Showing posts with label Ibnu Arabi. Show all posts
Showing posts with label Ibnu Arabi. Show all posts

Friday, January 27, 2023

 “If you get what I am saying, good, keep on following the path; if you don’t, sit down and listen to God.”

- Ibn ‘Arabi

Wednesday, October 5, 2022

 Makanlah sedikit. Itu akan meninggalkan lebih banyak ruang dalam hatimu dan akan meningkatkan hasratmu untuk berdoa dan taat. Ia akan membuatmu lebih aktif dan tidak malas.


- Ibnu Arabi

Tuesday, November 17, 2020

Reciprocal love is nature based love. I do something good for you, you do something good for me. And love for each other goes back and forth. It can increased and decreased.


Divine based love or spirit based love is the one that cannot be increased and decreased. It is just is.

And there is nothing you can do that will make me love you more or love you less.


- Ibn Arabi words cited by Shuayb Eric Winkel in his presentation about “The New Earth” - The Futuhat Project.

Wednesday, January 10, 2018

Andaikata Allah Swt. ingin menjadikan seluruh alam semesta berbahagia, pasti akan terjadi. Atau jika Dia menginginkannya sengsara, hal itu juga pasti akan terjadi. Tetapi Dia Swt. tidak menginginkannya, sehingga jadilah alam sesuai dengan keinginanNya. Di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang bahagia, baik di dunia ini atau di hari tempat kembali (akhirat).
"Perkataan dari-Ku tak akan pernah bisa diubah dan Aku tidak akan berbuat zalim kepada hamba-hambaKu" (QS 50:29)
- Ibnu Arabi dalam Al Futuuhaat Al Makkiyyah, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Harun Nur Rosyid.
Sesungguhnya, sebuah permulaan yang sulit bagi seseorang akan terasa mudah jika ia mengetahui adanya tujuan akhir yang mulia.
(Muhyiddin Ibnu Arabi dalam Al Futuuhaat Al Makkiyyah. Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Harun Nur Rosyid)
Faqir dalam tasawuf diartikan sebagai pribadi yang tidak lagi terpaut pada dunia. Keterpautannya semata-mata ke pada Tuhan. Jadi yang dimaksud faqir bukanlah orang miskin dalam artian harfiah.
Ibn Abu `Ishaq al-Kalabadhi dalam bukunya al-Ta`arruf li Madzzhabi ahl al-Tashawwuf (abad ke-11 M) mengutip Ibn al-Jalla yang mengatakan, ’Kefaqiran ialah bahwa tiada sesuatu pun yang menjadi milikmu, atau jika memang ada sesuatu, itu tidak boleh menjadi milikmu’. Ini sejalan dengan firman Tuhan, ’Sedangkan mereka lebih mengutamakan kepentingan orang banyak, dibanding semata-mata kepentingan mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesukaran’
- Arberry, 1976
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan setiap makhluk dalam kesetaraan. Setiap hamba-Nya sungguh mengemban amanah suci yang disembunyikan, yang di dalamnya tertuang rahasia dari setiap ciptaan dan manifestasi. Dengan demikian, setiap makhluk memiliki hubungan yang personal dengan Yang Maha Pencipta, Al Haqq, yang tidak ada makhluk lain pun ikut campur atau menjadi perantara dalam hubungan yang sangat intim tersebut.
Muhyiddin Ibnu Árabi menggambarkan hubungan antara Dia dan ciptaan-Nya itu dalam sebuah simbol geometri berupa lingkaran dan satu titik di tengah lingkaran. Bahwa setiap garis yang ditarik dari titik tengah lingkaran ke garis lingkaran adalah garis yang unik. Juga dengan simbolisme ini bisa diterangkan bagaimana satu titik tengah lingkaran terhubung ke setiap titik lingkaran tanpa menjadi beragam wujudnya atau hubungannya menjadi membingungkan.
(Referensi: "The Way of Walaya"(Sainthood or Friendship of God). Souad Hakim. Muhyiddin Ibn Árabi Society, Vol 18, 1995)
Barangsiapa yang mengekang raganya, hatinya akan tenang. Barangsiapa yang membebaskan raganya, hatinya akan kepayahan.
Ketahuilah bahwa kunci ketenangan hati terletak pada pengendalian segenap indera manusia, sedemikian rupa sehingga ada saatnya untuk dilepas dengan petunjuk Ilahiyah. Jika seseorang membiarkan pandangannya liar, ia akan jatuh pada jebakan berupa perempuan cantik atau lelaki tampan, seseorang yang melepas pendengarannya akan mendengar sesuatu yang melemahkan jiwanya, seseorang yang melepaskan lidahnya akan berbicara hampa bahkan merusak. Ketika seseorang belum bisa mengendalikan inderanya maka sang hati akan menjadi sakit, jiwa akan disibukkan oleh hal-hal yang bukan urusannya dan waktu kehidupannya akan menjadi sia-sia.
(Adaptasi dari perkataan Ibnu Arabi yang dikutip oleh Denis Gril dalam "The Kitab al Inbah of Abdallah Badr al-Habashi". The Muhyiddin Ibn 'Arabi Society)

