hadits Tentang Akhlak

Syarah Mukhtaarul Ahaadits Sayyid Ahmad Al-Hasyimi Penerbit Sinar Baru Algensindo, cetakan ke-9, 2008

 7. Carilah oleh kalian derajat yang tinggi di sisi Allah, yaitu hendaknya kamu bersikap penyantun terhadap orang yang tidak mengetahui tentang diri kamu, dan hendaknya kamu memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepadamu. (Riwayat ‘Addi melalui Ibnu Umar ra)

 9. Sampaikanlah keperluan orang yang tidak mampu untuk menyampaikan keperluannya kepada sultan. Barangsiapa yang (menolong) menyampaikan keperluan (orang tersebut) kepada sultan, kelak di hari kiamat Allah SWT akan menetapkan kedua telapak kakinya di atas shirathal mustaqiim. (Riwayat Thabrani melalui Abu Darda)

 41. Allah mencintai seorang hamba yang mudah (berlaku baik) bila menjual, mudah bila membeli, mudah bila membayar hutang dan mudah bila menagih hutang. (Riwayat Baihaqi melalui Abu Hurairah ra)

 62. Apabila engkau menghendaki suatu perkara, maka engkau harus bersikap tenang sehingga Allah memperlihatkan kepadamu jalan keluarnya. (Riwayat Bukhari)

 83. Apabila seseorang di antara kalian keluar mengadakan perjalanan, hendaknya ia berpamitan kepada saudara-saudaranya, karena sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan pada doa mereka. (Riwayat Ibnu Asakir melalui Zaid ibnu Arqam)

 87. Apabila seseorang di antara kalian memasuki suatu kaum lalu dipersilahkan baginya, hendaknya ia duduk, karena sesungguhnya tiada lain hal itu merupakan suatu penghormatan dari Allah yang diberikan kepadanya melalui saudaranya yang sesama muslim. Apabila tidak dipersilahkan baginya, maka hendaknya ia melihat tempat duduk yang paling longgar, lalu dudukla ia di tempat tersebut (Riwayat al Harits)

 90. Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk suatu wallimah, hendaklah ia mendatanginya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 112. Apabila telinga seseorang di antara kalian berdenging, hendaknya mengingatku, dan bacalah shalawat untukku, serta ucapkanlah “Semoga Allah mengingat (memelihara) orang yang menyebut-nyebut diriku dengan baik.” (Riwayat Ibnu ‘Addi)

 113. Apabila seseorang di antara kalian bersin, hendaknya mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil’alamiin, dan hendaknya saudaranya atau temannya menjawabnya “yarhamukallah” (semoga Allah membelaskasihanimu). Apabila saudara atau temannya mengucapkan ‘yarhamukallah’, hendaknya dijawab ‘yahdikumullah wayushilu baalakum’ (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu) (Riwayat Abu Daud)

 151. Belas kasihanilah olah kalian tiga macam orang yaitu; orang mulia di antara kaum yang menjadi hina; orang kaya di antara kaum yang jatuh miskin; dan orang alim yang berada di tengah-tengah orang-orang yang jahil (bodoh). (Riwayat Imam al Askari)

 168. Orang yang paling kejam terhadap sesamanya ketika di dunia, kelak di akhirat ia akan mendapat siksa yang paling keras di sisi Allah. (Riwayat Ahmad melalui Khalid ibnul Walid)

 174. Berbuatlah kebajikan kepada orang yang layak menerimanya dan juga kepada orang yang tidak layak menerimanya; apabila kebajikanmu tepat mengenai orang yang layak menerimanya berarti engkau telah memberikannya kepada ahlinya, dan apabila kamu tidak mengenai orang yang layak menerimanya berarti kamu sendirilah yang menjadi ahlinya. (Riwayat al Khatib melalui Ibnu Umar ra) 

209. Keutamaan yang paling afdhal ialah menghubungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya darimu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan kamu memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadap dirimu. (Riwayat Imam Thabrani)

 211. Seorang mukmin yang paling utama Islamnya, ialah terselamatnya orang-orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya; dan orang mukmin yang paling utama (afdhal) imannya ialah yang paling baik akhlaknya; dan seorang muhajir yang paling utama, ialah yang menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah, dan jihad yang paling utama ialah jihadnya seseorang melawan hawa nafsunya demi karena Allah SWT. (Riwayat Thabrani)

 261. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah (jawwad), Dia mencintai sifat pemurah, dan Dia mencintai akhlaq yang mulia serta membenci akhlaq yang rendah (Riwayat Na’im melalui Ibnu Abbas r.a.)

