Friday, August 3, 2012

Tobat, Langkah Pertama Menuju Kesempurnaan

Kami telah menjelaskan beberapa maqam dan ahwal ruhani. Ketahuilah, semua maqam ini pada hakikatnya dicapai melalui tobat. Cara tobat hanya dapat diketahui dari orang yang mengetahui caranya dan ia sendiri benar-benar telah bertobat. Tobat yang sungguh-sungguh dan ikhlas merupakan langkah pertama di jalan ruhani. Ketika orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada rasul-Nya, dan kepada orang yang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa. Dan mereka berhak atas kalimat takwa itu, dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al Fath [48]: 26) Maqam takwa memiliki makna yang sama dengan laa ilaaha illallaah: tak ada tuhan, tak ada sesuatu pun – selain Allah. Sebab, orang yang mengetahui hal ini akan takut kehilangan Dia, kehilangan rahmat, cinta dan kasih sayang-Nya, ia takut dan malu melakukan maksiat dan takut akan azab-Nya. Jika seseorang belum mencapai tingkatan ini, ia harus mencari orang yang benar-benar telah dianugerahi oleh Allah rasa takut kepada-Nya. Sumber yang melahirkan kata-kata ini harus disucikan dan dibersihkan dari segala sesuatu selain Allah. Orang yang menerimanya harus mampu membedakan antara kata-kata orang yang berhati suci dengan kata-kata orang awam. Ia juga harus memahami bagaimana kata itu diucapkan, karena kata-kata yang terdengar sama mungkin saja memiliki arti yang jauh berbeda. Mustahil kata yang muncul dari sumber yang suci akan bermakna sama dengan kata-kata yang muncul dari sumber lainnya. Hati hanya akan hidup jika dia menerima benih tauhid dari hati yang hidup, karena benih semacam itu merupakan benih yang sehat dan hidup. Tak ada sesuatu pun yang dapat tumbuh dari benih yang kering dan mati. Kalimat laa ilaaha illallaah disebutkan sebanyak dua kali dalam Alquran: Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka “laa ilaaha illallaah”, mereka menyombongkan diri dan berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami?” (QS Ash Shaffaat [37]: 35-36) Inilah tingkatan kaum awam. Bagi mereka, wujud lahir – termasuk eksistensi lahiriah mereka – adalah Tuhan. Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu (QS Muhammad [47]: 19) Firman Allah ini menjadi petunjuk bagi kaum mukmin sejati yang takut kepada Allah. Hadhrah Ali r.a. meminta Rasulullah untuk mengajarinya jalan keselamatan yang paling mudah, paling bermakna dan paling tepat. Rasulullah saw. menunggu Jibril a.s. membawa jawaban dari Allah SWT. Akhirnya ia datang dan mengajari Rasulullah saw. untuk mengucapkan “laa ilaaha – Tidak ada tuhan” seraya memalingkan wajahnya ke kanan, dan mengucapkan “illallaah” – “kecuali Allah” seraya memalingkan wajahnya ke kiri, ke arah hatinya yang suci. Ia mengulanginya tiga kali. Rasulullah saw. sendiri mengulanginya sebanyak tiga kali, begitu pun ketika mengajarkannya kepada Hadhrah Ali r.a., yang kemudian mengajarkan kalimat tauhid itu kepada para sahabatnya. Hadhrah Ali r.a. adalah orang pertama yang memintanya dan diajari oleh Rasulullah. Suatu hari, sepulangnya dari sebuah perang besar, Rasulullah saw. bersabda kepada para pengikutnya, “Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.”, yaitu jihad melawan nafsu dan syahwat. Itulah makna kalimat tauhid. Dalam hadis lainnya Rasulullah bersabda, “Musuh terbesar kalian berada di bawah tulang rusuk kalian.” Cinta Ilahi takkan hidup memenuhi hatimu kecuali jika sang musuh, yakni nafsu, telah binasa dan meninggalkanmu. Agar cinta Ilahi dapat menempati