Friday, May 10, 2013

Sebab-sebab Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya


Di manakah pengabdianmu kepada Allah? Ambillah hakikat ibadah dan laksanakanlah seluruh urusanmu. Engkau adalah hamba yang melarikan diri dari Allah. Karena itu, kembalilah kepada-Nya, hinakan dirimu di hadapan-Nya, serta bersikaplah tawadhu terhadap seluruh perintah-Nya dengan cara melaksanakannya, meninggalkan larangan-Nya, dan menunaikannya dengan penuh kesabaran dan keselarasan. Apabila hal itu telah sempurna, sempurnalah pengabdianmu kepada Allah, lalu akan datang kepadamu kecukupan dari-Nya. Allah SWT berfirman:

Bukankah Allah telah mencukupi (kebutuhan) para hamba-Nya? (QS 39: 36)

Apabila pengabdianmu kepada-Nya telah sempurna, niscaya Dia akan mencintaimu; menguatkan cintamu kepada-Nya di dalam hatimu; berlemah-lembut kepadamu; serta mendekatimu tanpa merasa jemu dan tanpa menuntutmu untuk bersahabat dengan selain Diri-Nya, sehingga engkau menjadi ridha kepada-Nya di dalam seluruh keadaanmu. Kalaupun bumi menyempitkan dirimu dan pintu-pintunya tertutup untukmu, engkau tidak akan marah kepada-Nya; mendekat kepada selain-Nya, dan makan dari makanan yang berasal dari selain-Nya.

Jadilah seperti Musa a.s. seperti dalam firman Allah SWT :

Kami telah mencegah Musa dari menyusu kepada wanita yang mau menyusui sebelumnya… (QS 28: 12)

Tuhan kita, Allah SWT; menyaksikan segala sesuatu, hadir dalam segala sesuatu; mengawasi segala sesuatu; dan dekat dengan segala sesuatu. Tidak cukupkah hal itu bagimu hingga kau ingkar setelah makrifat kepada-Nya?

Engkau bisa celaka, jika mengetahui Allah tetapi kau kembali mengingkari-Nya. Janganlah mengingkari-Nya kembali, sebab engkau tidak akan memperoleh kebaikan seluruhnya. Bersabarlah dengan-Nya dan jangan bersabar dari-Nya. Bukankah kau tahu bahwa siapa saja yang sabar pasti memiliki kemampuan?

Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kalian; tetaplah bersiap-siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung (QS 3: 200)

Tentang sabar, banyak sekali ayat Alquran yang menunjukkan bahwa dalam kesabaran terkandung kebaikan dan nikmat; bagusnya pahala, pemberian dan ketentraman dunia dan akhirat. Engkau mesti bersabar, niscaya akan segera melihat kebaikan, cepat atau lambat. Engkau mesti sering berziarah kubur, mengunjungi orang-orang salih, mengerjakan kebaikan, niscaya akan tegak urusanmu. Janganlah menjadi bagian dari orang-orang yang jika dinasihati, tidak menurutinya; jika mendengar, tidak mengamalkan apa yang mereka dengar.

Hilangnya agamamu adalah karena empat faktor: (1) Engkau tidak mengamalkan apa yang kau ketahui. (2) Engkau mengamalkan apa yang tidak kau ketahui. (3) Engkau tidak mencari tahu apa yang tidak kau ketahui. (4) Engkau menolak manusia yang akan mengajarimu sesuatu yang tidak kau ketahui.

Apabila engkau menghadiri berbagai majelis zikir, hadirilah demi kenyamanan, bukan demi pengobatan. Engkau telah berpaling dari nasihat para pemberi nasihat. Engkau memelihara kesalahan dan ketergelinciran atasnya. Engkau mengolok-olok, tertawa-tawa dan bermain-main. Engkau adalah petualang yang menantang bahaya. Oleh karena itu, segeralah bertobat, janganlah meniru musuh-musuh Allah, dan manfaatkan apa yang telah kau dengar.

Engkau telah terikat dengan adat, sementara Allah telah menentukan (agar manusia) mencari bagian rezekinya, tidak diam pada sebab, jangan melupakan musabab, dan senantiasa bertawakal kepada-Nya.