 277. Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang yang mudah lagi terbuka. (Riwayat asy Syairazi melalui Abu Hurairah ra)

 278. Sesungguhnya Allah menyukai sikap hati-hati dalam semua perkara (Riwayat Imam Bukhari) 

294. Sesungguhnya Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, Aku sakit tetapi ternyata kamu tidak menjenguk-Ku.” Anak Adam menjawab, “Wahai Rabbku bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah menjawab, “Tidakkah kamu ketahui bahwa hamba-Ku yang bernama Fulan sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidakkah kamu ketahui, bahwa seandainya kamu menjenguknya niscaya kamu menjumpai-Ku ada di sisinya? Hai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberi-Ku makan.” Anak Adam menjawab, “Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah menjawab, “Tidakkah kamu ketahui bahwa hamba-Ku yang bernama Fulan meminta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Tidakkah kamu ketahui seandainya kamu memberinya makan, niscaya kamu menjumpai (pahala) hal tersebut berada di sisi-Ku. Hai anak Adam, aku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum.” Anak Adam menjawab, “Wahai Rabbku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah menjawab, “Hamba-Ku yang bernama Fulan meminta minum kepadamu tetapi kamu tidak memberinya minum, tidakkah kamu ketahui, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu menjumpai (pahala) hal tersebut berada di sisi-Ku.” (Riwayat Muslim)

 352. Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah kelak pada hari kiamat adalah seseorang yang tidak digauli oleh orang lain karena takut akan kejahatannya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 380. Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Ibrahim, “Hai kekasih-Ku, berakhlak baiklah engkau sekalipun terhadap orang-orang kafir, niscaya engkau akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang berbakti kepada Allah (al abror). Karena sesungguhnya Aku telah memutuskan terhadap orang-orang yang berakhlak baik bahwa Aku akan menaungi mereka dalam naungan Arsy-Ku, Aku tempatkan mereka di dalam surga-Ku yang suci, dan aku dekatkan mereka dari sisi-Ku. (Riwayat Hakim)

 388. Ingatlah, aku akan memberitahukan kepada kalian tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi tubuh (kalian), yaitu: berdiam dan berakhlak baik. (Riwayat Ibnu Abud Dunya)

 409. Hemat di dalam berbelanja (an nafaqah) merupakan sebagian dari penghidupan (ma’siyah); bersikap kasih sayang terhadap orang lain (tawaddud ilannaas) merupakan sebagian dari akal; dan bertanya dengan cara yang baik merupakan sebagian dari pengetahuan (nisyful ‘ilmi). (Riwayat Thabrani)

 425. Janganlah kalian duduk-duduk di jalanan. Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana, kami tidak dapat mengelakkannya lagi, karena sesungguhnya tempat terseut merupakan tempat duduk kami dan tempat kami mengobrol?” Nabi saw menjawab, “Apabila kalian membangkang dan tetap menjadikannya sebagai majelis kalian maka berikanlah kepada jalan haknya.” Mereka bertanya, “Apakah gerangan hak bagi jalan itu?” Nabi saw menjawab, “Merundukkan pandangan mata, mencegah diri untuk tidak melakukan perbuatan yang menyakitkan, menjawab salam, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (Riwayat Bukhari)

 437. Ketika ada seekor anjing yang sedang berkeliling mengelilingi sebuah sumur, anjing tersebut hampir mati karena kehausan, tiba-tiba anjing itu terlihat oleh seorang wanita pelacur dari kalangan Bani Israil. Lalu wanita pelacur itu melepaskan khuff-nya, selanjutnya ia mengambil air dengan khuff-nya itu dan memberi minum anjing yang sedang kehausan tersebut, akhirnya ia mendapatkan ampunan (dari Allah) (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 439. Muliakanlah orang-orang tua kalian sebagaimana kalian memuliakan anak-anak kalian, dan peliharalah kehormatan wanita-wanita lain sebagaimana kalian memelihara kehormatan wanita-wanita kalian sendiri. Barangsiapa dimintai maaf lalu ia tidak mau menerimanya, niscaya ia tidak akan dapat mencoba telaga(ku). (Riwayat Hakim)

 441. Pada suatu hari ada seorang lelaki berjalan di tengah jalan, lalu ia menemukan tangkai yang berduri di tengah jalan yang dilaluinya, maka ia menyingkirkan tangkai berduri itu (dari jalan). Allah menyukai perbuatannya itu lalu Dia memberi ampunan kepadanya. (Riwayat Bukhari dan Muslim) 

