O Krsna, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan.
(Sloka 1.40)
Tuesday, August 6, 2013
“Allah selalu menarik para nabi-Nya, para wali-Nya dalam kondisi yang terlemahnya. Jadi kalau kita masih merasa digjaya, tidak ada masalah, merasa gagah, pada prinsipnya kita belum siap berjalan, sampai kita terkapar mohon pertolongan kepada Allah Ta’ala” (Zamzam AJT dalam kajian hikmah Nabi Luth as)
“Orang yang diperkenalkan dengan kelemahan dirinya tanda Allah akan menuntunnya. Kalau kita masih istighfar yang kosong dan hampa artinya kita masih dalam status belum mengenal kelemahan diri, kalau kita belum mengenal kelemahan diri kita belum fakir, kalau belum fakir maka tidak akan berjalan.” (Zamzam AJT dalam Kajian HAQ QS Al Baqarah, 2004)
Friday, July 19, 2013
Kunci Taqwa : Isa as
Seorang laki-laki menghadap Nabi Isa as. "Bagaimana seorang hamba dapat betul-betul bertakwa kepada Allah?" tanya laki-laki itu. "Dengan sesuatu yang mudah", jawab Nabi Isa as.
"Kamu mencintai Allah harus benar-benar keluar dari lubuk hatimu, kamu berbuat kebaikan dengan sungguh-sungguh dan dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki, serta menyayangi keturunan bangsamu dengan kasih sayang yang tulus"
"Wahai pengajar kebaikan, apa yang dimaksud dengan keturunan bangsaku itu?"
Jawab Nabi Isa as, "Seluruh keturunan Adam. Apapun yang kamu tak sukai jika itu menimpa dirimu janganlah kamu timpakan pada orang lain. Jika kamu melaksanakannya berarti kamu benar-benar bertakwa kepada Allah!"
"Kamu mencintai Allah harus benar-benar keluar dari lubuk hatimu, kamu berbuat kebaikan dengan sungguh-sungguh dan dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki, serta menyayangi keturunan bangsamu dengan kasih sayang yang tulus"
"Wahai pengajar kebaikan, apa yang dimaksud dengan keturunan bangsaku itu?"
Jawab Nabi Isa as, "Seluruh keturunan Adam. Apapun yang kamu tak sukai jika itu menimpa dirimu janganlah kamu timpakan pada orang lain. Jika kamu melaksanakannya berarti kamu benar-benar bertakwa kepada Allah!"
Wednesday, July 3, 2013
Tidak Berpegang Teguh pada Dunia
Dunia ini sementara sedangkan akhirat adalah kekal. Dunia dibangun
untuk sementara sedang akhirat dibangun untuk kepastian yang kekal. Oleh karena itu, janganlah meninggalkan
amal di tempat yang sementara dan janganlah melemahkan kekuatan amal untuk
tempat yang kekal dan pasti. Beramallah di tempat sementara sesuai dengan
kebutuhannya dan janganlah menganggap kekal semua yang sementara. Janganlah
menjadikan kemampuan sebagai penghalang karena nafsumu, karena nafsu sering
menjadikan faktor kemampuan sebagai alasan sehingga tidak mau beramal.
Menjadikan kemampuan sebagai halangan merupakan dalih orang-orang yang malas.
Halangan karena tidak adanya kemampuan hanya berlaku dalam melaksanakan amal
perbuatan yang bukan perintah dan larangan Allah.
Orang Mukmin tidak akan menaruh kepercayaan pada dunia ini dan juga pada
isinya. Dia akan mengambil bagiannya dari dunia ini, lalu akan menyingkirkan
dengan hatinya untuk menuju Allah Azza wa Jalla. Dia diam disana sehingga dia
menyingkirkan dan merobohkan dunia. Dia memperkenankan hatinya untuk masuk ke
jalan-Nya dengan perantaraan batinnya. Batin membawa hatinya menuju jiwa yang
tenang dan anggota badan yang taat. Pada saat seperti itulah hatinya tidak
bergantung pada keluarganya dan terhalanglah antara dia dan keluarganya. Allah
menyelamatkannya dari kejahatan makhluk dan menjadikan makhluk taat kepadanya.
Allah membuat penghalang antara hatinya dan hati makhluk lainnya; dia tetap
sendiri bersama Allah, seolah-olah makhluk lain tidak diciptakan untuk
berhubungan dengan dirinya; seolah-olah tidak ada makhluk lain bagi Allah kecuali
dirinya. Tuhannya tetap sebagai Pelaku dan dia sebagai obyek. Tuhanlah yang
tetap dia cari dan dia yang mencari-Nya. Tuhannya tetap menjadi Pokok dan dia
sebagai cabang-Nya. Dia tidak mengenal dan tidak melihat selain Tuhannya. Tuhan
mematikan dirinya dari makhluk.
Kemudian bila Dia
menghendaki, Dia membangkitkannya kembali
(QS 80:22)
Allah menciptakan orang Mukmin di atas makhuk-Nya untuk kemaslahatan mereka
dan memberi petunjuk kepada mereka. Orang Mukmin harus sabar terhadap
penganiayaan orang lain demi menggapai keridhaan Allah Azza wa Jalla. Para wali
selalu menjaga hati dan batinnya. Mereka tetap tegak bersama Allah, tidak
bersama selain-Nya. Mereka beramal untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya.
Kepada orang Munafik, ingatlah bahwa engkau tidak mempunyai pengetahuan
dari para wali; engkau tidak mempunyai pengetahuan dari keimanan, dan engkau
tidak mempunyai pengetahuan tentang rasa suka kepada Allah. Tidak lama lagi
engkau akan mati dan menyesal setelah mati. Engkau telah merasa puas dengan
fasihnya ucapan padahal hatimu tidak menentu. Keadaan seperti itu tidak berguna
bagimu. Kefasihan itu seharusnya untuk hati, bukan untuk ucapan. Tangisilah
dirimu seribu kali dan tangisilah yang lain sekali saja, terutama engkau yang
telah mati hati, yang jauh dari wali, yang bertolak belakang, dan yang
terhalang dari Allah Azza wa Jalla.
Tuhanku, sesungguhnya aku
bisu, karena itu, berilah kemampuan berbicara,
Sehingga aku berguna bagi
makhluk karena pembicaraanku;
Sempurnakanlah kebaikan bagi
mereka dengan perantaraan tanganku.
Jika tidak, kembalikan aku
kepada kebisuan.
Saya mengajak kalian semua untuk melakukan pembunuhan, yaitu membunuh hawa
nafsu, watak buruk, setan dan dunia. Saya mengajak kalian untuk keluar dari
makhluk dan meninggalkan segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla. Hendaklah
berjuang mencapai keadaan ini, dan janganlah berputus asa, karena Allah, setiap waktu Dia dalam kesibukan (QS
55:29). Maksudnya, Allah senantiasa mencipta, menghidupkan, mematikan,
memelihara, memberi rezeki, dan lain-lain.
