Showing posts with label Jalaluddin Rumi. Show all posts
Showing posts with label Jalaluddin Rumi. Show all posts

Tuesday, November 14, 2017

Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidakadilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.
- Jalaluddin Rumi

Friday, May 19, 2017

Janganlah membuat sarang, seperti laba-laba, dari air liur dukacita
Namun serahkan dukacita kepada Dia yang menganugerahkannya
Dan janganlah diperbincangkan lagi
Bila kamu diam, bicara-Ny adalah bicaramu;
Bila kamu tidak menenun, maka penenunnya adalah Dia.

Jalaluddin Rumi (D 922)

Tuesday, May 16, 2017

Menjadi tidak ada itu adalah prasayarat bagi menjadi ada.

- Jalaluddin Rumi, D 2462

Monday, May 15, 2017

Di neraka, para penghuni neraka akan merasa lebih bahagia dibanding di dunia, sebab di dunia mereka tidak ingat kepada Allah, sedangkan di neraka mereka ingat kepada-Nya - dan tidak ada yang lebih manis selain mengenal Allah.

- Jalaluddin Rumi, Fiihi maa fiihi

Saturday, May 13, 2017

Segala yang dapat kamu pikir itu fana.
Yang tidak dapat terpikirkan, itulah Tuhan!

- Jalaluddin Rumi (M II 3107)
Agar dapat dilihat, kelembutan ruh memerlukan materi.

- Jalaluddin Rumi
Jangan tinggalkan daku dalam kesedihan ini, Tuhan,
bukalah lebar-lebar pintu kegembiraan!

- Jalaluddin Rumi ( D 2046)

Friday, May 12, 2017

Jalaluddin Rumi selalu menekankan bahwa orang harus melihat realitas di balik tabir, penunggang kuda di balik debum dan dia juga tahu bahwa sebenarnya duri itu adalah bagian dari bunga mawar.

Semua bunga mawar, meski sisi luarnya kelihatan seperti duri.
(D 859)

- Annemarie Schimmel dalam buku Akulah Angin Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi
Hanya melalui kepedihanlah  manusia dapat tumbuh menjadi manusia sejati.

- Jalaluddin Rumi

Wednesday, December 28, 2016

Mengkaji Mukhlish dan Mukhlash - Rumi
Persepsi inderawi menarik seseorang ke arah dunia,
Cahaya-Nya melambungkan dia ke langit.
Karena benda-benda terinderai itu
letaknya di alam bawah.
Cahaya Tuhan itu bagaikan laut,
sedangkan yang kita inderai itu bagai setitik uapnya.
Apa yang mengendarai indera tidaklah nampak,
yang kita tangkap hanyalah akibat dan kata-kata.
Cahaya inderawi, yang kasar dan berat,
tersembunyi pada hitamnya mata.
Penglihatanmu tak dapat menangkap cahaya inderawi,
bagaimana mungkin ia dapat melihat cahaya kewalian?
Cahaya inderawi yang kasar saja sudah tersembunyi,
apalagi apa yang ada dibaliknya,
yang lebih murni dan halus?
Alam-dunia ini bagaikan jerami,
dalam genggaman angin--yakni alam tak-nampak;
ia hanya dapat menyerahkan diri,
tunduk sepenuhnya pada alam yang tak-nampak.
Kadang ia dibuat merunduk,
kadang menengadah;
kadang bersuara,
kadang utuh, kadang terpecah.
Kadang ia digerakkan ke kiri,
kadang ke kanan;
kadang darinya tumbuh duri,
kadang menyembul mawar.
Perhatikanlah, dibalik pena yang menulis,
tersembunyi Tangan;
di atas kuda yang berderap,
ada Pengendara tak-nampak.
Jika anak-panah melayang,
mestilah ada Busurnya,
walau tak-nampak;
jika tampak diri-diri kita,
mestilah ada Diri yang tersembunyi.
Jangan patahkan anak-panah,
karena ia berasal dari Sang Raja;
tidaklah ia dilepaskan tanpa suatu maksud,
ia berasal dari genggaman jemari Sang Tunggal,
yang paling mengenal sasaran.
Dia bersabda, "... dan bukanlah engkau yang
melempar, ketika engkau melempar ..": [1]
tindakan-Nya mendahului
tindakan-tindakan kita.
Patahkanlah kemarahanmu,
bukannya anak-panah itu:
tatapanmu yang penuh amarah
menganggap susu sebagai darah.
Ciumlah anak-panah itu,
dan persembahkan kepada Sang Raja;
anak-panah berpercik darah,
darahmu sendiri.
Apa yang tampil di alam nampak,
tak-berdaya, terpenjara dan rapuh;
apa yang tak-nampak
begitu perkasa dan agung.
Kita lah hewan buruan,
yang ditunggu jebakan sangat menakutkan;
kita bagai bola dalam permainan polo,
menunggu pukulan tongkat,
dan dimanakah Sang Pemukul?
Dia menyobek,
Dia pula yang merajut:
dimanakah Sang Penjahit?
Dia meruntuhkan,
Dia yang membakar,
dimanakah Sang Pemadam api?
Dalam sekejap Dia dapat mengubah
seorang suci menjadi kufur;
sekejap pula Dia dapat mengubah
penyembah berhala menjadi seorang zahid.
Seorang mukhlish setiap saat dalam bahaya
terjatuh kedalam jebakan,
sampai dirinya sepenuhnya termurnikan.
Karena dia masih berjalan,
dan penyamun tak terhingga jumlahnya;
yang berhasil selamat hanya
mereka yang dijaga-Nya.
Jika belum mati seseorang
dari dirinya sendiri--bagaikan cermin kemilau,
dia tak-lebih dari seorang yang mukhlish:
jika dia belum berhasil menangkap burung,
maka dia masih berburu.
Tapi ketika seorang mukhlish
diubah menjadi mukhlash, [2]
maka dia telah sampai:
dia menang dan selamat.
Cermin tak berubah kembali menjadi besi,
roti tak berubah lagi menjadi biji gandum.
Cairan anggur tak berubah lagi jadi buah;
buah matang tak kembali jadi mentah lagi.
Matanglah,
dan menjauhlah dari kemungkinan berubah
jadi kembali buruk:
jadilah Cahaya,
bagai Burhan-i Muhaqqiq. [3]
Catatan:
[1] QS Al Anfaal [8]: 17.
[2] "(Iblis) berkata: 'Maka bersama dengan ke-Kuasaan Engkau, akan kusesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang al-Mukhlashiin." (QS Shaad [38]: 82 - 83).
[3] Penerjemah belum berhasil mengindentifikasi siapa
gerangan tokoh yang Rumi gelari dengan 'Burhan-i Muhaqqiq' ini.
Sumber:
Rumi: Matsnavi II 1294 - 1319.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Herman Soetomo