443. Pada suatu hari ada seorang lelaki berjalan, di tengah perjalanan ia merasa kehausan yang sangat, ia menemukan sebuah sumur, lalu ia turun ke dalam sumur dan meminum airnya. Setelah itu ia keluar dari sumur, tetapi tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seraya memakan serangga tanah karena kehausan. Lelaki itu berkata kepada dirinya sendiri, “Sesungguhnya anjing ini sedang mengalami kehausan yang sangat seperti yang baru saja kualami.” Lelaki itu turun ke dalam sumur dan memenuhi khuff-nya dengan air, khuff yang penuh dengan air itu digigitnya lalu ia naik ke permukaan, lalu ia memberi minum anjing tersebut. Allah suka perbuatannya itu lalu Dia memberi ampunan kepadanya. Setelah itu ada seorang sahabat bertanya (sehubungan dengan kisah di atas), lalu Nabi saw menjawab, “Pada setiap makhluk yang memiliki hati basah terdapat pahala.” (Riwayat Muslim)

 447. Taat ialah, berakhlak baik; dan dosa ialah, hal-hal yang terbetik di dalam hatimu tetapi engkau tidak senang bila hal itu ditampakkan kepada orang lain. (Riwayat Muslim)

 464. Hendaknya engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenal. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 481. Rendah hati (tawadhu) tidak menambah kepada seorang hamba kecuali pengangkatan, karena itu bertawadhulah kalian, niscaya Allah akan mengangkat derajat kalian. Memaafkan tidaklah menambah kepada seorang hamba kecuali kemuliaan, karena itu perbanyaklah maaf kalian niscaya Allah akan memuliakan kalian. Tiadalah sedekah itu melainkan makin menambah banyak harta, karena itu bersedekahlah kalian, niscaya Allah merahmati kalian. (Riwayat Ibnu Abud Dunya)

 489. Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya dimiliki olehnya, niscaya Allah akan menaunginya di bawah naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, yaitu: berwudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan, berjalan ke masjid di kegelapan malam, dan memberi makan kepada orang yang lapar. (Riwayat al Ashbahani)

 491. Ada tiga perkara yang ketiganya kuketahui sebagai perkara yang haq (benar), yaitu: seseorang yang memaafkan suatu perbuatan aniaya, maka Allah menambah kemuliaan baginya; seseorang meminta-minta dengan tujuan untuk memperbanyak (harta) dengan cara itu, maka Allah menambah kefakiran baginya, dan seorang yang bersedekah dengan mengharap pahala Allah SWT, maka Allah menambahkan hartanya karena sedekahnya itu. (Riwayat Baihaqi)

 493. Ada tiga hal yang dapat menyelamatkan, yaitu: takut kepada Allah SWT dalam keadaan sembunyi atau terang-terangan, bersikap adil dalam keadaan ridha atau dalam keadaan marah, dan hemat, baik dalam keadaan miskin maupun dalam keadaan kaya. Dan ada tiga perkara yang dapat membinasakan, yaitu: hawa nafsu yang selalu diperturutkan, kikir yang selalu ditaati, dan kagum terhadap diri sendiri. (Riwayat Abu Syekh)

 516. Diharamkan masuk neraka setiap orang yang berwatak lembut, mudah dan akrab dengan manusia. (Riwayat Ahmad) 

550. Malu merupakan perhiasan, taqwa merupakan kemuliaan, sebaik-baik kendaraan adalah sabar, dan menanti jalan keluar dari Allah SWT merupakan ibadah. (Riwayat Hakim melalui Jabir)

 595. Seorang wanita masuk neraka sebab seekor kucing yang ia ikat dan tidak memberinya makan, serta tidak dibiarkan untuk memakan serangga tanah sehingga kucing itu mati (kelaparan) (Riwayat Bukhari Muslim)

 560. Ada dua watak, bilamana keduanya disandang oleh seseorang maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Apabila kedua watak tersebut tidak terdapat dalam diri seseorang, maka Dia tidak akan mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Barangsiapa yang melihat kepada orang yang lebih atas dirinya dalam masalah agama, lalu ia mengikutinya; dan dalam masalah duniawi ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya, lalu ia memuji kepada Allah atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada dirinya, maka orang tersebut dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Barangsiapa melihat kepada orang lain yang lebih rendah darinya dalam masalah agama, dan dalam masalah duniawi ia melihat kepada orang yang lebih atas darinya, lalu ia menyesali nasib dirinya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai orang yang bersabar. (Riwayat Turmudzi) 

561. Ada dua macam akhlak yang disukai oleh Allah, dua akhlak yang dibenci oleh-Nya. Adapun dua akhlak yang disukai oleh Allah adalah dermawan dan berani. Adapun dua akhlak yang tidak disukai oleh-Nya adalah akhlak yang buruk dan kikir. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia menjadikannya sebagai amil yang selalu memenuhi keperluan-keperluan orang banyak. (Riwayat Baihaqi melalui Ibnu Amr Ibnul ‘Ash)

 575. Orang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 576. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik akhlaknya (Riwayat Thabrani melalui Ibnu Umar ra)