hatimu, pertama-tama kau harus menyucikan dirimu dari hawa nafsu yang menyuruh seluruh wujudmu kepada kejahatan. Setelah itu kau akan memiliki kesadaran meskipun tak sepenuhnya bersih dari dosa. Kau akan memiliki rasa bersalah. Namun, perasaan itu tidak cukup. Kau harus melewati tangga itu menuju maqam penyingkapan hakikat, baik hakikat kebaikan maupun keburukan. Setelah itu, kau akan berhenti melakukan maksiat untuk hanya melakukan kebaikan. Dengan demikian, kau telah menyucikan dirimu. Untuk melawan hawa nafsu, perangilah dulu nafsu hewanimu – sifat rakus, tidur yang berlebihan, kelalaian – dan perangilah sifat hewan buas dalam dirimu: sifat buruk, amarah, keras dan kejam. Lalu jauhkanlah dirimu dari kebiasaan jahat hawa nafsu: bersifat angkuh, sombong, iri, dendam, tamak, dan semua penyakit lahir maupun batin. Dengan menempuh langkah-langkah itu berarti kau telah melakukan pertobatan yang sebenarnya dan telah menyucikan dirimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang yang menyucikan diri (Al Baqarah [2]: 222) Pertobatan tidak membutuhkan penyesalan semu. Sebab, begitu banyak orang yang bertobat namun tobat mereka tidak diterima, sebagaimana firman Allah: Seberapa sering pun mereka bertobat, mereka tidaklah sungguh-sungguh bertobat, dan tobat mereka tidak diterima. Penegasan ini mengacu pada perilaku banyak orang yang sekedar mengungkapkan penyesalan tanpa menyadari kesalahan mereka, dan tidak memiliki tekad yang kuat untuk tidak melakukan dosa lagi, atau bahkan ia tetap saja tenggelam dalam lumpur dosa. Itulah tobat kaum awam, tobat lahiriah, yang sama sekali tidak berpengaruh pada penyebab dosa. Mereka laksana orang yang ingin menghilangkan rumput dengan memotongnya, bukan mencabut akarnya. Cara itu hanya semakin menyuburkan rumput. Orang yang bertobat seraya menyadari kesalahannya dan penyebabnya adalah seperti orang yang mencabut rumput itu hingga ke akar-akarnya. Alat yang digunakan untuk mencabut rumput itu adalah ajaran ruhani yang diterimanya dari guru sejati. Seseorang harus membersihkan tanah sebelum menanami ladang. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir (QS Al Hasyr [59]: 21) Kecuali orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh, kejahatan mereka akan diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al Furqaan [25]: 70) Ketahuilah, salah satu tanda diterimanya taubat adalah ketika seseorang tidak legi melakukan dosa yang sama sepanjang hidupnya. Tobat terbagi dalam dua macam, yaitu tobat orang awan dan tobat orang mukmin yang ikhlas. Orang awam berharap meninggalkan kejahatan menuju ketaatan dengan cara mengingat Allah serta berusaha keras meninggalkan hawa nafsu dan menaklukkan hasrat. Ia harus melawan nafsu yang selalu memberontak terhadap ajaran-ajaran Allah. Itulah tobat kaum awam, yang mungkin dapat menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke surga. Tobat seorang mukmin yang ikhlas, hamba sejati Allah, jauh berbeda. Mereka telah mencapai maqam makrifat, yang jauh lebih mulia daripada keadaan terbaik seorang awam. Sebenarnya, tidak ada lagi anak tangga yang bisa mereka naiki, karena mereka telah mencapai kedekatan kepada Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan duniawi dan tengah merasakan kelezatan alam ruhani – nikmat kedekatan dan keintiman dengan Allah, kenikmatan menatap zat-Nya dengan mata kebahagiaan. Pemahaman kaum awam bersifat duniawi. Kesenangan mereka terletak pada kenikmatan lahiriah. Sekalipun manusia secara lahiriah dan semesta lahiriah pada