Memohonlah kepada Allah menurut ukuran takdir-Nya. Memohonlah kepada-Nya
dari segi kekuasaan-Nya bukan dari segi hikmah-Nya. Memohonlah kepada-Nya
sesuai dengan ilmu-Nya, bukan sesuai dengan ilmumu. Memohonlah kepada-Nya
dengan hati dan batinmu, bukan dengan menggerakkan lidah semata. Berdirilah di
sisi-Nya atas kehancuranmu dalam segala hal. Janganlah menyerahkan aturan
kepada orang-orang bodoh. Barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya, berarti
dia sesungguhnya orang bodoh, meskipun dia dapat menghapal dan mengamalkan
isinya. Mempelajari ilmu tanpa mengamalkannya akan mengembalikanmu kepada
makhluk. Mengamalkan ilmu akan mengembalikanmu kepada Allah; menjauhkanmu dari
kesenangan dunia; membuatmu dapat melihat dengan batinmu; menjauhkanmu dari
kesibukan untuk menghiasi jasad lahiriah dan beralih pada kesibukan untuk
menghiasi batin. Pada saat itulah Allah Azza wa Jalla melindungimu karena
engkau telah bersikap baik kepada-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dia melindungi orang-orang yang sallih (QS 7:196)
Allah melindungi lahir dan batin
mereka. Allah mengurus lahir mereka dengan kekuasaan hikmah-Nya dan mengurus
batin mereka dengan kekuasaan ilmu-Nya. Dengan itu, mereka tidak takut kepada
selain-Nya. Mereka tidak menaruh harapan kepada selain-Nya. Mereka tidak
mengambil kecuali dari-Nya dan tidak memberi kecuali di jalan-Nya. Mereka
menghindar dari selain-Nya, akrab kepada-Nya, serta diam dengan tenteram
kepada-Nya. Ini akhir zaman, benar-benar telah banyak perubahan. Ini zaman fatrah, zaman kemunafikan merajalela.
Wahai orang Munafik, sadarlah
bahwa kau adalah hamba dunia dan hamba makhluk. Engkau hanya memandang mereka dan beramal untuk mereka; Engkau melupakan
pandangan Allah kepadamu. Engkau tampaknya beramal untuk akhirat, padahal semua
amal dan tujuanmu adalah untuk dunia. Diriwayatkan dari Nabi s.a.w. bahwa
beliau bersabda, “Apabila seorang hamba
menghiasi dirinya dengan amal akhirat, padahal dia tidak menghendaki akhirat
dan tidak mencarinya, niscaya dia akan dilaknat di langit dengan nama dan keturunannya.”
Sesungguhnya saya mengenalmu, sebagai orang Munafik, dengan cara hikmah dan
ilmu, tetapi saya berusaha untuk menutupimu dengan penutup dari Allah.
Ingatlah, engkau akan celaka. Apakah engkau tidak merasa malu? Anggota
badanmu tidak bersih dari dosa dan najis zahir. Engkau mengaku bersih batin dan
bersih hati, padahal tidak. Bagaimana
batinmu? Engkau tidak berlaku baik terhadap makhluk, tetapi engkau mengaku
berlaku baik terhadap Khalik. Gurumu tidak meridhaimu karena kau tidak bersikap
baik kepadanya, padahal engkau menerima perintah darinya dan duduk di majelis
paling depan. Tidak usah banyak bicara, sehingga tauhidmu berdiri tegak di atas
kakinya dan tetap teguh di sisi Allah. Engkau menetas dari telur wujud dan
duduk di atas batu halus. Engkau berada di bawah sayap kesenangan. Engkau
memungut biji-biji keikhlasan dan meminum air persaksian, kemudian kau tetap
dalam keadaan seperti itu sampai menjadi seekor ayam. Saat itulah engkau
menjadi penjaga bagi ayam-ayam lain sambil mencari biji-biji makanan bagi
mereka. Artinya, engkau mengajak serta memperingatkan manusia di saat malam dan
siang hari; memperingatkan mereka untuk taat kepada Allah Azza wa Jalla.
Wahai orang pandai, lepaskanlah buku dari tanganmu dan kemarilah, duduklah
di sisi saya. Ilmu diambil dari mulut orang-orang berilmu, bukan dari buku-buku
semata. Ilmu diambil dari amal perbuatan dan tingkah laku, bukan dari omongan
semata, serta diambil dari orang-orang yang lenyap dalam pandangan makhluk dan
berada di sisi Allah Azza wa Jalla. Matilah dengan meninggalkan selain Allah
kemudian hiduplah bersama-Nya dan untuk-Nya. Bersahabatlah dengan para pelayan
Allah Azza wa Jalla yang senantiasa berada di pintu-Nya. Kesibukan mereka
adalah dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta
mengikuti ketentuan-Nya. Kegiatan mereka adalah mengikuti kehendak dan
perbuatan-Nya. Mereka tidak pernah berbuat yang menentang-Nya. Mereka tidak
menentang-Nya dalam hal yang sedikit apalagi yang banyak, baik dalam hal yang
dijunjung tinggi atau yang dianggap remeh. Janganlah terjerumus ke dalam
kesibukan melayani nafsu dengan tamak serta ambisi dalam mencapai tujuannya,
sehingga engkau jauh dari kesibukan melayani Allah. Para wali Allah tetap
berada dalam tuntutan memenuhi permintaan dari makhluk, tetapi mereka
melalaikannya karena kasih sayang kepada makhluk. Mereka tidak menuntut sesuatu
dari makhluk untuk dirinya. Mereka telah tenteram, tidak ada sedikitpun
keinginan dan syahwat duniawi. Kalian mengira bahwa dirinya sepertimu yang
bodoh dan tetap melayani dunia, yang membawamu untuk mengikuti kehendak dan
syahwat duniawi. Apabila engkau berakal, tentu akan berpaling dari melayani
dunia dan menyibukkan diri melayani Tuhannya. Dunia adalah musuhmu. Yang tepat
bagimu adalah berdiam diri dari ajakannya. Engkau harus membuat dinding
penghalang dari ucapannya. Dengarkanlah ucapannya sebagaimana engkau
mendengarkan orang gila yang hilang akalnya. Janganlah memperhatikan omongan
dan tuntutannya karena syahwat, kelezatan dan kebohongan. Kecelakaanmu bergantung
pada penerimaanmu terhadap dunia, sementara keselamatanmu bergantung pada
penentanganmu terhadap dunia. Apabila engkau menaati Allah niscaya Dia akan
memberikan rezeki-Nya dengan lapang dari setiap penjuru kepadamu. Apabila
engkau durhaka dan berlaku zalim maka Dia akan memutuskan hubungan perantara
datangnya rezeki duniawi dan Dia akan mengirimkan bencana sehingga engkau
celaka. Itulah kerugian dunia dan akhirat. Diri yang taat dan merasa puas atas
bagian dunianya, dia akan menjadi seperti majikan, kemanapun menghadap, niscaya
dapat mengambil bagiannya secara sukarela. Setiap orang dapat menunaikan
kewajibannya dengan senang hati tanpa terpaksa. Kosongkan hati dari segala
sesuatu selain Allah. Tenangkanlah anggota badan dari kelelahan dalam menghasilkan
dunia.