Monday, November 6, 2017

Fana & Baqa

Ketika seorang hamba fana bukan berarti ia lantas menjadi tidak ada. Akan tetapi yang dimaksud adalah aspek kemanusiaannya tenggelam dalam aspek ketuhanan, karena setiap hamba menyimpan aspek Ilahiyah tertentu di dalam dirinya, sesuatu yang difirmankan oleh-Nya, "Dan bagi setiap insan ada kiblatnya (wajhatun) yang ia menghadap kepadanya"(QS Al Baqarah [2]:148).

Fana hanya bisa diraih jika sang hamba memberikan perhatian yang penuh kepada tajali Ilahiyah, Yang Maha Suci, karena hanya melalui hal tersebut aspek ketuhanan yang ada di dalam diri sang hamba menjadi diperkuat hingga ia melampaui aspek ciptaannya dengan berserah diri. Dan seorang hamba hanya dapat memberikan perhatian yang penuh jika sudah ada cinta di dalam hatinya.

Adapun dalam beramal sang hamba akan menghindari hal-hal yang akan menjauhkan dirinya dari Tuhan dengan dasar takut kepada-Nya. Dengan demikian cinta menjadi inti dan takut kepada Tuhan menjadi pilar yang menyokongnya.

Dengan fana inilah seorang hamba menjadi lebih fokus hidupnya dengan tujuan yang telah Tuhan tetapkan, oleh karenanya ia mencapai kondisi lebur (baqa') bersama Tuhan.

(Adaptasi dari Ibnu 'Arabi, The Quintessence of the Wisdom of Ecstatic Love in the Logos of Abraham. Journal of the Muhyiddin Ibn 'Arabi Society. Vol I, 1982.)

Monday, February 13, 2017

Siapa yang tidak menundukkan dirinya ke dalam sebuah penyerahan diri kepada amr Ilahiyyah, maka sudah nyata bahwa ia mengikuti langkah syaitan.

- Syaikh Akbar Ibnu 'Arabi

Friday, November 18, 2016

Ketika Semua Nabi Mengunjungi Ibnu 'Arabi

Sekitar 826 tahun yang lalu di Kordoba (tahun 1190), Ibnu 'Arabi mendapat penglihatan bertemu semua nabi sejak Adam a.s. hingga Muhammad s.a.w. Dalam karyanya yang berjudul "Ruh al Qudus", Ibnu 'Arabi menjelaskan alasan mereka berkumpul yang beliau peroleh dari Nabi Hud a.s. yang menginformasikan bahwa para utusan-Nya telah datang untuk mengunjungi Abu Muhammad Makhluf al-Qabaa'ili yang tengah sakit menjelang sakaratul maut. Disebutkan bahwa alasan lain para utusan Allah itu berkumpul sebagaimana dikemukakan oleh Jandi, murid dari Sadruddin Qunawi, yang merupakan murid serta anak angkat sang Syaikh al Akbar adalah untuk menyampaikan selamat kepada Ibnu 'Arabi atas penetapannya sebagai segel para wali (khatam al-awliya) dan sebagai khatamul wilayah al-Muhammadiyah.

Ibnu 'Arabi mengatakan bukti bahwa beliau mendapatkan penglihatan ini adalah kalimat yang disampaikan oleh Hud a.s., "Tidak ada satu pun makhluk hidup yang Ia tidak pegang ubun-ubunnya. Sungguh, Tuhanku ada di jalan yang lurus." Syaikh al Akbar melanjutkan, "Maka adakah berita baik yang lebih dahsyat daripada ini?"

(Dari "The Circle of Inclusion" yang ditulis oleh Cecilia Twinch. The Muhyiddin Ibn 'Arabi Society)

Monday, November 14, 2016

"Manusia mengira bahwa kesabaran hanyalah sekedar menanggung penderitaan dan tidak mengeluh.
Kesabaran, sesungguhnya adalah menerima bahwa Dia-lah yang meletakkanmu dalam sebuah keadaan, lalu bersabar untuk tidak mengadu kepada siapapun selain kepada-Nya, dan meminta-Nya untuk mengangkat keadaan itu untukmu."
~ Ibnu 'Arabi

Monday, June 13, 2016

Konsep Ibnu Arabi Tentang Ahlul Bait

Ibnu 'Arabi tidak sepakat untuk mengartikan "Ahl" dalam kata Ahlul Bait terbatas hanya para keluarga atau orang yang berasal dari keturunan Rasulullah SAW. Beliau mengatakan bahwa dalam Bahasa Arab, misalnya istilah "al al-rajul" berarti mereka yang akrab atau dekat dengan orang tersebut.

Syaikhul Akbar juga mengutip ayat Al Qur'an surat 40:46 "..masukkanlah Fir'aun (āl Firʿawn) dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras."Di ayat itu jelas bahwa "āl" di sini tidak merujuk kepada keluarga dari Fir'aun akan tetapi para penasihat dekatnya yang bersekutu dalam kejahatan.

Oleh karena itu penggunaan kata "āl" dalam kaitannya dengan Rasulullah SAW tepat dipahami sebagai mereka yang dekat dengan Rasulullah SAW dalam konteks iman.

Dengan demikian kita bisa memahami ayat Al Qur'an yang menyuruh kita untuk bershalawat; "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk āl Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."(QS [33]:56). Ketika ditanya oleh para sahabat bagaimana mereka dapat melakukan hal itu, Rasulullah SAW bersabda "Katakanlah Allahumma shalli āl Muhammad" - Allah memberkahi mereka yang dekat kepada Muhammad dan - "wa shalli āl Ibrāhīm" dan Allah memberkahi mereka yang dekat dengan millah Ibrahim.

(Adaptasi dan terjemahan dari tulisan Claude Addas berjudul The Muhammadian House: Ibn ʿArabī’s concept of ahl al-bayt di dalam Journal of the Muhyiddin Ibn 'Arabi Society, Vol. 50, 2011)

Wednesday, April 27, 2016

Hamba Allah yang berhasil mengendalikan seluruh keinginan pribadi dan kecenderungan alamiahnya akan menerima ganjaran yang agung. Allah akan menganugerahkan kepadanya sebuah penuntunan yang terus menerus, yang akan menjaganya dari tarikan hawa nafsu dan syahwat yang bersifat sementara. Di sisi lain, Allah akan membimbing jiwanya, untuk melindungi sang hamba dari kesesatan.



(Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi dalam Futuhat Makkiyah)