hakikatnya merupakan realitas semu yang menyesatkan, kenikmatan itu merupakan kenikmatan terbaik yang dapat mereka rasakan. Ini sesuai dengan ujaran yang menyatakan bahwa “Keberadaanmu adalah dosa besar, begitu besarnya sehingga dosa-dosa lain menjadi kecil.” Orang bijak sering mengatakan bahwa amal baik seseorang yang tidak mencapai tingkat kedekatan kepada Allah tidaklah lebih baik daripada kesalahan orang yang dekat kepada-Nya. Karena itu, Rasulullah saw., panutan kita dan orang yang suci dari dosa, mengajari kita cara memohon ampunan atas dosa-dosa tersembunyi yang selama ini kita anggap sebagai amal saleh. Bahkan ia sendiri memohon ampunan sebanyak seratus kali dalam sehari. Allah SWT. memerintahkan Rasulullah untuk memohon ampunan atas dosa-dosamu dan untuk orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan. (QS Muhammad [47]: 19). Ia adalah nabi yang menjadi teladan bagi kita dalam pertobatan. Ia mengajari kita untuk memohon kepada Allah agar Dia menghapuskan hawa nafsu, keegoan dan semua sifat buruk kita. Inilah tobat sejati. Menyesal berarti meninggalkan segala sesuatu kecuali zat Allah, dan ingin kembali kepada-Nya, kembali kepada tanah air kedekatan kepada-Nya, serta melihat wajah-Nya. Rasulullah saw. menjelaskan penyesalan semacam itu melalui sabdanya, “Ada hamba sejati Allah yang jasad mereka di sini namun hati mereka berada tepat di bawah Arsy Allah.” Hati mereka berada di langit kesembilan, di bawah Arsy. Itulah tingkatan terbaik yang dapat dicapai seorang hamba, karena di dunia yang hina ini mustahil seseorang dapat melihat zat-Nya. Di dunia ini, yang dapat dilihat hanyalah manifestasi sifat-sifat ketuhanan-Nya, yang dipantulkan pada cermin suci hati yang ikhlas. Ini sesuai dengan ucapan Sayidina Umar r.a., “ Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku.” Hati yang suci merupakan cermin tempat keindahan, karunia dan kesempurnaan Allah dipantulkan. Keadaan ini kadang-kadang juga disebut “wahyu”, yakni penyampaian sifat-sifat Tuhan. Untuk mencapai tingkatan itu, serta untuk membersihkan dan menerangi hati, dibutuhkan seorang guru yang telah matang, yang telah mencapai maqam penyatuan dengan Allah, dan yang dimuliakan oleh semua orang, di masa lalu maupun sekarang. Ia telah mencapai maqam kedekatan kepada Allah dan telah diutus kembali oleh Allah ke dunia ini untuk menyempurnakan orang-orang yang berhak namun belum berhasil. Untuk menjalankan tugas suci ini para wali Allah itu harus mengikuti jalan Rasulullah saw. dan meneladaninya meskipun tugas mereka berbeda dengan tugas para nabi a.s. Jika para nabi diutus untuk menyelamatkan kaum awam sekaligus kaum mukmin yang ikhlas, para wali diutus hanya kepada sekelompok orang, bukan kepada semua orang. Jika para nabi diberi kebebasan utuh dalam mengemban tugas, para wali harus mengikuti jalan dan teladan Nabi saw. Bahkan, jika ada seorang guru yang mengaku telah diberi kebebasan dan menganggap dirinya sama dengan seorang nabi, berarti ia kafir. Sabda Rasulullah saw. bahwa para sahabatnya yang saleh laksana para nabi di kalangan Bani Israil harus dipahami secara berbeda. Ketahuilah, para nabi yang datang setelah Musa a.s. semuanya mengikuti ajaran Musa a.s. tidak membawa ajaran baru. Mereka mengikuti hukum yang sama. Begitu pula para saleh di kalangan umat Muhammad saw. Mereka bertugas untuk mengajari manusia untuk bersikap ikhlas dan mengikuti ajaran Rasulullah saw. Meskipun dengan cara dan ketentuan yang mungkin baru dan berbeda. Hukum yang diajarkan mesti mengacu kepada