 603. Terimalah apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian, karena sesungguhnya tiada hal lain yang menyebabkan kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka sering bertanya dan sering menentang nabi-nabi mereka. Apabila aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah itu, dan apabila aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah hal itu semampu kalian. (Riwayat Syaikhan)

 605. Orang yang menunjukkan kebaikan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya, dan Allah menyukai orang yang suka menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. (Riwayat Ibnu Abud Dunya)

 630. Pokok kebijaksanaan setelah iman kepada Allah adalah cinta kepada sesama manusia (tawaddud ilannas) dan berbuat baik kepada orang yang taqwa maupun orang yang durhaka. Sesungguhnya orang yang ahli dalam hal kebajikan sewaktu di dunia, mereka pun adalah ahli kebajikan kelak di akhirat. Dan sesungguhnya ahli kemungkaran di dunia mereka pun menjadi ahli kemungkaran kelak di akhirat. (Riwayat Baihaqi)

 679. Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka. Orang jahil yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir. (Riwayat Turmudzi)

 691. Pemuda yang dermawan lagi berakhlak baik lebih dicintai Allah daripada orang tua ahli ibadah yang kikir lagi berakhlak buruk. (Riwayat Ad Dailami)

 704. Bersilaturahmilah kepada orang yang memutuskanmu; berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu; dan katakanlah yang haq sekaliun terhadap dirimu sendiri. (Riwayat Ibnu Najjar)

 714. Berdiam merupakan akhlak yang utama, dan barangsiapa gemar bergurau maka ia dianggap enteng. (Riwayat Ad Dailami melalui Anas ra)

 788. Orang yang menarik kembali pemberiannya sama dengan orang yang menelan muntahnya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 866. Orang penyantun (halim) itu hampir-hampir menjadi seorang nabi. (Riwayat al-Khathib)

 870. Berdosalah seseorang bila ia menjadi subyek dari telunjuk orang banyak, apabila dia seorang yang baik, maka hal tersebut dapat menggelincirkannya, kecuali orang yang dirahmati Allah. Dan apabila dia seorang yang jelek maka bertambahlah keburukannya. (Riwayat Baihaqi)

 945. Seseorang hamba belum sempurna imannya sehingga ia meninggalkan dusta sekalipun dalam bergurau, dan meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar. (Riwayat Ahmad)

 973. Seandainya suatu gunung berbuat kelewat batas terhadap gunung lainnya, niscaya gunung yang berbuat kelewat batas di antara keduanya akan dihancurkan. (Riwayat Ibnu La-al)

 975. Seandainya kalian mengetahui kehinaan yang terdapat dalam hal meminta, niscaya tiada seorang pun berjalan menuju ke orang lain untuk meminta sesuatu kepadanya. (Riwayat Nasai) 

997. Tiada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal daripada akhlak yang baik. (Riwayat Ahmad melalui Abu Darda)

 1027. Tiada seorang pemuda pun yang menghormati orang yang sudah lanjut usianya kecuali Allah menetapkan baginya seseorang yang akan menghormatinya kelak bila ia mencapai usia lanjut. (Riwayat Turmudzi melalui Anas ra)

 1043. Jika engkau meringankan suatu pekerjaan atas pembantumu, maka hal tersebut merupakan pahala kebaikan dalam timbangan amalmu kelak di hari kiamat. (Riwayat Baihaqi)

 1045. Tiada suatu akhlak yang paling baik pun yang dihiaskan oleh Allah terhadap hamba-Nya lebih utama daripada berzuhud terhadap masalah duniawi, memelihara perutnya, dan memelihara kemaluannya. (Riwayat Abu Na’im)

 1051. Tiada suatu sikap lemah-lembut pun dalam sesuatu hal kecuali sikap lemah lembut itu menghiasinya, dan tidak sekali-kali sikap ini dicabut dari sesuatu melainkan hal ini akan memburukkannya. (Riwayat adh Dhiya)

 1063. Tiada suatu perbuatan dosa pun kecuali pintu tobatnya terbuka di sisi Allah selain dari akhlak yang buruk, karena sesungguhnya orang yang berakhlak buruk itu tidak sekali-kali ia melakukan tobat dari suatu perbuatan dosa melainkan ia kembali melakukan dosa lain yang lebih berat dari yang pertama. (Riwayat Aisyah ra)

 1096. Tiada suatu pemberian pun yang dihadiahkan oleh orang tua terhadap anaknya yang lebih utama daripada akhlak yang baik (adabi hasan). (Riwayat Hakim)