Engkau mesti melazimkan amal dan ikhlas. Allah SWT berfirman:

Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku
(QS 51: 56)

Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia untuk bersandiwara; tidaklah Allah menciptakan mereka untuk main-main; tidak mungkin juga Allah menciptakan mereka untuk sekadar makan, minum, tidur dan kawin semata. Oleh karena itu, kepada orang-orang yang lalai, hendaklah segera ingat dari kelalaian kalian. Langkahkanlah hati kalian kepada-Nya selangkah, niscaya cinta-Nya kepada kalian maju beberapa langkah. Allah, terhadap perjumpaan dengan para pencinta-Nya, lebih dalam kerinduan-Nya ketimbang kerinduan mereka kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

Dia memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas (QS 2: 212)

Apabila seorang hamba menghendaki perkara yang telah ia persiapkan, hal itu terkait dengan makna, bukan dengan bentuk. Apabila telah sempurna para seorang hamba apa yang disebutkan tadi, berarti dia telah berzuhud terhadap dunia dan akhirat serta terhadap semua hal selain Allah. Akan datang kepadanya kesehatan, kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan. Untuk dirinya, kerikil menjadi gunung; tetesan air menjadi lautan; bintang menjadi rembulan; bulan menjadi mentari; sedikit menjadi banyak; tidak ada menjadi ada; kefanaan menjadi kekal; gerak menjadi diam; pohonnya meninggi dan bergerak menuju Arsy, sementara akarnya mengarah ke bumi serta dahan-dahannya di dunia dan akhirat. Apakah dahan-dahan itu? Yaitu hukum dan ilmu.

Dunia di sisinya menjadi seperti lingkaran yang tidak mengenakkan. Tidak ada dunia yang memilikinya, tidak ada akhirat yang mengikatnya; tidak ada raja yang menguasainya maupun kerajaan yang dimilikinya; tidak ada hijab yang menghalanginya; tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya; tidak ada noda yang mengotorinya. Apabila telah sempurna semua itu pada diri seorang hamba, layaklah hamba tersebut untuk selalu menyertai Allah; mengambil dan memurnikan dengan tangan mereka bagiannya dari samudera dunia ini. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menjadikannya petunjuk dan dokter bagi manusia; menjadikannya pendidik dan pelatih mereka; menjadikannya pemandu dan tukang memperbaiki mereka; serta menjadikannya lampu penerang dan cahaya mentari bagi mereka. Jika tidak menghendakinya seperti itu, pasti Dia akan menghijabnya dari Diri-Nya dan menggaibkannya dari selain-Nya. Salah seorang yang seperti itu mengembalikan mereka kepada makhluk dengan penjagaan dan pengamanan yang sempurna; menyelaraskan mereka demi kemaslahatan makhluk; dan menunjuki mereka. Seorang yang zuhud terhadap dunia akan diuji dengan akhirat. Sementara orang yang zuhud terhadap dunia dan akhirat, dia akan diuji dengan Tuhan dunia dan akhirat. Sebagian besar manusia telah lalai seolah-olah mereka tidak akan mati; seolah-olah pada Hari Kiamat tidak akan dikumpulkan di padang Mahsyar; seolah-olah mereka tidak akan di hisab di hadapan Allah; dan seolah-olah mereka tidak akan diperjalankan di atas Shirath al Mustaqim.

Itulah sifat-sifatmu, sementara engkau diseru kepada Islam dan keimanan. Alquran dan ilmu akan mendakwamu bila engkau tidak mengamalkan keduanya. Apabila engkau hadir di tengah-tengah para ulama tetapi engkau tidak menerima apa yang mereka katakan, kehadiranmu di tengah mereka akan mendakwamu pula. Pada Hari Kiamat, seluruh makhluk secara umum akan merasa takut kepada keagungan Allah SWT; kepada kebesaran, wibawa, dan keadilan-Nya; yang dapat meluluh-lantakkan kerajaan-kerajaan di dunia dan mengekalkan kerajaan-Nya. Semua makhluk akan kembali kepada-Nya pada Hari Kiamat; tampaklah raja-raja dari berbagai kaum; dan tampaklah keagungan dan kekayaan mereka; Allah memuliakan mereka pada hari itu. Mereka memenuhi para hamba, gunung-gunung, dan lembah-lembah. Allah mengawasi bumi melalui mereka. Mereka adalah para penguasa dan pemimpin manusia serta para wakil Allah SWT. Hal demikian dipahami dari segi makna, bukan dari segi bentuk. Hari ini adalah makna, sementara besok adalah bentuk. Keberanian orang-orang yang berperang melawan orang-orang kafir adalah, ketika mereka bertemu dengan orang-orang kafir tersebut, mereka bersikap teguh di hadapan mereka. Sementara keberanian orang-orang salih adalah ketika mereka menghadapi diri mereka, nafsu, tabiat, setan dan kawan-kawan buruk mereka yang merupakan setan dari kelompok manusia. Sedangkan keberanian orang-orang yang khawwash (istimewa) adalah dalam kezuhudan mereka terhadap dunia dan akhirat serta terhadap apa yang selain Allah secara keseluruhan.