hukum Rasulullah saw. seraya menjadi teladan bagi murid-murid mereka dalam amal saleh dan kebaikan. Mereka mendorong murid-murid mereka untuk mengamalkan ajaran agama serta menunjukkan kebahagiaan dan keindahannya. Tugas utama mereka adalah membimbing para pengikut mereka untuk menyucikan hati, yang merupakan tempat untuk membangun monumen ilmu. Dalam menjalankan tugas tersebut mereka meneladani murid-murid Rasulullah saw. yang disebut Ahlu Shufah, yang telah meninggalkan kesenangan duniawi demi keridhaan dan kedekatan kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka menyampaikan kabar persis seperti yang mereka terima langsung dari mulut Rasulullah saw. Saking dekatnya kepada Rasulullah saw. mereka mencapai tingkatan ruhani yang tinggi sehingga dapat berbincang mengenai rahasia mi’raj Nabi saw. bahkan sebelum beliau mengungkapkan rahasia ini kepada para sahabatnya. Kedekatan mereka kepada Rasulullah serupa dengan kedekatan Rasulullah kepada Allah SWT; mereka memegag teguh amanat berupa ilmu Allah yang dianugerahkan kepada mereka. Mereka adalah pengemban sebagian tugas kenabian, dan batin mereka aman sentosa di bawah perlindungan langsung Rasulullah saw. Tidak semua orang berilmu dapat mencapai tingkatan itu. Orang yang telah mencapainya lebih dekat kepada Rasulullah saw. daripada kepada anak-anak dan istri mereka sendiri. Mereka menjadi anak-anak ruhani Rasulullah saw. Mereka adalah pewaris sejati Rasulullah saw. Putra sejati mewarisi hakikat dan rahasia ayahnya, baik dalam wujud lahir maupun wujud batinnya. Rasulullah saw. menyebutkan rahasia ini sebagai “…ilmu khusus laksana harta tersembunyi yang hanya dapat ditemukan oleh orang yang mengenal zat Allah. Tetapi, ketika rahasia itu diungkapkan, orang yang sadar dan ikhlas tak ada yang mengingkarinya.” Ilmu itu diberikan kepada Rasulullah saw. pada malam Isra dan Mi’raj. Rahasia itu tersembunyi pada dirinya di balik 30 tabir. Ia tidak membukanya kecuali kepada para murid yang paling dekat kepadanya. Islam akan kokoh hingga hari kiamat berkat keberkahan dan rahmat rahasia ini. Seseorang dapat mencapai rahasia tersebut dengan pengetahuan batin mengenai apa yang tersembunyi. Berbagai macam ilmu lainnya, begitu pula seni dan keterampilan duniawi hanyalah bungkus bagi ilmu batin itu. Meski demikian, orang yang menguasai ilmu-ilmu “bungkus” itu boleh berharap bahwa suatu hari ia akan mendapatkan isinya. Sebagian mereka hanya mengetahui apa yang wajib dimiliki manusia dan sebagian lainnya hanya mengetahui apa yang dapat menyelamatkannya dari kesesatan. Kendati demikian, ada juga di antara mereka yang menyeru manusia kepada Allah dengan nasihat yang baik. Dari kelompok terakhir itu ada yang mengikuti jalan Nabi Muhammad saw. dan dibimbing memasuki pintu ilmu, yaitu Hadhrah Ali r.a. – pintu bagi orang-orang yang diundang oleh Allah SWT: Seluruh (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS An Nahl [16]: 125) Ada kesamaan antara ucapan dan maksud batin mereka. Perbedaan hanya terjadi pada hal-hal kecil dan cara pengungkapannya. Sebenarnya, ada tiga makna yang dapat ditarik dari ayat tersebut, yang juga merupakan tiga cara pencapaian ilmu – yang diamalkan secara berbeda, namun semuanya menyatu dalam hadis Rasulullah saw. Ilmu dibagi ke dalam tiga bagian, sebab tak seorang pun yang dapat mengemban, apalagi mengamalkan seluruh isi ilmu itu. Bagian pertama terkandung pada penggalan ayat: serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah. Bagian ini berhubungan dengan makrifat, hakikat, dan