 1103. Akhlak yang mulia itu ada 10 macam, terkadang semuanya terdapat dalam diri seseorang, tetapi tidak terdapat dalam diri anaknya, terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang anak, tetapi tidak terdapat dalam diri ayahnya, terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang hamba, tetapi tidak terdapat dalam diri tuannya. Allah membagikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya hidup bahagia. Yaitu: 1. Jujur dalam berbicara 2. Pemberani dalam medan perang 3. Selalu memberi orang yang meminta 4. Selalu membalas perbuatan baik 5. Memelihara amanat 6. Bersilaturahmi 7. Memelihara hak-hak tetangga 8. Memelihara hak-hak teman 9. Menghormati tamu 10. Dan yang laing utama di antara kesemuanya adalah malu (Riwayat Hakim melalui Aisyah ra)

 1113. Siapapun yang datang kepada kalian dengan membawa perkara yang bajik, maka berilah ia imbalan, apabila kalian tidak menemukan (apa yang akan kalian berikan kepadanya) maka berdoalah untuk kebaikannya. (Riwayat Thabrani melalui Al Hakim ibnu Umair)

 1147. Barangsiapa meminta perlindungan kepada kalian demi karena Allah berilah ia perlindungan, barangsiapa meminta kepada kalian demi karena Allah berilah ia, barangsiapa mengundang kalian, perkenankanlah undangannya itu, dan barangsiapa berbuat kebajikan kepada kalian berilah ia imbalan yang setimpal, apabila kalian tidak mempunyai sesuatu yang akan kalian berikan kepadanyam maka berdoalah untuknya hingga kalian merasakan bahwa kalian benar-benar telah memberi imbalan kepadanya. (Riwayat Ahmad)

 1242. Barangsiapa yang tidak sayang kepada orang yang lebih muda di antara kami dan tidak menghormati hak orang yang tertua di antara kami, maka ia bukan termasuk golongan kami. (Riwayat Bukhari)

 1267. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. (Riwayat Ibnu Majah melalui Abu Hurairah ra)

 1342. Janganlah kalian bersengketa karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian pernah bersengketa karena itu mereka binasa. (Riwayat Ibnu Mas’ud ra)

 1364. Janganlah kalian memukul hamba sahaya wanita kalian karena memecahkan wadah milik kalian, karena sesungguhnya wadah tersebut memiliki ajal sama dengan ajal manusia. (Riwayat Abu Na’im)

 1369. Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari majelisnya, lalu ia sendiri duduk di tempatnya, akan tetapi memencarlah dan luaskanlah tempat duduk kalian. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 1371. Tiada akal seperti kebijaksanaan, dan tiada wara’ seperti mencegah diri (dari maksiat), serta tiada keutamaan seperti akhlak yang baik. (Riwayat Ibnu Majah)

Agama Adalah Murah Hati dan Akhlak Yang Baik

Ini adalah agama yang telah Ku ridhai untuk diri-Ku sendiri, dan tidak dapat diinterpretasikan kecuali dalam perbuatan murah hati dan akhlak yang baik. Karena itu jadikanlah mulia dengan kedua sifat itu selama kamu menganutnya. (Hadits Qudsiy Riwayat Sumawaih, Ibnu Adiy, ‘Uqaili, Kharaaithi, Khatiib, Ibnu ‘Asakir dan Rafi’i dari Anas ra)