Kepada kalian yang diberi nikmat, hendaklah mensyukuri nikmat itu; jika
tidak, niscaya nikmat itu akan dicabut darimu. Potonglah sayap kenikmatan
dengan bersyukur; jika tidak, niscaya dia akan terbang dari sisimu. Orang yang
mati adalah orang yang mati dari Tuhannya Azza wa Jalla meskipun dia hidup di
dunia. Apakah kehidupan berguna baginya padahal dia menggunakan untuk memenuhi
syahwat, kesenangan dan kebohongannya? Dia itu mati isinya, tidak mati
bentuknya.
Ya Allah, hidupkanlah kami
bersama-Mu dan matikanlah kami dari selain-Mu.
Kepada orang tua tetapi berwatak anak-anak, sadarlah! Sampai kapan kau
memelihara watak kanak-kanakmu di ballik keburukan dunia? Keadaan itu telah
menjadikanmu bingung. Tidakkah kau tahu bahwa kebingungan itu diakibatkan oleh
dirimu sendiri; bahwa kau adalah hamba dunia yang mengendalikan dirimu dengan
tangannya. Jika dunia yang mengendalikanmu, berarti kau adalah hamba dunia.
Jika akhirat yang mengendalikanmu berarti kau adalah hamba akhirat. Jika
kekuatan Allah yang mengendalikanmu, berarti kau adalah hamba-Nya. Jika jiwa
yang mengendalikanmu, berarti kau adalah hamba jiwamu. Jika hawa nafsu yang
mengendalikanmu, berarti kau hamba hawa nafsu. Jika makhluk yang
mengendalikanmu, berarti kau adalah hamba makhluk. Karena itu, lihatlah orang
yang mengendalikanmu. Sebagian besar dari kalian menghendaki dunia. Sedikit
saja di antara kalian yang menghendaki akhirat. Yang jarang sekali adalah yang
menghendaki wajah Tuhan Yang menguasai dunia dan akhirat, dan bersahabatlah dengan
mereka. Janganlah membantah dan menentang mereka, karena itu bisa merugikanmu.
Jangan bersikap buruk kepada mereka agar kau tidak celaka. Hendaklah menjadi
orang yang berakal. Kembalilah kepada Allah dengan amal-amalmu. Di sisi-Nya kau
tidak sebanding dengan sayap nyamuk sekali pun, kecuali kau ikhlas untuk-Nya
dalam khalwat dan semua tingkah lakumu. Ingatlah bahwa harta yang tidak akan
binasa adalah kejujuran, keikhlasan, takut kepada Allah, senantiasa menaruh
harapan kepada-Nya, dan selalu kembali kepada-Nya dalam segala hal. Engkau
harus percaya karena hal itu dapat kau temukan. Apabila kau melihat salah
seorang di antara mereka yang bersifat seperti itu, rendahkanlah diri di
hadapannya. Tunduklah dan jangan membantahnya. Tutuplah mulutmu dan janganlah
menyinggung perasaannya dengan sikapmu yang buruk. Tutuplah mulutmu dari segala
yang tidak kau ketahui. Ilmu dan sikap pasrah terhadap perkara yang tidak kau
ketahui, itulah Islam.
Kepada orang yang lemah keyakinan, sadarlah bahwa tiada dunia dan akhirat
dalam dirimu. Hal itu karena sikapmu yang buruk kepada Allah serta karena
kebusukanmu kepada para wali dan para nabi-Nya yang telah Allah tempatkan
sesuai dengan kedudukannya. Dia telah memberi tugas kepada mereka
seperti kepada para nabi dan shiddiqiin.
Dia memasrahkan tugas beserta ilmunya kepada mereka. Dia membinasakan hawa
nafsu mereka. Dia menempatkan mereka bersama-Nya dan di sisi-Nya. Dia telah
membersihkan hati mereka dari segala sesuatu selain-Nya. Dia melepaskan mereka dari jiwa-jiwa dan hawa
nafsu mereka. Dia menjadikan dunia, akhirat dan makhluk di tangan mereka. Dia
memperlihatkan kepada mereka kekuasaan-Nya. Dia mengajarkan hikmah dan ilmu-Nya
kepada mereka. Dia membenarkan ucapan “Laa
haula wa laa quwwata illaa bil laahil ‘aliyyil azhiim” mereka. Mereka jujur
dalam ucapan tersebut karena membinasakan daya dan kekuatannya sendiri, juga
kekuatan makhluk. Mereka berpegang teguh pada kekuatan Allah Azza wa Jalla .
Mu’adz r.a. berkata, “Ya Allah, jika Engkau tidak mengizinkanku untuk berbuat apa
yang aku kehendaki, maka berilah kesabaran atas apa yang Engkau kehendaki.”
Wahai anakku, ingatlah bahwa sikap ridha terhadap qadha Allah lebih baik
daripada mendapatkan dunia sambil menentang Allah. Manisnya ridha dalam hati
orang-orang yang jujur, lebih manis daripada mendapatkan syahwat dan
kesenangan. Bagi mereka, keridhaan terasa lebih manis daripada dunia dan segala
isinya, karena dapat membuat hidup terasa menyenangkan dalam keadaan
bagaimanapun. Berbicaralah kepada manusia dengan lisan ilmu, amal dan
keikhlasan. Janganlah berbicara kepada mereka dengan lisan ilmu tanpa disertai
amal, karena hal itu tidak berguna bagimu dan bagi orang di sekitarmu. Nabi
saw. bersabda, “Ilmu itu memanggil amal
sampai amal menyambutnya, jika tidak ilmu akan berlalu darinya.”
Lenyaplah berkah ilmu, sedangka kau tetap akan dituntut. Engkau menjadi
orang pandai yang akan didakwa oleh ilmumu sendiri. Pohonnya tetap kau pegang,
sedangkan buahnya lenyap darimu.