Wahai anakku, ingatlah sebelum diingatkan oleh sesuatu yang bukan urusanmu. Condong dan bergaullah dengan para ahli agama, sebab sesungguhnya merekalah sebenar-benar manusia. Orang yang paling berakal di tengah-tengah manusia adalah mereka yang paling taat kepada Allah. Sementara itu, orang yang paling bodoh di antara manusia adalah mereka yang bermaksiat kepada-Nya.

Nabi saw. bersabda, “Kotorilah tanganmu” Yakni, cintailah kefakiran, jika kau seorang kaya. Apabila kau bergaul dengan ahli agama dan mencintai mereka, niscaya engkau akan menjadi orang kaya dan hatimu akan menjauh dari perbuatan nifak dan para pelakunya. Orang munafik bersikap riya terhadap amalnya. Tidak ada yang diterima darimu kecuali apa yang ditujukan semata-mata karena Allah. Tidak ada yang diterima bentuk amalmu, tetapi yang diterima adalah niatnya. Jika engkau menentang diri, hawa nafsu, syetan, dan duniamu dalam amal-amalmu, Dia akan menerima amal-amal itu darimu. Oleh karena itu, hendaklah engkau beramal dan bersikap ikhlas, dan jangan terlalu mempedulikan seluruh amal-amalmu. Tidaklah diterima amalanmu kecuali yang kau maksudkan karena Allah, bukan karena manusia.

Engkau akan celaka jika beramal karena makhluk, sementara kau ingin agar Allah menerima amalmu. Tinggalkanlah keburukan, kesombongan dan kegembiraan karena amalmu. Kurangilah kegembiraanmu itu dan perbanyaklah kekhawatiranmu. Sebab, sesungguhnya engkau ada di kampung kekhawatiran dan penjara (yakni dunia).

Nabi kita, Muhammad saw. selalu melazimkan tafakur. Dia sedikit bergembira dan banyak khawatir; sedikit tertawa kecuali senyum untuk menghibur orang lain. Di dalam hatinya selalu ada kekhawatiran dan kesibukan. Seandainya bukan karena para sahabat dan urusan-urusan dunia, niscaya dia akan keluar dari rumahnya sementara tidak ada seorang pun yang berdiri bersamanya (ber-uzlah).

Jika engkau telah benar dalam berkhalwat dengan Allah, niscaya hatimu akan bening dan jiwamu akan bersih; pandanganmu peka dan hatimu akan selalu berpikir; serta ruhani dan tujuanmu kepada Allah akan sampai. Memikirkan dunia adalah siksaan dan hijab, sementara memikirkan akhirat adalah ilmu dan kehidupan bagi hati. Seorang hamba yang bertafakur pasti akan diberi ilmu tentang berbagai ihwal dunia dan akhirat.

Janganlah menenggelamkan hatimu dalam lautan dunia, padahal Allah telah mengosongkannya dari dunia yang menjadi bagianmu. Dia juga membatasi waktu-waktunya yang dikenal di sisi-Nya. Setiap hari rezeki diperbarui, baik yang selalu kau cari maupun yang tidak kau cari. Jika engkau terlalu bernafsu pada harta, maka harta akan menodaimu, baik di sisi Allah maupun di sisi makhluk. Dengan berkurangnya keimanan, engkau mencari rezeki; dengan bertambahnya keimanan, engkau berdiri mengharapnya; serta dengan kesempurnaan dan keparipurnaannya, engkau tidak mempedulikannya.

Janganlah mencampuradukkan antara sikap rajin dan malas. Sebab, engkau tidak mungkin memposisikan hatimu dengan makhluk, lantas bagaimana engkau bisa mempersatukannya dengan Allah, sementara engkau menyekutukan-Nya dengan makhluk. Bagaimana mungkin engkau bisa bersama musabab? Bagaimana mungkin bersatu lahir dan batin; apa yang kau pikirkan dan apa yang tidak kau pikirkan? Alangkah bodoh orang yang melupakan musabab dan sibuk dengan sebab. Dia bersama-sama yang kedua dan meninggalkan yang pertama; dia melupakan yang kekal dan bersama-sama dengan yang fana.

Persahabatanmu dengan orang-orang bodoh akan menyebabkan mereka menentangmu karena kebodohan mereka. Oleh karena itu, hendaklah bersahabat dengan orang mukmin yang teguh, berilmu dan mengamalkan ilmunya. Yang paling baik di antara seluruh ihwal kaum mukmin di dalam seluruh perilaku mereka, adalah yang paling kuat mujahadah­-nya, serta yang paling kuat dalam memerangi diri dan hawa nafsu mereka. Oleh karena itu, Nabi saw. bersabda, “Kegembiraan seorang mukmin terletak pada wajahnya, sementara kesedihannya terletak dalam hatinya.”

Karena beggitu kuatnya, dia mampu menampakkan kegembiraan di wajahnya, dan menyembunyikan kesedihan di dalam hatinya yang hanya diketahui oleh Allah dan dirinya. Semangatnya selalu menyala, banyak berpikir, banyak menangis, dan sedikit tertawa. Oleh karena itu pula Nabi saw. bersabda, “Tidak ada yang menentramkan seorang mukmin kecuali pertemuannya dengan Allah Azza wa Jalla.”

Seorang mukmin akan menutupi kesedihan dengan kegembiraannya. Secara lahiriah dia tampak sibuk di dalam aktivitasnya, sementara batinnya tenang di sisi Allah SWT. Secara lahiriah ia bekerja untuk keluarganya, sementara batinnya bekerja untuk Allah. Dia tidak menyebarkan rahasia keadaaannya itu kepada keluarga, anak-anak dan tetangganya; tidak juga kepada satu pun makhluk-Nya. Dia mendengar sabda Nabi saw., “Lindungilah urusan-urusan kalian dengan cara merahasiakannya.”

Seorang mukmin senantiasa menutupi apa yang ada di dalam dirinya. Apabila datang kepadanya dorongan atau keluar dari lisannya satu kalimat saja, maka akan kacaulah urusannya dan berubahlah pengertiannya. Dia akan berusaha menutupi apa yang tampak dan mengkhawatirkan apa yang terlihat dari dirinya.

Hendaklah engkau menjadikan saya sebagai cermin bagimu. Jadikanlah saya cermin bagi hatimu serta cermin amal-amalmu. Mendekatlah kepada saya, sebab sesungguhnya engkau akan melihat dalam dirimu apa yang tidak kau lihat sebelumnya. Apabila engkau membutuhkan agamamu, kau mesti bersama saya. Sesungguhnya saya tidak akan mempermainkanmu dalam agama Allah. Saya tidak merasa malu untuk kembali ke dalam agama Allah.

Tinggalkanlah dunia di rumahmu dan mendekatlah kepada saya. Sesungguhnya saya berdiri di pintu akhirat. Oleh karena itu, berdirilah bersama saya dan dengarkanlah kata-kata saya; beramallah untuk-Nya sebelum engkau mati dalam waktu dekat ini. Gunakanlah waktumu untuk takut kepada Allah. Apabila engkau tidak memiliki rasa takut, engkau tidak akan merasa aman di dunia dan akhirat. Takut kepada Allah adalah dengan ilmu. Oleh karena itulah, Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para hamba-Nya yang berilmu
(QS 35: 28)

Tidak takut kepada Allah kecuali para ulama yang mengamalkan ilmunya. Merekalah orang yang beramal dan berilmu. Mereka tidak menuntut pahala dari Allah atas amal-amal mereka. Akan tetapi, mereka hanya berharap dapat bertemu dengan wajah-Nya dan ingin dekat dengan-Nya; ingin mencintai-Nya dan ikhlas. Para ulama ingin agar Allah tidak menutup pintu dunia dan akhirat. Mereka tidak merindukan dunia, tidak juga akhirat dan apapun selain Diri-Nya. Dunia bagi orang lain, dan akhirat pun demikian. Allah adalah milik suatu kaum, yakni orang-orang Mukmin yang yakin, bermakrifat dan cinta kepada-Nya; yang bertakwa dan takut kepada-Nya; serta yang merasa khawatir dan sedih karena-Nya. Mereka takut kepada Allah karena kegaiban-Nya. Allah gaib dari penglihatan lahiriah mereka, tetapi hadir atau tampak pada matahati mereka. Bagaimana mereka tidak takut kepada-Nya, sementara Dia setiap hari sibuk, mengubah dan mengganti; menolong dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan sesuatu; menerima ini dan menolak itu; serta mendekatkan ini dan menjauhkan itu?

Allah SWT berfirman:

Dia tidak ditanya atas apa yang Dia kerjakan; merekalah yang akan ditanya (QS 21: 23)

Ya Allah, dekatkanlah kami kepada-Mu
Dan janganlah Engkau menjauhkan kami dari-Mu.
Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat,
Serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka []

(Syaikh Abdul Qadir Jailani)

No comments:

Post a Comment