Menengok Orang Sakit

Nabi saw. bersabda, “Tengoklah orang sakit dan antarkanlah jenazah, karena yang demikian itu akan mengingatkanmu pada hari akhirat.” Rasulullah saw. dengan hadis tersebut di atas bermaksud untuk mengingatkan kalian semua agar senantiasa ingat pada hari akhirat. Tetapi kalian menghindar dari mengingatnya dan lebih mencintai dunia. Jika demikian, dalam waktu dekat, akan ada penghalang antara dirimu dengan dunia yang tanpa urusan. Semua hal itu akan diambil dari tanganmu, juga segala hal yang telah membuatmu bahagia. Kebencian akan mendatangimu. Kesedihan akan datang kepadamu dan menggantikan kesenangan. Ingatlah, wahai orang yang lalai dan hina, sesungguhnya diri kalian diciptakan bukan untuk dunia, tetapi sesungguhnya kalian diciptakan untuk akhirat. Kalian adalah orang yang lalai dari apa yang seharusnya kalian lakukan. Kalian benar-benar telah menjadikan tujuan hidup kalian hanya untuk syahwat, kesenangan dan mengumpulkan dunia berupa dinar. Kalian juga telah menyibukkan anggota badan kalian hanya untuk main-main. Apabila Allah mengingatkan kalian dengan peringatan akhirat dan kematian, kalian akan berkata,”Kehidupanku telah menghalangiku.” Kalian memberi isyarat dengan kepala kalian. Sementara telah datang kepada kalian semua peringatan kematian yaitu uban-uban yang tumbuh di kepala kalian, kemudian kalian mencukur atau menyemirnya dengan warna hitam. Jika ajal kalian telah tiba, lalu apa yang akan kalian lakukan? Jika malaikat maut telah datang mendatangi kalian disertai para pembantunya, lantas dengan apa kalian bisa menolaknya? Jika rezeki kalian telah diputus dan masa hidup kalian telah habis, kemudian dengan cara bagaimana kalian bersikap sombong? Oleh karena itu, tinggalkanlah kegilaan itu. Ingatlah sesungguhnya dunia diciptakan untuk beramal. Jika kalian beramal di dunia, kalian akan diberi pahala. Jika kalian tidak beramal di dalamnya, lalu apa yang diberikan? Dunia adalah tempat beramal dan tempat kesabaran atas penderitaan. Dunia merupakan tempat rasa capek, sedangkan akhirat merupakan tempat ketenangan. Orang yang beriman akan membuat dirinya lelah di dunia sehingga sama sekali tidak merasa senang atau santai. Sementara kalian sering bergegas-gegas demi ketenangan dan mengulur waktu untuk segera bertobat. Kalian menunda untuk bertobat hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun sehingga habislah masa kalian. Tidak lama lagi kalian akan menyesal. Bagaimana mungkin kalian tidak menerima nasihat? Bagaimana mungkin kalian tidak menyadari, tidak jujur, dan terus menerus bersikap tidak jujur. Sungguh kalian akan celaka jika pokok atap kehidupan kalian telah hancur. Kepada orang yang tertipu, hendaklah engkau sadar, bahwa dinding kehidupanmu telah jatuh menimpa rumah yang engkau robohkan, lalu engkau pindah ke tempat lain. Oleh karena itu, carilah rumah akhirat dan langkahkanlah kakimu ke sana. Yang menjadi kaki untuk melangkah adalah amal-amal salihmu. Hendaklah engkau memberikan hartamu untuk akhirat sehingga engkau mendapatkannya ketika engkau telah sampai di sana. Orang yang tertipu oleh dunia, yang menyibukkan diri tanpa menghasilkan apa-apa, serta yang meninggalkan aspek batin dan sibuk dengan pelayanan pada makhluk, sungguh engkau akan celaka. Sebab akhirat tidak dapat berkumpul dengan dunia, karena akhirat tidak ridha kepada dunia. Oleh karena itu hendaklah engkau mengeluarkan dunia dari dalam hatimu, pasti engkau dapat melihat akhirat; bagaimana dia datang dan menetap dalam hatimu. Jika hal itu telah sempurna dalam dirimu, ia akan mendorongmu untuk dekat kepada Allah Azza wa Jalla. Pada saat itu, hendaklah engkau merasa membutuhkan akhirat dan carilah, sehingga di sana kebaikan hati dan kebersihan batin akan menjadi sempurna. Wahai anakku, sadarilah bahwa jika hatimu telah menjadi benar atau sehat, maka Allah Azza wa Jalla, malaikat, dan orang-orang yang berilmu akan bersaksi, semuanya akan tampil untukmu dengan pengakuan dan bersaksi untukmu. Apa yang engkau butuhkan, engkau bersaksi atas sehatnya hati yang ada dalam dirimu. Jika hal ini telah sempurna dalam dirimu, engkau akan menjadi seperti gunung yang tidak dapat dimusnahkan oleh angin dan tidak dapat dirusak oleh tombak. Melihat makhluk dan bercampur dengannya tidak akan mempengaruhi dirimu. Oleh karena itu, janganlah engkau membuat noda dalam hatimu; jangan pula