Hendaklah memohon kepada Allah agar Dia memberimu derajat dan kedudukan di
sisi-Nya. Kemudian apabila Dia memberikannya kepadamu, hendaklah memohon
kepada-Nya agar Dia menyembunyikannya dan agar engkau tidak suka
menampakkannya. Apabila engkau suka menampakkan apa yang ada di antara dirimu
dan Allah, niscaya hal itu akan menyebabkanmu celaka. Jauhilah sikap sombong
dalam tingkah laku dan amal, karena hal demikian akan menimbulkan murka Allah.
Jauhilah kesenangan berbicara dengan makhluk dan kesenangan ketika mereka
memandangmu. Hal itu dapat menimbulkan kemudaratan serta tidak berguna bagimu.
Janganlah mengatakan sesuatu yang dapat melibatkan dirimu, hingga hatimu yakin
bahwa urusan itu berasal dari Allah Azza wa Jalla. Bagaimana engkau dapat
mengajak orang lain ke rumahmu dan menyediakan makanan bagi mereka?
Urusan ini membutuhkan fondasi,
setelah itu baru bangunan. Galilah tanah hatimu sampai memancarkan air hikmah.
Kemudian bangunlah dengan ikhlas, perjuangan, dan amal-amal shalih sampai
gedungmu berdiri tinggi. Kemudian ajaklah orang lain ke sana .
Ya Allah, hidupkanlah amal kami dengan ruh keikhlasan kepada-Mu.
Apakah khalwatmu dari makhluk
berguna, padahal makhluk ada dalam hatimu? Tidak, tidak ada kebaikan bagimu
dalam khalwatmu. Apabila kau menyepi padahal makhluk ada dalam hatimu, berarti
kau duduk menyendiri tanpa hadir dan tanpa sikap baik kepada Allah Azza wa
Jalla; bahkan hawa nafsu dan setanlah yang menjadi teman-temanmu. Apabila
hatimu menghendaki Allah, engkau akan menyepi dari makhluk meski berada di
antara keluarga dam kerabatmu. Apabila rasa suka itu telah kuat tertanam dalam
hatimu, akan robohlah dinding eksistensimu dan terbukalah penglihatanmu
sehingga kau dapat melihat karunia dan perbuatan-Nya. Kemudian engkau akan
ridha kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya. Barangsiapa yang berada dalam suatu
kondisi seraya berpegang teguh pada syariat, tidak mengharapkan yang lebih atau
yang kurang dari kondisi itu, juga tidak mengharapkan lenyap atau tetap,
berarti dia benar-benar telah memenuhi persyaratan ridha, muwafaqah (sesuai dengan qudrat dan iradat-Nya), dan pengabdian.
Janganlah berdusta. Engkau
mengaku ridha padahal kau berubah watak setiap saat. Janganlah berdusta. Saya
tidak akan mendengarkan omongan dustamu. Saya tidak akan melakukannya dan tidak
akan mengakuinya. Masing-masing makhluk diberi petunjuk ke dalam hatinya;
dimasukkan ke dalam hatinya kata-kata yang khusus sehingga mereka mengetahui
kebaikan dan mereka tetap dalam kebaikan tersebut. Bagaimana tidak begitu
sedangkan mereka mengikuti Rasul dalam ucapan dan perbuatannya? Rasul saw.
diberi wahyu secara lahiriah sedangkan para wali diberi ilham ke dalam hatinya
secara batiniyah, karena mereka adalah pewaris Rasul dan pengikutnya dalam
segala hal yang telah diperintahkan kepadanya. Jika kau ingin mengikuti dengan benar maka perbanyaklah mengingat mati.
Mengingat mati dapat menolong menjauhkan hawa nafsu dan setan darimu.
Barangsiapa yang tidak menerima kematian sebagai nasihat, maka tidak ada jalan
untuk mendapat nasihat baginya. Nabi saw. bersabda, “Cukuplah kematian sebagai nasihat.”
Bagian duniamu akan datang kepadamu, baik engkau bersikap zuhud atau engkau
mencintainya. Apabila engkau zuhud, maka bagian duniamu akan sampai kepadamu,
dan engkau tetap mulia. Apabila engkau mencintainya, maka bagian duniamu akan
sampai kepadamu, dan kau tidak mulia.
Orang Munafik merasa malu kepada Allah pada saat ada orang lain di
sampingnya, tetapi dia tdak merasa malu kepada-Nya pada saat tidak ada orang
lain di sampingnya. Kalau saja keimananmu kepada-Nya benar, dan engkau yakin
bahwa Dia melihatmu, dekat denganmu, serta mengawasimu, pasti engkau akan
merasa malu kepada-Nya.
Saya mengatakan perkara yang haq kepadamu. Saya tidak takut kepadamu
serta tidak mengharapkan apa-apa darimu. Bagi saya, engkau dan penduduk bumi
bagaikan kutu atau seekor semut, karena saya yakin bahwa kemudaratan dan
kemanfaatan berasal dari Allah, bukan dari dirimu. Raja dan rajanya raja
sekalipun sama saja. Ingkarilah dirimu dan orang lain dengan syariat, bukan
dengan hawa nafsu dan tabiatmu. Apa saja yang didiamkan syariat, ikutilah dalam
diamnya. Apa saja yang dikatakan syariat, maka ikutilah perkataannya.
Wahai manusia, janganlah
mengingkari orang lain karena hawa nafsu, tetapi ingkarilah karena imanmu.
Keimananlah yang mengingkari mereka. Keyakinanlah yang menghilangkan mereka. Allah
Azza wa Jalla, Dialah penolong yang menolongmu dan bangga kepadamu.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Jika Allah menolongmu, maka tidak akan ada orang yang dapat
mengalahkanmu (QS 3: 160)
Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan
meneguhkan kedudukanmu (QS 47:7)
Apabila engkau mengingkari
kemunkaran karena membela Allah, maka Dia akan menolongmu untuk melenyapkannya
dan menjadikan mereka hina di hadapanmu. Apabila engkau mengingkarinya karena
hawa nafsu, setan dan tabiatmu, maka Dia akan menelantarkanmu dan tidak
menolongmu menghadapi pelaku kemunkaran itu dan engkau pun tidak akan mampu
melenyapkannya. Keimanan itulah yang mengingkari. Sebab, setiap orang yang
mengingkarinya tidak karena keimanan, maka dia bukanlah orang yang mengingkari.
Mengingkari itu dengan berkata “Janganlah.” Engkau menghendaki pengingkaranmu
karena Allah, bukan karena makhluk-Nya; karena agama-Nya, bukan karena nafsumu,
karena Dia, bukan karena dirimu sendiri. Lepaskanlah dirimu dari kegilaan.