awal segala sesuatu. Pemiliknya harus, mengikuti teladan Rasulullah saw., mengamalkan ilmunya. Bagian ini hanya diberikan kepada orang yang jujur dan berani, pejuang ruhani yang akan membela kedudukannya dan berjihad menjaga ilmu itu. Rasulullah saw. menjelaskan keadaan kelompok ini dalam sabdanya: “Usaha sungguh-sungguh yang dilakukan orang yang jujur dapat menguncangkan gunung.” Kata ‘gunung’ dalam hadis itu berarti beratnya hati sebagian orang. Doa mereka akan dikabulkan. Apa pun yang mereka inginkan, akan terjadi; jika mereka menghendaki musnahnya sesuatu, ia akan musnah. Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa dikaruniai hikmah maka dia telah dikaruniai kebaikan yang banyak (QS Al Baqarah [2]: 269) Bagian kedua adalah ilmu lahir yang disebutkan dalam Alquran sebagai ‘dakwah yang baik’. Inilah bungkus makrifat. Orang yang menguasainya menyerukan kebaikan, mengajarkan amal baik, dan menjauhkan manusia dari segala larangan Allah. Orang yang berilmu akan menyeru dengan baik dan santun, sedangkan orang bodoh mengajar dengan kasar dan amarah. Bagian ketiga berkaitan dengan penataan urusan duniawi manusia. Itulah kulit ilmu agama, yakni bungkus makrifat. Bagian ini diperuntukkan bagi orang-orang yang mengatur manusia: keadilan atas manusia serta pemerintahan manusia atas manusia. Bagian akhir ayat itu menjelaskan tugas mereka: dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Orang yang termasuk kelompok ini merupakan manifestasi sifat Allah al-Qahhaar, Yang Mahaperkasa. Tugas mereka adalah memelihara ketertiban di tengah manusia sesuai dengan hukum Allah. Ilmu bagian ketiga ini melindungi ilmu lahir, seperti bungkus melindungi kulit. Ilmu lahir, yang merupakan kulit, melindungi isinya, yaitu ilmu batin – hakikat ilmu dan benih sumber kehidupan. Rasulullah saw. memberi nasihat, “Sering-seringlah menyerai orang bijak dan taatilah pemimpinmu yang adil. Allah SWT menghidupkan hati yang mati dengan ilmu sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan tumbuhan melalui hujan yang diturunkan-Nya.” Ia juga bersabda”Ilmu adalah harta yang hilang bagi orang yang beriman. Ia akan mengambilnya di mana saja ia temukan.” Bahkan, kata-kata kaum awam turun dari Lauh Mahfuzh. Takdir yang meliputi semua kejadian sejak permulaan hingga akhir. Lauh itu dijaga di alam akal kausal. Namun, kata-kata diucapkan sesuai dengan derajat seseorang. Kata-kata orang yang telah mencapai tingkatan hakikat bersumber langsung dari alam tinggi itu, alam kedekatan dengan Allah, tanpa perantara. Ketahuilah, semua kehendak kembali kepada sumbernya. Hati, sang hakikat, harus dibangkitkan, dihidupkan untuk menemukan jalan kembali kepada sumber Ilahinya. Ia harus mendengarkan seruan. Setiap orang harus menemukan seseorang yang menyampaikan seruan itu kepadanya. Dialah guru sejati. Ini merupakan fardhu ‘ain, kewajiban individual, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.” Ilmu itu adalah tingkatan ilmu yang tertinggi, makrifat, yang akan membawa seseorang menuju sumbernya, yaitu hakikat. Ilmu lainnya hanya diperlukan sesuai dengan kegunaannya. Misalnya, untuk kepentingan nafsu, manusia memerlukan ilmu duniawi. Allah meridhai orang yang meninggalkan hasrat duniawi, karena semua kenikmatan dunia merupakan perintang dalam perjalanan seseorang menuju Allah. Katakanlah, “Aku tidak meminta sesuatu pun kepadamu atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS Asy Syuraa [42]: 23) [[] (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment