Showing posts with label Hawa-Syahwat. Show all posts
Showing posts with label Hawa-Syahwat. Show all posts

Monday, February 13, 2017

Engkau menginginkan ketenangan dalam suatu hal, sedangkan Tuhan-mu menghendakinya dalam bentuk yang lain.

Engkau menginginkan banyak hal, tetapi Tuhan-mu menghendaki hal yang bahayanya lebih sedikit, sehingga engkau tidak dikalahkan oleh keinginanmu dan terjerumus ke dalam jurang kecelakaan.

- Imam At Tirmidzi

Tuesday, November 8, 2016

Malaikat Pun Terjebak Syahwat Seksual

Lust atau birahi yang mendasari para malaikat yang tinggi untuk melanggar perintah Allah muncul setelah mereka berulang kali memerhatikan kecantikan rupa para anak-anak perempuan yang dilahirkan di mukan bumi yang tumbuh cantik jelita. Oleh karenanya menjaga dan menundukkan pandangan bagaikan pintu untuk menjaga agar godaan seksual ini tidak makin membara.
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Qs. An- Nuur (24): 30)

"Penglihatan adalah bagaikan anak panah beracun yang dilepaskan dari busur panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepadaku, maka aku akan memberikan suatu ketenangan yang kemanisannya itu dapat ia rasakan di dalam hatinya." (Hadits riwayat Ahmad dan Ath-Thabari)

“Hai  'Ali, jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan yang     lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama, adapun yang     berikutnya tidak boleh." (Hadits riwayat At-Turmudzi dan Abu Dawud.

Dan ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya oleh jabir bin Abdillah tentang pandangan yang datang secara tiba-tiba, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Palingkanlah pandanganmu itu." Dikeluarkan oleh Muslim, At-Turmudzi dan Abu Dawud


"Ada tiga orang yang api neraka tidak akan melihat kepada mata mereka; mata yang memelihara dijalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang menahan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah." (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Wednesday, August 7, 2013

Ketabahan hati yang mantap untuk berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indria-indria dan kekayaan material.

(Sloka 2.44)

Penjelasan: samadhi berarti "pikiran yang mantap". Dalam kamus Veda yang berjudul Nirukti, dinyatakan "apabila pikiran sudah mantap untuk mengerti sang roh, maka dikatakan bahwa pikiran berada dalam samadhi" Samadhi tidak pernah dimungkinkan bagi orang yang tertarik pada kenikmatan indria-indria material, ataupun bagi mereka yang dibingungkan oleh hal-hal yang bersifat sementara seperti itu.