Ikhlaskanlah amalmu. Kematian selalu mengintipmu. Engkau harus melewati
jembatan kematian. Tinggalkanlah ketamakan yang telah menodaimu. Yang jadi
bagianmu akan datang padamu dan yang jadi bagian orang lain pasti tidak akan
datang kepadamu. Sibukkanlah dirimu
untuk Allah dan tinggalkanlah pencarian harta untuk dirimu sendiri dan orang
lain. Allah berfirman kepada Nabi-Nya saw.:
Janganlah engkau hadapkan
kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada mereka sebagai bunga
kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya (QS 20:31)
Yang paling berat bagi orang yang makrifat kepada Allah adalah berbicara
yang benar kepada orang lain serta duduk berkumpul bersama mereka. Oleh karena
itu, mungkin dari seribu orang yang makrifat hanya satu orang yang mampu
berbicara, kecuali orang yang diberi kekuatan seperti para nabi. Bagaimana
orang itu tidak membutuhkan kekuatan para nabi padahal dia ingin duduk di
antara berbagai jenis makhluk, bercampur dengan orang yang berakal dan yang
tidak berakal; dia duduk bersama orang Munafik dan orang Mukmin. Dia
benar-benar harus dapat membanding-bandingkan di antara mereka dan harus sabar
melakukannya berulang-ulang. Padahal dia
dijaga perintah Allah. Dlam pembicaraannya kepada orang lain, dia tidak
berbicara dengan hawa nafsunya serta pilihan dan kehendaknya sendiri. Dia
dipaksa untuk berbicara, maka sudah tentu dia dijaga dalam pembicaraannya.
Apabila engkau ingin makrifat kepada Allah, maka lenyaplah darimu kekuatan
makhluk dalam kemudaratan dan kemanfaatannya, karena engkau tidak akan ma’rifat
kecuali bersikap begitu.
Celakalah engkau. Dunia ada di tangan itu boleh, ada dalam saku juga boleh;
memandang rendah dunia dengan niat baik juga boleh. Sedangkan memasukkan dunia
ke dalam hati, maka itu tidak boleh. Diamnya dunia di ambang pintu, dibolehkan.
Adapun masuknya dunia ke balik pintu, tidak dibolehkan, sebab tidak akan ada
karamahnya bagimu. Apabila seorang hamba tidak ingat kepada diri sendiri dan
orang lain karena tenggelam dalam kekhusuan, maka seolah-olah dia hilang.
Batinnya tidak berubah saat bencana datang. Dia eksis pada saat datangnya
perintah Allah, dan dia melaksanakannya, dan pada saat larangan Allah datang,
dia menjauhinya. Dia tidak mengharapkan sesuatu dan tidak berambisi terhadap
sesuatu. Dimanakah dirimu sedangkan mereka tenggelam dalam ilmu dan amal.
Wahai engkau yang menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya, yang memutuskan
hamba-hamba Allah sadarlah bahwa engkau benar-benar aniaya dan munafik. Sampai
kapan kemunafikan itu, wahai yang berilmu, yang zuhud? Berapa kali engkau
berbuat munafik kepada raja dan pemerintah sehingga kau mengambil harta benda
dunia dan kesenangannya dari mereka? Engkau dan kebanyakan raja pada zaman ini
berlaku aniaya serta tidak jujur dalam segala hal kepada Allah dan hamba-Nya.
Ya Allah, hancurkanlah dari
orang-orang Munafik dan hinakanlah mereka atau berilah mereka taubat, kekanglah
kezaliman serta bersihkanlah bumi dari mereka atau buatlah mereka menjadi baik.
Amiin.
Kepada para raja, orang zalim, orang adil, orang Munafik, atau orang ikhlas;
ingatlah bahwa dunia akan sampai pada waktu yang terbatas sedangkan akhirat
kekal selama-lamanya. Pisahkanlah dirimu dari semua yang selain Allah dengan
perjuangan dan zuhud. Bersihkan hatimu dari selain Tuhan. Takutlah akan diburu
oleh sesuatu, ditahan oleh sesuatu atau dijauhkan oleh sesuatu dari Tuhanmu.
Kemudian apabila bagian duniawi datang, maka ambillah dengan tangan syariat dan
menyesuaikan dengan perintah-Nya, dengan kekuatan mengikuti pijakan zuhud;
bukan karena mencari dan mencintai dunia. Zuhud itu apabila berlangsung terus
menerus maka akan terealisasi dalam jasad, kemudian diturunkan ke dalam hati,
menimbulkan penyesalan dan dalam fisik dan kekurusan. Selanjutnya, jika
penyesalan dan kekurusan telah dialami, niscaya akan datang jalan lapang dari
Allah dipenuhi perasaan senang bersama-Nya, ma’rifat kepada-Nya, sehingga
lenyaplah kesedihan dan kebingungan. Orang Mukmin adalah orang yang memutuskan
hati dari makhluk, dari keluarga, harta dan anak. Dia hanya sibuk dengan mereka
sedangkan hatinya menunggu datangnya utusan Tuhan yang menyampaikannya ke pintu
negeri. Benar-benar dia telah meninggalkan keluarganya padahal dia duduk di
antara mereka. Orang Mukmin selamanya suka meninggalkan. Dia ada di antara
makhluk tetapi dia benar-benar meninggalkan mereka. Dia bersama makhluk padahal
tallinya bersama Khalik. Apabila dia menghormati tauhid dalam hatinya, maka
sahlah amalnya dari segi lahir, karena sama saja antara lahir atau batinmu,
kaya atau fakirmu, penerimaan makhluk atau penolakan mereka, serta celaan atau
pujian mereka kepadamu. Bagaimana engkau tidak mengeluarkan celaan dan pujian
padahal hatimu telah sempit dari keduanya, serta telah dipenuhi Allah dan
selalu mengingat-Nya serta merindukan-Nya? Pada saat itu, di sana
pertolongan itu hanya dari Allah yang haq (QS 18:44)
Engkau menjadi orang yang
mencintai Allah dengan sebenarnya, orang berilmu dan mengajarkan ilmunya, yang
menghukumi dengan bijaksana, yang dekat dan juga didekati, yang berkelakuan
baik, yang tidak menggantungkan diri pada makhluk.
Kepada orang yang merasa bodoh,
belajarlah dari kebodohanmu. Engkau
benar-benar telah meninggalkan aktivitas belajar. Sebaliknya sibuk dengan
aktivitas mengajar. Janganlah merasa lelah dengan sesuatu yang datang dari
dirimu sendiri sedangkan orang lain pun tidak merasa beruntung. Sebab, orang
yang tidak pantas mengajar dirinya sendiri, bagaimana bisa mengajar orang lain.
Janganlah menganggap lemah kepada Allah atas qadar-Nya, nanti engkau akan
mendekat kepada orang-orang kafir. Beramallah sesuai dengan hukum sehingga
amalmu menghubungkan mereka dengan ilmu. Apabila amal telah kau perbuat, maka
kau akan melihat kekuasaan Allah. Pada saat itu Dia akan menjadikan alam ini
bisa kau kuasai oleh hati dan batinmu. Apabila di antara kalian dan Allah tidak
ada penghalang, maka Dia akan memberimu kekuasaan atas alam, memperlihatkan
harta terpendam kepadamu, memberimu makan dari karunia-Nya, memberimu minuman
keramahan, serta mendudukkanmu di depan hidangan taqarrub dengan-Nya. Semua itu merupakan buah pengetahuan atas
Kitab dan Sunnah. Amalkanlah Kitab dan Sunnah dan janganlah keluar dari
keduanya hingga Pemilik Ilmu, yaitu Allah Azza wa Jalla, datang kepadamu,
kemudian mengambilmu dibawa kepada-Nya. Bila yang mengajarkan hukum
menyaksikanmu benar-benar tertarik kepada Kitab-Nya, maka dia akan
memindahkanmu kepada kitab ilmu. Apabila kau benar-benar telah berada di sana,
niscaya hatimu dan isinya akan menjadi teguh dan Nabi membawanya ke sisi Tuhan
sambil berkata, “Inilah dirimu dan Tuhanmu.” []
Membebaskan Hati dari Kekhawatiran Dunia
Sibukkan dirimu dalam memperbaiki
diri dan kebajikanmu. Tinggalkanlah
omongan orang dan kegilaan terhadap dunia. Bebaskan hatimu dari kekhawatiran
akan dunia semampumu. Nabi saw. bersabda, “Bebaskan
hatimu dari kekhawatiran akan dunia semampumu.”
Wahai engkau yang tidak mengenal masalah dunia, sadarlah bahwa seandainya
engkau mengenal betul masalah dunia, tentu engkau tidak akan mencarinya.
Apabila dunia mendatangimu, pasti dia akan membuatmu lelah. Apabila engkau
telah makrifat kepada Allah, tentu engkau akan mengenal yang selain-Nya. Akan
tetapi, engkau tidak mengenal Allah, para rasul, para nabi, dan para wali-Nya.
Engkau bisa celaka. Apabila engkau tidak mengambil pelajaran dari apa-apa
yang telah terjadi pada makhluk terdahulu di dunia ini? Carilah sesuatu yang
bersih dari urusan dunia. Tinggalkan pakaian duniawi dan hindarilah. Lepaskan
pakaian nafsumu dan berjalanlah menuju pintu Allah. Apabila engkau telah
melepaskan pakaian nafsu dari dirimu, berarti engkau benar-benar terlepas dari
yang selain Allah Azza wa Jalla. Apabila sesuatu selain Allah masih
mengikutimu, tolaklah dari dirimu. Dengan begitu, niscaya engkau akan melihat
Allah.
Berserah dirilah senantiasa
kepada Allah agar engkau selamat. Berjuanglah untuk-Nya agar engkau mendapat
petunjuk. Bersyukurlah kepada-Nya agar Dia menambah nikmat untukmu. Serahkanlah
dirimu dan orang lain kepada-Nya. Janganlah membantah-Nya untuk dirimu maupun
untuk orang lain. Para wali Allah tidak
menginginkan suatu kehendak selain kehendak Allah. Mereka pun tidak mengajukan
suatu pilihan selain pilihan Allah. Mereka tidak berambisi mencari bagian
duniawinya. Mereka tidak memandang bagian orang lain. Apabila ingin bersahabat
dengan para wali Allah di dunia dan di akhirat, sesuaikan dirimu dengan mereka
dalam ucapan, perbuatan, dan keinginan mereka. Saya melihatmu benar-benar berlawanan dengan mereka. Engkau benar-benar
telah berperilaku yang bertentangan dengan mereka sebagai hasil ketekunanmu
pada malam dan siang hari. Wali Allah berkata kepadamu, “kerjakanlah,” tetapi
engkau tidak mengerjakannya, seolah-olah Dia sebagai hamba dan engkau yang
disembah. Maha Suci Allah, alangkah Maha Pemurah Dia. Seandainya Dia
tidak Pemurah, niscaya engkau akan melihat yang sebaliknya ada pada dirimu.
Apabila engkau ingin berbahagia,
diamlah di hadapan-Nya. Diamnya lahir batin di hadapan saya adalah perilaku
buruk. Jika saya membiarkannya, itu hanyalah karena keringanan saja.
Laksanakanlah perintah-Nya, jauhi larangan-Nya, terimalah takdir-Nya, serta
hindarilah membicarakan lahir dan batinmu di hadapan-Nya. Dengan itu, niscaya engkau akan melihat kebaikan
di dunia dan di akhirat.
Janganlah meminta sesuatu kepada
makhluk, karena mereka lemah serta fakir. Mereka tidak dapat memberi mudarat
atau manfaat bagi dirinya sendiri apalagi bagi orang lain. Bersabarlah bersama
Allah. Jangan menuntut secara tergesa-gesa kepada-Nya; Jangan menyangka kikir
kepada-Nya; dan jangan pula berburuk sangka kepada-Nya. Sebab, Dia lebih sayang
kepadamu dibanding dirimu sendiri. Oleh karena itu, sebagian wali Allah
mengatakan, “Apakah perananku bagi diriku sendiri?”
Sesuaikanlah dirimu senantiasa
dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, karena Dia lebih mengetahui dirimu
dibanding engkau sendiri. Tidaklah
setiap yang kau anggap baik akan diberikan Allah kepada dirimu. Allah
Azza wa Jalla berfirman:
Mungkin kalian membenci sesuatu, padahal sangat baik bagi kalian.
Mungkin kalian menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagi kalian.
Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.
(QS 2: 216)
Allah menciptakan apa yang
kalian tidak mengetahuinya.
(QS 16:8)
Tidaklah kalian diberi
pengetahuan melainkan hanya sedikit.
(QS 17: 85)
Barangsiapa yang ingin menempuh jalan Allah, perbaikilah nafsunya terlebih
dahulu sebelum menempuh jalan tersebut. Nafsu membuat perilakumu menjadi buruk,
karena nafsu mengajak kepada keburukan. Apakah yang kau lakukan di sisi Allah?
Bagaimanakah perjalananmu menuju-Nya? Perangilah nafsumu sehingga kau menjadi
tenteram. Apabila dirimu telah tenteram, ajaklah nafsu itu bersama dirimu
menuju ke pintu-Nya. Janganlah mengikuti nafsu kecuali setelah melakukan riyadhoh (latihan), ta’lim (pengajaran), beradab baik, serta merasa tenteram terhadap
janji Allah ataupun ancaman-Nya. Nafsu itu buta, tuli, gila, serta tidak
mengenal Tuhannya; bahkan memusuhi-Nya. Dengan senantiasa memeranginya maka
akan terbukalah kedua matanya, tertutup mulutnya, telinganya jadi mendengar,
serta hilanglah kegilaan, kebodohan dan permusuhannya kepada Tuhannya. Hal ini
membutuhkan banyak tali pengikat dan sejumlah orang, keberanian, kontinuitas
setiap saat, setiap hari, dan setiap tahun. Semua ini tidak mungkin dicapai
dengan mujahadah sesaat, sehari atau sebulan saja.
Pukullah nafsumu dengan cambuk kelaparan. Jangan memberikan bagiannya dan
menunaikan haknya. Kuasailah nafsu dan janganlah takut terhadap pedang atau
pisaunya. Nafsu sering banyak omong tanpa berbuat, sering berdusta tanpa
kejujuran, suka berjanji tanpa ditepati, tidak punya kasih sayang, serta banyak
melakukan perjalanan tanpa bekal. Iblislah yang menjadi pemimpinnya. Tetapi,
tidak ada kekuatan bagi iblis untuk menghadapi orang-orang mukmin yang benar,
dalam memusuhi dan menentangnya. Lantas bagaimana dengan nafsu?
Janganlah mengira bahwa iblis masuk surga dan mengeluarkan Adam a.s. dari
surga dengan kekuatannya sendiri. Allah-lah yang memberinya kekuatan untuk
melakukan itu dan menjadikannya sebagai penyebab, bukan karena kekuatan iblis.
Wahai engkau yang lemah akal, janganlah menghindar dari jalan Allah Azza wa
Jalla, karena dengan nafsu itu, Allah hendak mengujimu. Allah lebih mengetahui
kemaslahatanmu daripada dirimu sendiri. Tidaklah Allah menguji dirimu melainkan
ada faidah dan hikmahnya. Apabila Dia mengujimu, hendaklah senantiasa tabah.
Ingatlah dosa-dosamu serta perbanyaklah memohon ampun dan taubat. Hendaklah
memohon kepada-Nya kesabaran dan ketabahan atas ujian itu. Tetaplah di sisi-Nya
dan carilah rahmat-Nya senantiasa. Hendaklah memohon kepada-Nya tersingkapnya
hijab di balik ujian itu atas dirimu dan kejelasan aspek kebaikannya.
Apabla ingin meraih kebahagiaan,
hendaklah senantiasa bersahabat dengan syaikh yang memahami hukum-hukum Allah
dan ilmu-Nya; yang mengajar, mendidik, dan mengenalkanmu pada jalan menuju
Allah. Orang yang menghendaki hal itu tentu harus punya seorang penuntun dan
penunjuk arah, karena dia berada di gurun yang penuh kalajengking, ular dan
binatang buas lain yang berbahaya, sehingga dikhawatirkan dia mendapat bahaya.
Adanya penuntun akan menunjukkannya ke suatu tempat yang ada air dan
pohon-pohon yang berbuah. Apabila dia sendirian tanpa seorang penuntun pun,
niscaya dia akan terjerumus ke tempat yang banyak kalajengking, ular, dan
binatang buas lainnya.
Wahai engkau yang bepergian di jalan dunia, janganlah memisahkan diri dari
rombongan, penunjuk jalan dan teman-teman. Kalau terpisah, maka akan hilanglah
harta dan nyawamu.
Sementara engkau yang bepergian di jalan akhirat, hendaklah tetap bersama
seorang penunjuk yang dapat mengantarkanmu ke tujuanmu. Layanilah dia di
perjalanan dan bersikaplah baik kepadanya. Janganlah membantah pendapatnya,
sebab dia akan mengajari dan mendekatkan dirimu kepada-Nya. Setelah itu, di
perjalanan dia akan memintamu menggantikannya karena melihat kepandaian,
kejujuran dan kecerdikanmu. Kemudian dia akan menjadikanmu sebagai pemimpin.
Dia akan memintamu untuk menggantikan posisinya dalam kendaraan. Keadaan itu
akan terus berlangsung pada dirimu sampai dia membawamu kepada Nabi s.a.w.
Selanjutnya dia menyerahkan dirimu kepada beliau sehingga engkau menjadi lebih
dekat. Setelah itu, dia akan memintamu untuk menguasai hati, tingkah laku, dan
jiwa. Dengan itu, engkau menjadi pengembara antara Allah Azza wa Jalla dan
makhluknya serta menjadi pelayan di hadapan Nabi s.a.w. Berkali-kali engkau
akan datang kepada makhluk dan Khalik. Semua itu tidak akan datang dengan
tangan hampa dan angan-angan, tetapi dengan sesuatu yang menghujam di dalam
dada serta dibuktikan dengan amal perbuatan.
Wali Allah sering berperilaku tidak sejalan dengan keluarganya. Dari sejuta
orang, mungkin hanya seorang yang dapat memutuskan nafsu sehingga sejalan dengannya.
Para wali Allah senantiasa mendengarkan firman Allah dengan hati dan jiwa
mereka. Apa yang mereka dengar, mereka realisasikan dengan perbuatan anggota
badannya.
Engkau yang tidak pintar, hendaklah bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla,
kembalilah ke jalan orang-orang yang benar. Ikutilah mereka dalam ucapan dan
perbuatan. Jangan mengikuti jalan orang-orang munafik yang mencari dunia,
berpaling dari akhirat, serta meninggalkan jalan Allah yang telah ditempuh
orang-orang terdahulu. Orang-orang munafik mencari jalan orang-orang yang malas
dan mereka tidak menempuh jalan benar yang merupakan jalan menuju Allah Azza wa
Jalla.
Wahai anakku, ingatlah bahwa mereka inilah orang-orang yang kau jadikan
teman di dunia demi dunia ini, sementara di akhirat kelak, kau tidak akan
melihatnya. Hubunganmu dengan mereka akan terputus. Bagaimana hubunganmu dengan
teman-temanmu yang berakhlak buruk tidak terputus, sedangkan kau bergaul bukan
karena Allah? Apabila memang harus bergaul dengan makhluk, hendaklah bergaul dengan
orang-orang yang suka menjauhi perkara-perkara yang dilarang Allah, yang tidak
cinta akan dunia, yang makrifat pada Allah, serta yang mengamalkan perintah
Allah Azza wa Jalla. Hendaklah bergaul dengan orang-orang yang dapat
menjauhkanmu dari makhluk dan mendekatkanmu kepada Allah Azza wa Jalla; yang
menyelamatkanmu dari kesesatan dan membawamu pada kebaikan; yang bisa menutup
kedua matamu dari pandangan dunia kemudian membukanya untuk akhirat; yang dapat
menghempaskan kedudukan duniawi dari hadapanmu dan menggantikannya dengan
kedudukan akhirat; serta yang dapat menyelamatkan diri dari bahaya ular,
kalajengking, dan binatan buas lainnya, serta menempatkanmu di tempat yang
aman, tenang dan nyaman. Hendaklah bergaul dengan orang yang bersifat seperti itu
dan bersabarlah atas perkataannya. Terimalah perintah dan larangannya, niscaya
akan melihat kebaikan dengan segera. Persiapkanlah diri untuk beramal. Kemudian
apabila Allah telah menetapkan amalmu maka engkau pun akan beramal. Carilah
jalan untuk beramal, bertawakallah dan tetaplah di atas jalan amal. Terjunkan
dirimu ke lautan tawakal sehingga engkau akan menemukan jalan menuju amal dan
mengamalkannya. []
Mengikuti Rasulullah saw.
Dunia itu ibarat pasar yang tidak
lama lagi akan tutup. Oleh karena itu, hendaklah engkau menutup pintu-pintu
untuk memandang makhluk dan bukalah pintu untuk melihat Allah Azza wa Jalla.
Hendaklah engkau menutup pintu-pintu usaha dan sebab (perantara) dengan keadaan
bersih hati dan batin dalam setiap hal yang khusus bagimu; bukan dalam hal yang
umum untuk keluarga dan para pengikut selain dirimu. Lalu, hendaklah engkau
berusaha utuk orang lain, usaha yang bermanfaat untuk orang lain, serta
menghasilkan sesuatu untuk orang lain. Hendaklah engkau mencari apa yang khusus
untuk dirimu berupa impian karunia-Nya. Dudukkanlah hawa nafsumu di samping
dunia dan dudukkanlah hatimu di samping akhirat, serta batinmu disisi Tuhan. Sesungguhnya
kau mengetahui apa yang kau inginkan.
Kaum Muslim adalah pengganti para
Nabi. Oleh karena itu, hendaklah
engkau menerima dan melaksanakan apa yang mereka perintahkan kepadamu. Sebab,
mereka menyuruhmu dengan perintah Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, serta
mereka melarang dengan larangan Allah dan Rasul-Nya. Para nabi berbicara lalu
mereka pun berbicara. Para nabi diberi dan mereka pun mengambil. Mereka tidak
bergerak dengan gerakan watak dan hawa nafsunya. Mereka tidak menyekutukan
Allah Azza wa Jalla dan agama-Nya dengan hawa nafsunya. Mereka mengikuti
Rasulullah saw. dalam ucapan dan perbuatannya. Mereka mendengarkan firman Allah
Azza wa Jalla.
Apa yang diperintahkan Rasul
kepadamu maka terimalah, sementara apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah. (QS 59:7)
Mereka mengikuti Rasulullah saw.
sehingga beliau membawa mereka kepada yang mengutus beliau. Mereka mendekatkan
diri pada Nabi saw. sehingga beliau pun mendekatkan mereka kepada Allah Azza wa
Jalla. Beliau menganugerahkan bagi
mereka julukan, anugerah, dan pengaturan atas makhluk.
Wahai orang Munafik, engkau mengira bahwa agama adalah kebaikan, dan
perintah adalah sia-sia. Tidak ada kemuliaan bagimu, tidak juga bagi setanmu,
juga bagi sahabatmu yang jahat.
Ya Allah, berikanlah tobat kepadaku
dan mereka, serta bersihkanlah mereka dari hinanya kemunafikan dan dari ikatan
syirik.
Hendaklah engkau menyembah Allah Azza wa Jalla dan memohon pertolongan
untuk menyembah-Nya dengan usaha yang halal. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
mencintai hamba yang beriman dan taat, yang makan dari yang halal. Dia
mencintai orang yang makan dan beramal dan murka kepada orang yang makan dan
tidak beramal. Dia mencintai orang yang makan dengan hasil usahanya dan murka
kepada orang yang makan dengan kemunafikannya dan menggantungkan dirinya kepada
makhluk. Dia mencintai orang yang tauhid kepada-Nya dan murka kepada orang yang
menyekutukan-Nya. Dia mencintai orang yang berserah diri kepada-Nya dan murka
kepada orang yang menghindar dari-Nya. Di antara syarat mencintai adalah
kesesuaian, dan di antara ciri permusuhan adalah pertentangan. Oleh karena itu,
hendaklah engkau berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla dan rela atas
pengaturan-Nya di dunia dan di akhirat. Allah hanya membutuhkan beberapa hari
saja untuk membukakannya. Allah menambahkan kepada saya dengan cobaan yang
lain, saya merasa bingung dalam menghadapinya. Tiba-tiba ada yang berkata
kepada saya, “Mengapa engkau tidak mengatakan kepada kami sejak awal tentang
keadaanmu ketika engkau berserah diri?” Lalu saya tersadar dan saya pun diam.
Celakalah, jika engkau mengaku
mencintai Allah Azza wa Jalla tetapi kau juga mencintai yang selain Dia. Dia
itu Mahasuci sedangkan yang selain Dia adalah kotor. Artinya, apabila engkau
mengotori yang suci dengan mencintai selain Dia, maka Dia akan mengotorimu. Dia
akan berbuat kepadamu seperti Dia berbuat kepada Nabi Ibrahim al-Khalil a.a.
dan kepada putra Ya;qub a.s. Pada saat hati keduanya condong kepada putra-putra
mereka, maka Dia menguji mereka. Juga kepada Nabi kita Muhammad saw. ketika
beliau condong kepada kedua cucunya yaitu Hasan dan Husain, maka datanglah
Malaikat Jibril kepadanya dan bertanya, “Apakah engkau mencintai mereka?”
Beliau menjawab “Ya.”
Kemudian Jibril berkata, “Salah
seorang di antara mereka akan diberi minum racun, sedangkan yang lainnya akan
dibunuh.”
Setelah itu, keluarlah mereka
dari hati beliau dan beliau mengosongkan hatinya untuk Allah Azza wa Jalla
sehingga kebahagiaan terhadap mereka telah mengubah kesedihan terhadap mereka.
Allah selalu memperhatikan hati para nabi, para wali serta hamba-hamba-Nya yang
shalih.
Wahai para pencari dunia dan
orang-orang Munafik, hendaklah kalian membuka tangan kalian, niscaya kalian
tidak melihat apa-apa di sana .
Celakalah, jika engkau bersikap
zuhud dalam usaha, engkau hanya duduk-duduk saja, dan malah memakan harta orang
lain atas nama agamamu. Usaha itu adalah pekerjaan para nabi semuanya. Tidak
ada di antara mereka kecuali orang yang punya pekerjaan atau kasab. Sementara
di akhirat mereka mengambil dari makhluk dengan izin Allah Azza wa Jalla.
Wahai orang yang mabuk oleh arak
dunia, oleh syahwat dan kegilaannya, ingatlah bahwa sebentar lagi engkau akan
tersadar di lubang kuburmu. []`
Subscribe to:
Posts (Atom)