mengotori kebersihan batinmu. Hendaklah kaum Muslim menghindari orang yang mengamalkan suatu amal dengan niat ingin dipandang dan diterima oleh makhluk. Sebab, orang seperti itu adalah hamba yang kabur, musuh Allah Azza wa Jalla yang ingkar kepada-Nya dan meningkari nikmat-Nya; dia adalah orang yang tertutup, dimurkai dan dilaknat. Keberadaan makhluk sering merampas hati, kebaikan dan agama. Makhluk menjadikanmu berteman dengannya sambil melupakan Tuhanmu. Mereka menginginkanmu untuk dirinya, bukan untuk dirimu. Sedangkan Allah Azza wa Jalla menghendakimu untuk dirimu dan bukan untuk mereka. Oleh karena itu, hendaklah engkau mencari orang yang menginginkanmu untuk dirimu sendiri dan sibukkanlah dirimu dengan-Nya. Sesungguhnya menyibukkan diri dengan Allah adalah jauh lebih utama dibanding dengan orang yang menginginkanmu untuk kepentingannya. Jika engkau harus mencarinya, hendaklah engkau mencari dari-Nya, bukan dari makhluk-Nya. Oleh karena itu, hendaklah engkau selalu meminta pertolongan kepada-Nya. Dia Mahakaya sedangkan makhluk semuanya adalah fakir. Mereka tidak dapat memberi manfaat ataupun mudarat kepada dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, carilah kasih-sayang-Nya, sesungguhnya Dia menghendakimu di awal mula agar selanjutnya engkau mempunyai kehendak dan Dia-lah yang engkau kehendaki. Seorang anak kecil, pada kurun awal masa kanak-kanaknya, selalu mencari ibunya. Dan jika sudah dewasa, ibunyalah yang mencarinya. Jika telah diketahui bahwa kehendakmu adalah untuk-Nya, maka Dia akan menghendakimu. Jika diketahui bertapa besar kecintaanmu kepada-Nya, sungguh Dia akan mencintaimu, Dia akan memberi petunjuk ke dalam hatimu, dan Dia mendekatkanmu kepada-Nya. Bagaimana mungkin engkau akan merugi sedangkan engkau telah meninggalkan kekuatan hawa nafsu, watak , dan setan yang ada dalam dirimu dan dalam kedua matahatimu? Dorongkanlah kedua tanganmu, pasti engkau melihat segala kekuatan seperti apa adanya. Lawanlah nafsu serta tentanglah. Doronglah kekuatan hawa nafsumu, watak dan setan yang ada dalam dirimu, sehingga engkau akan mendapatkan-Nya. Doronglah kekuatan-kekuatan ini, pasti akan hilang penghalang antara dirimu dengan Allah Azza wa Jalla, sehingga engkau bisa melihat-Nya, bukan melihat selain Dia. Engkau melihat dirimu dan engkau juga melihat selain dirimu. Engkau bisa melihat cacat yang kau miliki sehingga engkau akan menjauhinya. Engkau melihat cacat atau aib orang lain sehingga engkau akan lari menjauh darinya. Jika hal itu telah sempurna mewujud di dalam dirimu, niscaya Dia Yang Mahasuci akan mendekatimu dan memberimu apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah tercetus dalam hati manusia. Dia akan mengasah pendengaran hatimu, Dia akan memperuncing batin, dan pendengaran keduanya. Dia akan membetulkan pendengaran dan penglihatan serta memberimu pakaian. Dia akan menganugerahkan kemuliaan-Nya. Dia akan mengurusmu dengan perhatian-Nya, menolong, menguasai, serta memilikimu. Dia membebaskanmu dari kekangan semua makhluk-Nya. Dia akan menciptakan penjaga bagi hatimu. Malaikat-Nya akan melayanimu dan Dia akan memperlihatkan ruh para nabi dan rasul-Nya kepadamu sehingga engkau tidak tersembunyi dari makhluk-Nya. Wahai anakku, hendaklah engkau mencari kedudukan ini, mengharapkan serta menjadikannya sebagai cita-citamu. Tinggalkanlah kesibukan dalam mencari dunia karena dunia tidak akan mengenyangkanmu. Apa-apa selain Allah Azza wa Jall tidak akan membuatmu kenyang. Oleh karena itu, sibukkanlah dirimu dengan-Nya, karena Dia akan mengenyangkan dirimu. Jika hal itu telah berhasil engkau lakukan, maka engkau akan berhasil dalam memperoleh kekayaan di dunia dan di akhirat. Kepada orang yang lalai, hendaklah engkau menolak orang yang menginginkan dirimu. Hendaklah engkau mencari orang yang mencarimu. Cintailah orang yang mencintaimu! Sibukkanlah dirimu dengan orang yang merindukanmu. Apakah engkau tidak mendengar firman Allah Azza wa Jalla: Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (QS 5: 54) Seseorang berkata, “Sesungguhnya aku sangat merindukan pertemuan dengan-Mu.” Allah menciptakanmu adalah untuk beribadah kepada-Nya, karena itu, janganlah engkau bermain-main. Dia menghendakimu untuk bersahabat dengan-Nya, karena itu, janganlah engkau menyibukkan diri dengan yang selain-Nya. Janganlah mencintai seseorang bersamaan dengan mencintai-Nya. Jika engkau mencintai yang selain Dia dengan cinta, kasih dan keramahan, itu boleh jika berupa cinta jasmani. Sedangkan jika mencintai dengan cinta hati, maka hal seperti itu tidak boleh dilakukan. Begitu pula jika mencintai dengan cinta batin atau cinta ruhani. Nabi Adam a.s., ketika hatinya disibukkan dengan mencintai surga dan beliau mencintai kedudukannya di surga, maka Allah memisahkan antara dirinya dan surga. Dia mengusirnya dari surga dengan cara memakan buah. Hatinya tertarik pada Hawa sehingga Dia memisahkan antara dirinya dengan Hawa, dan Dia menjadikan antara keduanya jarak perjalanan 300 tahun. Dia di Sarandib dan Hawa di Jeddah. Sementara Nabi Ya’qub, ketika dia merasa tenang atas anaknya, yaitu Nabi Yusuf a.s. dan mereka berkumpul, maka Allah memisahkan keduanya. Nabi kita saw. pada waktu tertarik pada Aisyah r.a. maka Allah menurunkan cobaan pada Aisyah dengan munculnya tuduhan zina dan berdusta, sehingga Nabi tidak melihatnya berhari-hari. Oleh karena itu, sibukkanlah dirimu hanya dengan Allah Azza wa Jalla, bukan dengan yang selain-Nya. Janganlah berlaku ramah kepada selain Allah. Keluarkanlah makhluk dari dalam hatimu. Kosongkanlah hati hanya untuk-Nya. Kepada orang-orang rusak, malas, dan amalnya sedikit diterima, jika engkau menerima nasihat dari saya dan mengamalkan apa yang saya katakan, berarti engkau telah beramal dan semua amal itu adalah untuk dirimu. Jika engkau tidak beramal, berarti engkau akan mendapat kemurkaan dan penghalang. Allah Azza wa Jalla berfirman: Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya (QS 2: 286) Allah juga berfirman: Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri dan jika kalian berbuat jahat, berarti (kejahatan) itu pun bagi diri kalian sendiri (QS 17: 7) Artinya, kelak engkau akan mendapat pahala amal di surga dan siksaan amal di neraka. Nabi saw. bersabda, “Berikanlah makanan kalian kepada orang-orang yang bertakwa dan berikanlah pakaian bekas kalian kepada orang-orang yang beriman.” Apabila engkau memberi makanan kepada orang yang bertakwa dan membantunya dalam urusan dunia, berarti engkau telah bersama-sama dalam apa yang dia amalkan, dan tidak berkurang sedikit pun dari pahalanya. Sebab, engkau telah menolongnya untuk mewujudkan maksud-maksudnya, engkau telah membantu untuk menghilangkan beban-bebannya, dan telah mempercepat langkahnya menuju Allah Azza wa Jalla. Jika engkau memberikan makananmu kepada orang munafik yang riya serta durhaka, kemudian engkau membantunya dalam urusan dunia, berarti engkau akan bersama dia dalam apa yang dia kerjakan, dan tidak dikurangi sedikit pun dari siksaannya. Sebab, engkau telah menolongnya dalam mendurhakai Allah Azza wa Jalla, sehingga keburukannya akan dikembalikan kepada dirimu. Kepada orang-orang bodoh, hendaklah engkau mempelajari ilmu. Sebab, tidak ada kebaikan dalam ibadah tanpa ilmu; juga tidak ada kebaikan dalam keyakinan tanpa ilmu. Oleh karena itu, belajarlah dan beramallah. Dengan berlaku seperti itu, engkau akan beruntung di dunia dan di akhirat. Jika engkau tidak bersikap sabar dalam mencari dan mendapatkan ilmu serta mengamalkannya, bagaimana mungkin engkau akan beruntung? Sebab, jika engkau memberikan ilmu, maka sebagian dari ilmu itu akan membalas pemberianmu. Ada yang bertanya kepada seorang ulama, “Dengan apakah engkau memperoleh seluruh ilmumu?” Lalu dijawab, “Dengan giatnya gagak, sabarnya unta, tamaknya babi, dan setianya anjing. Aku bergegas pergi menuju pintu ulama bagikan bergegasnya burung gagak pergi terbang. Aku sabar terhadap beban mereka bagaikan sabarnya unta dalam memikul beban. Aku tamak dalam mencari ilmu bagaikan tamaknya babi atas makanannya. Aku juga setia kepada mereka bagaikan setianya anjing di pintu pemiliknya hingga diberi makanan.” Oleh karena itu, wahai para pencari ilmu, hendaklah engkau semua mendengarkan ucapan orang alim ini dan amalkanlah jika engkau menginginkan ilmu dan ingin beruntung. Sebab, ilmu itu ibarat kehidupan dan kebodohan bagaikan kematian. Oleh karena itu, orang alim yang mengamalkan ilmunya, ikhlas dalam amalnya, dan saba dalam mengajarkannya untuk hak Allah Azza wa Jalla, baginya seakan tidak ada kematian. Sebab, jika dia wafat, dia mencapai Allah dan kehidupannya berlangsung terus bersama-Nya. Ya Allah, berilah kami ilmu dan berilah keikhlasan dalam amal. [] (Syaikh Abdul Qadir Jailani)